Korban gempa Afghanistan berisiko meninggal kedinginan

Sumber gambar, AFP
Para pekerja kemanusiaan memperingatkan sejumlah warga Afghanistan dan Pakistan menjadi tuna wisma akibat gempa bumi yang terjadi pada Senin (26/10) lalu dapat meninggal karena tinggal di tempat terbuka.
Bantuan tenda dan selimut dibutuhkan segera bagi mereka yang terpaksa menghabiskan malam kedua di luar ruangan, kata mereka.
Terutama bagi anak-anak yang memiliki risiko kematian lebih tinggi karena udara dingin.
Ribuan orang bermalam ditengah udara dingin Selasa (27/10) lalu, menolak untuk kembali ke dalam bangunan karena khawatir akan gempa susulan, seperti dilaporkan oleh media Pakistan.
Sedikitnya 360 orang telah meninggal di dua negara yang diguncang gempa, tetapi jumlah korban dikhawatirkan akan bertambah, <link type="page"><caption> terutama di Afghanistan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151026_dunia_gempa_afghanistan" platform="highweb"/></link>.

Sumber gambar,
Wilayah terpencil dan pegunungan yang terkena gempa diguyur hujan deras dan salju selama dua hari terakhir, menurut pernyataan badan PBB untuk urusan anak-anak Unicef.
Komunikasi sangat buruk dan akses juga sulit serta adanya operasi keamanan merupakan hambatan utama dalam membantu para korban.
Anak-anak rentan
Direktur regional Unicef untuk Asia Selatan, Karin Hulshof, mengatakan kekhawatiran terutama bagi keselatan dan kesehatan anak-anak.
Pusat gempa berada di provinsi Badakhshan di Afghanistan, yang merusak jalanan, seperti disampaikan oleh petugas.
Kota Chitral di Pakistan yang paling dekat dengan pusat gempa, tetapi getarannya sampai ke ibukota Islamabad, dan Peshawar.

Sumber gambar, AP

Sumber gambar, AP
Data resmi menyebutkan lebih dari 1.600 orang di Pakistan terluka akibat gempa pada Senin, dan lebih dari 4.000 rumah hancur.
Menurut keterangan kantor Presiden Ashraf Ghani, gempa menghancurkan lebih dari 7.600 rumah di Afghanistan.
Pada 2005 lalu, gempa dengan kekuatan 7,6 skala richter terjadi di Kashmir Pakistan, yang menyebabkan lebih dari 75.000 meninggal.
Pada April lalu, gempa yang merupakan terburuk di dunia terjadi di Nepal, dengan 9.000 orang tewas dan sekitar 900.000 rumah rusak.









