NATO: militer Suriah masih gunakan rudal ala Scud

Bukti rudal scud
Keterangan gambar, Oposisi mengatakan ada bukti militer Suriah menembakkan rudal Scud.

Sekjen NATO, Jenderal Anders Fogh Rasmussen, mengatakan pemerintah Suriah masih memakai rudal balistik jarak pendek untuk menahan laju tentara pemberontak.

Rasmussen mengatakan pemakaian rudal ala Scud ini menunjukkan rezim di Damaskus makin putus asa.

"Saya sangat menyayangkan tindakan militer Suriah. Ini menandakan rezim Suriah yang di ambang kehancuran ini kian putus asa," kata Jenderal Rasmussen kepada para wartawan di Brussels, hari Jumat (21/12).

Seorang sumber di NATO kepada kantor berita Reuters mengatakan bahwa pengintaian menunjukkan beberapa rudal sejenis Scud ditembakkan pada Kamis pagi.

Pekan lalu NATO dan Amerika Serikat mengatakan lebih dari enam rudal ditembakkan dari Damaskus ke wilayah Suriah utara.

Disanggah Suriah

Militer Suriah diyakini memiliki akses terhadap roket artileri dan rudal jarak pendek, beberapa di antaranya bisa dilengkapi dengan senjata kimia.

Persenjataan tersebut termasuk rudal buatan Soviet SS-21 Scarab dan rudal Scud-B.

"Kenyataan bahwa rudal-rudal ini dipakai di Suriah menunjukkan perlunya pertahanan yang efektif untuk melindungi sekutu kami Turki," kata Rasmussen, mengacu pada keputusan NATO menempatkan penghancur rudal di perbatasan Turki-Suriah.

Pada Kamis malam para pejabat AS juga mengatakan militer yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad melanjutkan menembakkan rudal ke posisi-posisi pemberontak dalam beberapa hari terakhir.

Menanggapi pernyataan ini, militer Suriah mengatakan mereka tidak menggunakan rudal untuk menembak posisi pemberontak.