Cina puji otoritas Hong Kong menjaga stabilitas

Polisi Hong Kong menangkap pimpinan unjuk rasa di kawasan Mong Kok, Rabu (24/12).

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Polisi Hong Kong menangkap pimpinan unjuk rasa di kawasan Mong Kok, Rabu (24/12).

Perdana menteri Cina, Li Keqiang memuji otoritas Hong Kong yang disebutnya mampu menjaga stabilitas dalam setahun terakhir.

Pernyataan ini ditayangkan televisi setelah digelar pertemuan Perdana menteri Cina dan Kepala eksekutif Hong Kong, Leung Chun-ying.

Li Keqiang menyatakan hal itu tanpa mengaitkan dengan unjuk rasa besar-besaran kelompok prodemokrasi yang <link type="page"><caption> menentang sistem pemilihan umum pimpinan pemerintahan Hong Kong</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/12/141215_hong_kong_demo" platform="highweb"/></link>, karena calon-calonnya ditentukan oleh Cina.

Namun demikian, dia mengatakan kebijakan dasar pemerintah pusat China terhadap wilayah semiotonom Hong Kong tidak akan berubah.

Membersihkan lokasi

Perdana menteri Cina, Li Keqiang mengatakan, kebijakan dasar Cina atas wilayah Hong Kong tidak akan berubah.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Perdana menteri Cina, Li Keqiang mengatakan, kebijakan dasar Cina atas wilayah Hong Kong tidak akan berubah.

Pemerintah Hong Kong dan Cina hingga saat ini sama sekali tidak bergerak dari posisinya dan tetap menggelar pemilihan umum 2017 dengan calon-calon yang ditentukan Beijing.

Unjuk rasa massal dimulai pada September lalu oleh kelompok mahasiswa maupun pegiat dari kelompok yang menamakan Occupy Central atau Duduki Pusat.

Walaupun polisi telah berulangkali <link type="page"><caption> membubarkan demonstrasi dan menangkap pimpinannya</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/12/141215_hong_kong_demo" platform="highweb"/></link>, para mahasiswa terus berupaya menggelar unjuk rasa di berbagai tempat di Hong Kong.

Sampai Kamis (24/12) kemarin, polisi Hong Kong terus mengambil tindakan dengan menangkapi pimpinan unjuk rasa dan membersihkan lokasi unjuk rasa di Mong Kok dari kerumunan massa.