Dituduh mata-mata, wartawan AS divonis bersalah oleh pengadilan Iran

Wartawan berkewarganegaraan AS dan Iran itu ditangkap pada Juli tahun lalu atas tuduhan mata-mata serta mengancam keamanan nasional Iran.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Wartawan berkewarganegaraan AS dan Iran itu ditangkap pada Juli tahun lalu atas tuduhan mata-mata serta mengancam keamanan nasional Iran.

Pengadilan Iran telah menjatuhkan vonis bersalah kepada wartawan Washington Post, Jason Rezaian, karena dituduh mata-mata.

Kepala deputi dan juru bicara pengadilan, Gholamhossein Mohseni Ejei tidak merinci isi putusan tersebut, tetapi yang bersangkutan dapat mengajukan upaya banding.

"Majelis hakim telah memvonis kasus ini," kata Gholamhossein Mohseni Ejeie, seperti dikutip kantor AFP, mengutip kantor berita Ira, Isna.

"Putusan ini dapat diajukan banding," katanya, yang memberi kesan kalau Rezaian telah dinyatakan bersalah.

Ejeie menambahkan: "Waktu untuk upaya banding belum berakhir. Jadi pengadilan menunggu dan jika tidak menerima banding ... putusan tersebut menjadi final."

Pimpinan The Washington Post mengatakan, pihaknya tidak memahami isi vonis pengadilan tersebut. Mereka juga mengaku tidak mengetahui apakah kemudian Rezaian akan dihukum.

Lebih lanjut editor eksekutif Washington Post, Martin Baron mengatakan putusan peradilan Iran "tidak jelas dan membingungkan".

'Memuakkan'

Mereka juga menyebut peradilan Iran merupakan "campuran memuakkan antara lelucon dan tragedi" dan "sama sekali tidak transparan dan adil."

Wartawan berkewarganegaraan AS dan Iran itu ditangkap pada Juli tahun lalu atas tuduhan mata-mata serta mengancam keamanan nasional Iran.

Pemerintah AS mengatakan tuduhan mata-mata itu sebagai "absurd".

Pada hari Minggu (11/10), Departemen Luar Negeri AS mengatakan sedang memantau nasib Rezaian dan meminta supaya dia dibebaskan.

Rezaian telah mengikuti empat persidangan yang digelar secara tertutup. Terakhir peradilannya digelar bulan Agustus lalu.

Persidangan atas Rezaian telah menuai kecaman dari keluarga, perusahaan tempat dia bekerja, pemerintah AS dan kelompok pembela kebebasan pers.