Presiden Korsel tuntut Korut minta maaf

Sumber gambar,
Presiden Korea Selatan Park Geun-hye berkeras tidak akan menghentikan siaran propaganda ke wilayah Korea Utara sampai pemerintah Korut meminta maaf secara resmi atas insiden ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ), awal Agustus lalu.
“(Korea Utara) harus membuat permintaan maaf dengan jelas…dan memastikan tiada lagi aksi provokasi. Posisi kami saat ini adalah membendung provokasi Utara. Namun, jika mereka melancarkan provokasi, respons kami tidak akan menunjukkan belas kasihan dan mereka akan benar-benar menyesal,” kata Park sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.
Ucapan Park mengemuka saat <link type="page"><caption> delegasi Korsel dan Korut tengah berunding di Desa Panmunjom</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150823_dunia_korsel_korut_runding" platform="highweb"/></link>, dekat perbatasan kedua negara, demi meredakan ketegangan.

Sumber gambar, n
Perundingan yang berlangsung sejak Sabtu (22/08) sore itu belum berakhir hingga Senin (24/08) pagi waktu setempat.
Pada Sabtu (22/08), Angkatan Darat Korea Utara (KPA) menyatakan <link type="page"><caption> pasukan garis depan berada dalam keadaan ‘bersenjata lengkap, siaga perang’</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150821_dunia_korut_mobilisasi" platform="highweb"/></link> sesuai dengan keinginan Kim Jong-un menjelang tenggat ultimatum.
Bahkan, berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Korsel, militer Korut telah mengerahkan kekuatan artileri dua kali lipat di perbatasan darat dan sekitar 50 kapal selam di perbatasan laut.

Sumber gambar, AP
Siaran propaganda
Perselisihan kedua negara selama beberapa hari terakhir bermula tatkala Korsel mengarahkan siaran propaganda ke wilayah Korut di perbatasan. Siaran itu berisi buletin berita, perkiraan cuaca, dan musik.
<link type="page"><caption> Korut lalu menembakkan artileri di sepanjang perbatasan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150820_dunia_korea_tembakan" platform="highweb"/></link> untuk memprotes siaran propaganda tersebut. Korsel kemudian balas menembakkan artileri ke wilayah Korut dekat perbatasan kedua negara.

Sumber gambar, n
Namun, kata Presiden Korsel Park Geun-hye, siaran propaganda hanyalah reaksi dari aksi militer Korut yang menempatkan <link type="page"><caption> ranjau darat di zona demiliterisasi (DMZ)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150810_dunia_korsel_ranjau" platform="highweb"/></link>.
Akibat ledakan tersebut seorang tentara Korea Selatan harus diamputasi kedua kakinya, sementara seorang tentara lain kehilangan satu kaki.
Korut membantah terlibat dalam ledakan ranjau itu. Negara tersebut justru mengeluarkan ultimatum agar Korsel menghentikan perang urat syaraf.










