Konflik Suriah: Turki panggil dubes Rusia kedua kalinya

Jet tempur Turki yang mengejar pesawat-pesawat tempur Rusia.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Jet tempur Turki yang mengejar pesawat-pesawat tempur Rusia.

Turki kembali memanggil duta besar Rusia sehubungan dengan manuver pesawat tempur Rusia di wilayah udara Turki dalam rangka operasi militer di Suriah.

Rusia melakukan <link type="page"><caption> pelanggaran yang sama</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151005_dunia_turki_rusia" platform="highweb"/></link> pada Sabtu (3/10). Kala itu, dua pesawat F-16 Turki langsung mengejar.

Menurut Turki, pelanggaran untuk kedua kalinya terjadi pada Minggu (04/10).

<link type="page"><caption> NATO sudah mendesak Rusia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151005_dunia_nato_rusia" platform="highweb"/></link> untuk mengakhiri serangan udara "terhadap oposisi dan warga sipil Suriah". Namun, Rusia berkilah bahwa mereka menargetkan kelompok milisi ISIS dan kelompok milisi Islam lainnya.

Menurut Rusia, pelanggaran yang terjadi pada Sabtu hanya untuk beberapa detik dan karena cuaca buruk. Namun mereka belum menanggapi secara resmi insiden pada Minggu.

Penyusupan pada Sabtu terjadi dekat Yayladagi di selatan daerah Hatay, menurut Turki.

Pernyataan oleh 28 anggota NATO, termasuk Turki, mengingatkan akan "bahaya ekstrem dari perilaku tidak bertanggung jawab seperti itu" dan meminta Rusia untuk "berhenti sepenuhnya".

Gambar dari situs Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan bom yang dijatuhkan pada serangan udara, 5 Oktober 2015.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Gambar dari situs Kementerian Pertahanan Rusia menunjukkan bom yang dijatuhkan pada serangan udara, 5 Oktober 2015.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan bahwa Turki berhak untuk menembak jet-jet Rusia tersebut.

"Angkatan Bersenjata Turki mendapat instruksi yang jelas," kata Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu kepada Turkish TV. "Bahkan jika itu burung terbang, akan kami tangkap."

Dia menampik kemungkinan terjadinya "krisis Turki-Rusia" dengan mengatakan bahwa saluran komunikasi dua negara tetap terbuka.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric menyatakan rasa khawatir akan bahayanya "banyak negara dan banyak koalisi" yang meluncurkan serangan udara di Suriah.

Situasi tersebut, menurutnya "penuh bahaya". Dia meminta ada upaya fokus pada situasi politik daripada konflik.

Serangan udara Rusia mulai dilakukan pada Rabu, Moskow mengatakan mereka <link type="page"><caption> menargetkan posisi ISIS dan kelompok militan Islam lainnya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151002_dunia_rusia_suriah" platform="highweb"/></link>. Suriah, pada Senin, mengatakan bahwa serangan udara tersebut <link type="page"><caption> sudah direncanakan berbulan-bulan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150928_dunia_suriah_iran" platform="highweb"/></link>.

Putin sudah membantah bahwa ada korban sipil yang tewas dalam sepekan terakhir, namun kenyataan di lapangan membuktikan sebaliknya.

Turki dan anggota koalisi AS di Suriah mengatakan bahwa target utama mereka adalah kelompok oposisi Suriah yang melawan Presiden Assad.