Provinsi India tegang setelah komunitas Patel mengamuk

Delapan orang, termasuk polisi dan ayah serta anaknya, menjadi korban kerusuhan

Sumber gambar, ANKUR JAIN

Keterangan gambar, Delapan orang, termasuk polisi dan ayah serta anaknya, menjadi korban kerusuhan

Ketegangan berlanjut di Provinsi Gujarat di India setelah berlangsungnya kekerasan akibat kasta selama dua hari yang sudah menewaskan delapan orang.

Bentrokan-bentrokan baru dilaporkan terjadi semalam dan tentara sudah diturunkan untuk menjaga keamanan.

<link type="page"><caption> Jam malam diberlakukan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150826_dunia_gujarat_rusuh" platform="highweb"/></link> setelah anggota komunitas Patel menuntut jatah posisi pegawai negeri. Dalam aksi tuntutan itu, mereka mengamuk sampai bentrok dengan polisi dan warga lokal.

Bentrokan terjadi Selasa (25/08) malam saat polisi menahan sementara pemimpin masyarakat Hardik Patel yang beberapa jam sebelumnya memimpin aksi massa besar di Ahmedabad.

Delapan orang, termasuk seorang polisi dan ayah serta anak laki-lakinya, tewas dalam kekerasan tersebut. Setidaknya belasan polisi terluka.

Sekitar 40 kantor polisi dan 70 bus dibakar massa.

Ankur Jain, wartawan BBC Hindi di Ahmedabad, mengatakan bahwa laporan bentrokan yang terjadi semalaman antara polisi dan kelompok protes datang dari Surat, Vapi, dan Rajkot. Polisi yang terluka di Surat kemudian meninggal di rumah sakit pada Rabu.

Patel mengatakan "polisi yang bersalah membunuhi warga" harus "ditahan 48 jam dan didakwa atas pembunuhan".

Polisi sempat menahan tokoh masyarakat Hardik Patel yang provokatif sehingga memicu kerusuhan
Keterangan gambar, Polisi sempat menahan tokoh masyarakat Hardik Patel yang provokatif sehingga memicu kerusuhan

Dia juga sudah meminta pada warga di komunitasnya untuk berhenti mengirim sayur ke kota-kota.

Pemakaman korban kekerasan akan berlangsung pada Kamis di tengah pengamanan ketat, kata koresponden Ankur Jain.

Gujarat sangat rawan insiden kekerasan sejak 2002, saat kerusuhan bermotif agama menewaskan 1000 orang, kebanyakan muslim.

Komunitas Patel mencapai 20% dari populasi Gujarat. Mereka mengendalikan industri pemotongan serta pengasahan berlian yang menguntungkan. Mereka juga bagian dari pebisnis dan petani paling sejahtera di Gujarat.

Namun, mereka mengeluh tak mendapat tempat di universitas karena pemerintah yang memastikan warga di bawah struktur sosial India yang kompleks bisa masuk.

Mereka juga mengatakan bahwa perlambatan dalam industri kecil dan menengah di Gujarat menyebabkan makin sedikitnya lowongan kerja.

Komunitas Patel kini meminta pemerintah menjamin jatah di pusat-pusat pendidikan negara dan pekerjaan di pemerintahan.