Pembicaraan nuklir Iran digelar di Moskow

Fasilitas nuklir Iran

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Fasilitas nuklir Parchin, Iran diyakini tempat penelitian senjata nuklir.

Putaran terbaru pembicaraan terkait program kontroversial dijadwalkan segera dibuka di ibukota Rusia, Moskow.

Pembicaraan dua hari antara Iran akan bertemu dengan enam negara terkuat dunia ini digelar setelah pertemuan di Istanbul dan Baghdad dalam dua bulan terakhir menemui jalan buntu.

Awal bulan ini, badan pengawas nuklir PBB IAEA mengakui bahwa serangkaian pertemuan dengan Iran berakhir tanpa kemajuan berarti.

Wartawan BBC di Moskow James Reynolds melaporkan dalam pertemuan ini keenam negara -Inggris, AS, Cina, Russia, Prancis dan Jerman- akan menyampaikan kembali tiga tuntutan mereka

Keenam negara itu, lanjut Reynolds, menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium hingga 20%, menghentikan ekspor uranium 20% dan menutup fasilitas pengayaan uranium bawah tanah di dekat kota Qom

Sebagai imbalannya, keenam negara ini akan menyiapkan tawaran bantuan dengan mengedepankan langkah-langkah keamanan nuklir.

Tetapi, masih menurut laporan James Reynolds, Iran menganggap tawaran itu jauh dari memadai.

Cabut sanksi

Teheran menginginkan tawaran yang lebih baik yaitu menginginkan Barat mencabut sanksi, termasuk embargo minyak Uni Eropa serta sanksi AS terhadap Bank Sentral Iran.

Teheran juga mendesak agar hak Iran memperkaya uranium harus diakui tanpa syarat.

Badan tenaga atom internasional (IAEA) selama ini berupaya untuk bisa masuk ke sejumlah fasilitas nuklir Iran termasuk salah satu fasilitas yang diduga memproduksi senjata nuklir di Parchin.

Namun, kepala pengawas IAEA Herman Nackaerts mengatakan awal bulan ini bahwa macetnya pembicaraan di Wina -markas IAEA- dirasa sangat mengecewakan.

November tahun lalu, sebuah laporan IAEA mengklaim Iran telah melakukan aktivitas yang relevan dengan pengembangan persenjataan nuklir.

Meski terus dituding tengah mengembangkan persenjataan nuklir, Iran terus menegaskan negeri itu hanya mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai.