Seruan Amnesty International untuk tangani pengungsi

Pengungsi Suriah

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Amnesty International memperkirakan empat juta warga Suriah harus meninggalkan rumahnya.

Amnesty International menyerukan para pemimpin dunia untuk bertindak lebih banyak dalam melindungi pengungsi dan pendatang.

Dalam laporan terbarunya, organisasi hak asasi manusia itu menggambarkan masalah tersebut sebagai salah satu tantangan di Abad ke-21.

Ditambahkan bahwa pemerintah-pemerintah dunia gagal dalam bertanggung jawab secara hukum dan juga secara kemanusiaan atas para pendatang di kawasan Mediterania serta juga pendatang <link type="page"><caption> umat Rohingya dan warga Bangladesh ke negara-negara Asia Tenggara.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150529_indonesia_rohingya_reunifikasi" platform="highweb"/></link>

Nasib sekitar empat juta warga Suriah yang harus mengungsi dari rumahnya karena konflik di negara itu juga menjadi salah satu fokus laporan AI.

Sebanyak 95% dari antara mereka mengungsi ke Turki, Libanon, Yordania, Irak, dan Mesir namun negara-negara yang menampung mereka, menurut AI, kewalahan menghadapi arus masuk pengungsi.

Pengungsi di Mediterranea

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Para warga asal Afrika sub-Sahara yang diselamatkan di kawasan Mediterania biasanya disebut pendatang dan bukan pengungsi.

Amnesty juga meminta pemerintah-pemerintah dunia mempertimbangkan kembali penggunaan istilah 'migran' atau 'pendatang' bagi orang-orang asal Afrika sub-Sahara yang menggunakan kapal dan alat transportasi lain untuk meninggalkan negara mereka.

<link type="page"><caption> Banyak dari mereka yang diselamatkan di kawasan Mediterania,</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150529_dunia_italia_imigrangelap" platform="highweb"/></link> misalnya, seharusnya disebut sebagai 'pengungsi' karena melarikan diri dari kawasan yang dilanda perang.

Dengan status pengungsi -menurut Direktur Masalah Global AI, Audrey Gaughran- maka mereka akan mendapat perlindungan internasional.

Menurut AI, jumlah warga yang 'terpaksa' meninggalkan rumahnya secara global sudah melewati 50 juta, yang pertama kali dicapai sejak Perang Dunia II.