Kritik kebijakan terhadap minoritas, pengacara HAM disidang di Cina

Seorang pengacara pembela hak-hak asasi manusia yang paling terkemuka di Cina, diadili atas tuduhan "menghasut kebencian etnis" serta "menyulut pertengkaran dan memprovokasi masalah".
Pu Zhiqiang memuat sejumlah komentar di media sosial mengejek Partai Komunis yang berkuasa dan mempertanyakan kebijakan terhadap kaum minoritas, terutama kaum muslim Uighur di Xinjiang, serta orang-orang Tibet.
Wartawan BBC John Sudworth, yang berada di luar pengadilan, mengatakan mengingat pengadilan berada di bawah kontrol ketat pemerintah, peluang Pu untuk terlepas dari vonis bebas hampir tidak ada dan dia kemungkinan akan menghadapi masa kurungan lama di dalam penjara.
Pu telah ditahan sejak Mei 2014, usai menghadiri sebuah acara untuk memperingati 25 tahun kekerasan di Lapangan Tiananmen. Ia berpartisipasi dalam sejumlah aksi protes Tiananmen semasa dirinya menjadi mahasiswa.


Sumber gambar, AFP
Di luar gedung pengadilan, sejumlah wartawan asing, diplomat dan kelompok kecil pengunjuk rasa Cina diseret oleh para petugas keamanan ke luar pengadilan.
Seorang diplomat AS membacakan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa para pengacara dan pimpinan masyarakat sipil di Cina tidak seharusnya tunduk pada "pengekangan yang terus-menerus" dan menyerukan Beijing untuk menegakkan hak-hak yang tercantum dalam konstitusi negara.
Seorang diplomat Uni Eropa dicegah dalam membuat pernyataan di luar pengadilan. Dikatakan bahwa persidangan mengangkat "sejumlah pertanyaan serius atas konsistensi undang-umdang dasar Cina yang menjamin kebebasan berkumpul, berpendapat dan berekspresi."
Kelompok-kelompok hak asasi internasional menggambarkan kasus Pu ini sebagai penganiayaan politik. Kelompok Amnesti Internasional mengatakan adanya “penyimpangan prosedural yang berulang '' dalam tuntutannya.
Pu Zhiqiang mewakili seniman Ai Weiwei dalam kasus penggelapan pajak. Ia juga berkampanye untuk penghapusan sistem kamp kerja paksa, di mana para tersangka ditahan selama bertahun-tahun tanpa diadili.










