Demonstran Thailand incar markas tentara

Pengunjuk rasa di Thailand memaksa masuk ke kompleks markas tentara, pada hari keenam unjuk rasa anti-pemerintah.
Sejumlah pengunjuk rasa lainnya berkumpul di luar markas besar partai yang berkuasa sebagai bagian dari upaya untuk memaksa pemerintah mundur.
Pada hari Kamis (28/11) kemarin, Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mendesak demonstran untuk mengakhiri protes di jalan, setelah <link type="page"><caption> selamat dari mosi tidak percaya di parlemen.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/11/131128_thailand_kudeta.shtml" platform="highweb"/></link>
Tapi pemimpin protes, Suthep Thaugsuban, menolak permohonannya.
"Kami tidak akan membiarkan mereka bekerja lagi " kata mantan anggota parlemen senior oposisi itu dalam pidato pada Kamis malam.
Setidaknya 1.000 pengunjuk rasa memaksa masuk ke kompleks markas tentara dengan membuka paksa gerbang.
Juru bicara militer, Kolonel Sansern Kaewkamnerd, mengatakan para pengunjuk rasa berhasil masuk ke halaman tetapi tidak di dalam bangunan.
"Kami akan membuat mereka mengerti bahwa ini adalah area keamanan dan kita akan meminta mereka untuk pergi,'' katanya seperti dikutip oleh kantor berita Associated Press.

Wartawan BBC Jonah Fisher yang berada di lokasi kejadian mengatakan demonstran berkumpul di halaman luar gedung mendengarkan pidato dari para pemimpin di panggung yang telah didirikan.
Mereka mendesak tentara untuk keluar dan mendukung para demonstran, kata wartawan kami.
"Kami ingin tahu di sisi mana tentara berdiri," kantor berita Reuters mengutip seorang pengunjuk rasa mengatakan.
Wartawan kami menjelaskan suasana di tempat dalam keadaan baik dan pihak berwenang tampaknya ingin menghindari konfrontasi.
Sementara keamanan diperketat di sekitar kantor pusat partai berkuasa Pheu Thai, di mana lebih banyak pengunjuk rasa berkumpul.
"Kami mengerahkan dua kompi polisi [sekitar 300 petugas] di markas Partai Pheu Thai setelah mereka meminta perlindungan " kata kepala polisi nasional wakil Worapong Siewpreecha kepada kantor berita AFP.









