Warga Inggris diimbau tinggalkan Tunisia

Sumber gambar, Getty

Semua warga Inggris diimbau meninggalkan Tunisia karena “serangan teroris lanjutan sangat mungkin terjadi”, kata Menteri Luar Negeri Philip Hammond.

Hammond mengatakan: “Walaupun kita tidak memiliki informasi yang mengatakan adanya bahaya langsung, kondisi ancaman telah meningkat dan meyakinkan kami adanya kemungkinan serangan teroris lainnya.”

Kementerian Luar Negeri Inggris memperkirakan ada 2.500 hingga 3.000 turis Inggris di Tunisia dan beberapa ratus warga Inggris yang tinggal di sana.

Sejauh ini tidak ada ancaman langsung, namun biro wisata akan menerbangkan warga Inggris pulang dalam beberapa hari ke depan.

Warga Inggris diiimbau menghubungi biro wisata mereka, dan yang berpergian sendiri disarankan pulang dengan penerbangan komersial.

Terdapat 30 warga Inggris di antara 38 wisatawan yang meninggal dunia dalam <link type="page"><caption> serangan 26 Juni lalu di Port El Kantaoui, dekat Sousse</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150627_dunia_tunisia_korban" platform="highweb"/></link>.

Saksi mata menyaksikan pelaku, yang belakangan diketahui bernama <link type="page"><caption> Seifeddine Rezgui</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150629_dunia_tunisia_penembakan" platform="highweb"/></link>, menembaki turis-turis di luar hotel bintang lima Hotel Rui Imperial Marhaba.

Menteri Luar Negeri Philip Hammond: "Serangan teroris lebih lanjut sangat mungkin terjadi"

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Menteri Luar Negeri Philip Hammond: "Serangan teroris lebih lanjut sangat mungkin terjadi"

Kementerian Luar Negeri Inggris mengatakan, walaupun pihak berwenang Tunisia telah menetapkan langkah-langkah keamanan lebih sejak serangan Juni itu, aparat belum menyediakan “perlindungan yang cukup bagi wisatawan Inggris”.

Nabil Ammar, duta besar Tunisia untuk Inggris, mengatakan kepada BBC bahwa imbauan pemerintah Inggris kepada warganya untuk meninggalkan Tunisia adalah “justru yang diinginkan teroris”.

Naveena Kotoor, seorang wartawan lepas di Tunis, ibu kota Tunisia, mengatakan warga di sana “terpukul” oleh peringatan turis yang dikeluarkan pemerintah Inggris.