Warga sipil Suriah "boleh" pergi dari Homs

Konflik sipil di Suriah telah memakan lebih dari 100.000 korban sejak 2011.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Konflik sipil di Suriah telah memakan lebih dari 100.000 korban sejak 2011.

Suriah akan mengizinkan perempuan dan anak-anak untuk pergi meninggalkan wilayah yang terkepung di Homs "mulai dari sekarang", kata mediator PBB dalam pertemuan di Jenewa, Lakhdar Brahimi, kepada wartawan.

Deputi Menteri Luar Negeri <link type="page"><caption> Suriah</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/suriah/" platform="highweb"/></link> Faisal Mekdad mengatakan perempuan dan anak-anak bebas untuk pergi. Dia menuduh kelompok bersenjata yang selama ini mencegah mereka untuk pergi.

Di sisi lain, Brahimi mengatakan pihak oposisi telah setuju untuk memberikan daftar orang-orang yang mereka tahan kepada pemerintah.

Dia mengatakan "terlalu dini" untuk menilai prospek adanya kesepakatan yang komperhensif.

Dia mengaku <link type="page"><caption> perundingan damai berlangsung lamban</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/01/140122_suriah_konferensi.shtml" platform="highweb"/></link> tetapi pada Senin (27/01) dia "berharap dua pihak akan membuat pernyataan umum tentang langkah ke depan."

Brahimi mengatakan dia berharap konvoi kemanusiaan dari PBB dan Palang Merah dapat pergi ke Homs pada Senin ini.

Ratusan orang dikabarkan berada dalam wilayah yang terkepung di Homs, termasuk beberapa di antaranya sakit parah.

"Pusat kota itu sudah dikepung dalam waktu yang sangat, sangat lama. Dan saya harap kami semakin dekat kepada solusi, setidaknya untuk warga sipil," kata Brahimi.

Jika semua berjalan baik, kesepakatan tentang Homs akan menjadi langkah nyata pertama dalam proses perdamaian, kata Wartawan BBC Bridget Kendall melaporkan dari Jenewa.

Sebelumnya, tujuh organisasi kemanusiaan utama menyebut krisis di Suriah sebagai <link type="page"><caption> krisis kemanusiaan terbesar sepanjang masa.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/01/140122_suriah_krisis_kemanusiaan.shtml" platform="highweb"/></link>