Korut dan Korsel rundingkan reuni keluarga

Keluarga Korsel dan Korut terakhir mengadakan reuni pada Februari 2014 lalu.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Keluarga Korsel dan Korut terakhir mengadakan reuni pada Februari 2014 lalu.

Korea Utara dan Korea Selatan kini tengah menggelar perundingan untuk menyelenggarakan reuni untuk para keluarga yang terpisah akibat Perang Korea pada 1950-1953 lalu.

Perundingan dihadiri pejabat Palang Merah di Desa Panmunjom, yang berada di perbatasan kedua negara.

Jika perundingan itu berjalan mulus dan menghasilkan reuni, itu akan menjadi reuni terkini sejak Februari 2014.

Acara semacam itu sebelumnya beberapa kali digelar. Peminatnya mencapai puluhan ribu orang mengingat adanya ribuan keluarga yang terpisah dan tidak bisa mengabari satu sama lain saat Perang Korea yang memecah Korea menjadi dua negara yang berseteru.

Namun, dari sekian banyak peminat, hanya sedikit yang dipilih. Pada pertemuan terakhir, peserta mencapai 100 orang baik dari Korsel maupun Korut.

Ribuan keluarga terpisah dan tidak bisa mengabari satu sama lain saat Perang Korea berlangsung dan membuat Korea terpecah dua.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Ribuan keluarga terpisah dan tidak bisa mengabari satu sama lain saat Perang Korea berlangsung dan membuat Korea terpecah dua.

Perundingan soal reuni itu mengemuka setelah <link type="page"><caption> kedua negara terlibat ketegangan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150824_dunia_korsel_park" platform="highweb"/></link> pada pekan terakhir bulan lalu. Bahkan, berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Korsel, militer Korut telah mengerahkan kekuatan artileri dua kali lipat di perbatasan darat dan sekitar 50 kapal selam di perbatasan laut.

Perselisihan kedua negara bermula tatkala Korsel mengarahkan siaran propaganda ke wilayah Korut di perbatasan. Siaran itu berisi buletin berita, perkiraan cuaca, dan musik.

Korut lalu menembakkan artileri di sepanjang perbatasan untuk memprotes siaran propaganda tersebut. Korsel kemudian balas menembakkan artileri ke wilayah Korut dekat perbatasan kedua negara.

Namun, kata Presiden Korsel Park Geun-hye, siaran propaganda hanyalah reaksi dari aksi militer Korut yang menempatkan ranjau darat di zona demiliterisasi (DMZ).

Belakangan Korut mengatakan ‘menyesali’ insiden tersebut.