Kasus pembunuhan kandidat capres Ekuador: Geng kriminal menebar teror di negara yang dahulu aman

Sumber gambar, EPA
- Penulis, Vanessa Buschschlüter
- Peranan, Editor Amerika Latin, BBC News Online
"Di sini, kita membayar demokrasi dengan nyawa."
Kata-kata yang diserukan Fernando Villavicencio ke mikrofon pada suatu acara kampanye sesaat sebelum tewas dihujani peluru, pada Rabu (09/08) lalu, mungkin dianggap lebay beberapa tahun lalu atau mungkin dianggap sebagai retorika yang berbunga-bunga.
Tetapi kata-katanya terbukti benar. Villavicencio, salah satu kandidat calon presiden dalam pilpres yang akan datang, ditembak mati ketika dia hendak meninggalkan acara kampanye di ibu kota Ekuador, Quito.
Pembunuhan Villavicencio bukanlah insiden tunggal.
Seorang wali kota ditembak saat sedang memeriksa pekerjaan publik, mayat-mayat digantung di jembatan, dan pemimpin geng menerbitkan video mengancam akan membunuh politikus kecuali mereka menuruti kemauannya.
Rangkaian kekerasan ini mendominasi pemberitaan di negara yang sebelumnya dikenal karena keamanannya.
Baca juga:
Pada 2018, tingkat pembunuhan hanya 5,8 per 100.000 penduduk. Mayoritas populasinya mengatakan kepada jajak pendapat Gallup mereka merasa aman berjalan sendirian pada malam hari.
Pada 2022, tingkat pembunuhan Ekuador telah meningkat lebih dari empat kali lipat dan persepsi keamanan warga pun anjlok, beserta kepercayaan mereka terhadap polisi.
Agaknya aman bila kita berasumsi bahwa seandainya jajak pendapat dilakukan lagi sekarang, persentase warga yang merasa aman akan jauh lebih rendah.
Bagaimana Ekuador, negara yang sampai baru-baru ini dianggap sebagai tempat aman bagi turis maupun warga lokal, menjadi negara tempat politikus yang terpilih secara demokratis ditembak mati?
Jawabannya adalah geng - dan geografi.
Ekuador terletak di antara Kolombia dan Peru, dua produser kokain terbesar di dunia.

Produksi kokain baru-baru ini mencapai rekor tertinggi, menurut United Nations Global Report on Cocaine 2023.
Kolombia dan Peru, tempat daun koka - bahan mentah yang digunakan untuk membuat kokain - ditanam, ada di pusat perdagangan ilegal yang menjangkau banyak wilayah di dunia.
Dan ketika produksi naik, begitu pula penyitaan narkoba yang dilakukan oleh polisi di seluruh dunia.
Kolombia, khususnya, sudah puluhan tahun berusaha membendung peredaran kokain dan kepolisiannya mendapatkan pelatihan serta dukungan dari AS.
Baca juga:
Namun, saat kepolisian mengerahkan sumber daya demi mengganggu peredaran kokain, geng-geng yang memperdagangkan narkotika juga menjadi lebih mendunia.
Baca juga:
Setelah penumpasan besar-besaran mempengaruhi kelompok pemberontak Kolombia, Farc - dahulu pemain besar perdagangan kokain - banyak pemain baru telah muncul dan membentuk aliansi jauh dari perbatasan Kolombia.
Kartel narkoba Meksiko dan kelompok kriminal dari Balkan telah berhasil menjejakkan kaki di Amerika Selatan.
Kelompok-kelompok ini amat tertarik untuk mengeksplorasi cara-cara baru untuk mengirimkan kokain yang diproduksi di Kolombia ke pembeli di Eropa dan Amerika Serikat.
Setelah area-area tanpa hukum di Kolombia berada di bawah kendali tentara negara menyusul perjanjian damai yang ditandatangani pemerintah Kolombia dan pemberontak Farc pada 2016, kebutuhan akan rute baru menjadi kian mendesak.
Kelompok-kelompok kriminal transnasional ini semakin melirik Ekuador sebagai negara transit yang menarik untuk pengiriman narkoba mereka.

Sumber gambar, Reuters
Perbatasannya yang bolong-bolong dengan Kolombia, infrastrukturnya yang baik, dan pelabuhannya yang besar di pantai Pasifik - seperti Guayaquil - membuat Ekuador secara geografis menguntungkan bagi geng-geng ini.
Aparat keamanan Ekuador juga tidak punya banyak pengalaman berurusan dengan kartel yang kuat, yang berarti mereka tidak siap menghadapi kriminal bersenjata berat.
Tidak butuh waktu lama bagi sindikat kejahatan transnasional untuk menyusup ke geng-geng lokal, yang sampai saat itu hanya melakukan kejahatan-kejahatan remeh seperti pemerasan.
Banyak dari aliansi baru ini ditempa di dalam penjara Ekuador dan di balik jeruji besi itulah gelombang kekerasan dan kebrutalan yang sekarang telah menyebar ke kota-kota di Ekuador pertama kali meletus.
Baca juga:
Geng-geng yang terhubung dengan kartel-kartel yang bersaing di Meksiko berhadapan di penjara, memutilasi satu sama lain dengan senjata buatan sendiri, dan memenggal kepala musuh-musuh mereka untuk dipamerkan.
Ratusan narapidana tewas dalam tawuran mematikan di penjara Ekuador yang penuh sesak selama beberapa tahun terakhir. Beberapa insiden paling mematikan terjadi di penjara El Litoral di Guayaquil.
Upaya untuk memadamkan kekerasan dengan memindahkan tahanan ke penjara lain tampaknya malah menyebarkan masalah ini ke seluruh negeri.

Sumber gambar, Getty Images
Bulan lalu, 136 penjaga disandera oleh narapidana yang menginisiasi beberapa kerusuhan secara simultan di penjara-penjara di seluruh negeri.
Dan meskipun banyak pemimpin geng di Ekuador berada di balik penjara, kekerasan yang mereka lepaskan tidak dibatasi oleh jeruji besi.
Melalui ponsel yang diselundupkan ke penjara, mereka menjalankan usaha kriminal mereka di luar dan memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap menghalangi mereka.
Fernando Villavicencio diancam seminggu sebelum dia tewas ditembak anggota Los Choneros, sebuah geng yang dinamai berdasarkan kota Chone, di Ekuador barat.
Los Choneros punya hubungan dengan kartel Sinaloa, yang mantan pemimpinnya, Joaquín "El Chapo" Guzmán dipenjara di AS.
Disokong oleh uang dari sekutu baru mereka di luar negeri serta kekuatan yang ditunjang oleh senjata api kaliber tinggi yang diselundupkan dari AS melalui Meksiko, geng-geng ini telah menjadi musuh yang tangguh.

Sumber gambar, Reuters
Tidak banyak yang berani menentang mereka secara terang-terangan. Fernando Villavicencio adalah salah satunya.
Bahkan setelah diperingatkan oleh Los Choneros untuk tidak menentang geng tersebut atau bahkan menyebutkan nama mereka, Villavicencio tetap setia pada slogan kampanyenya: "Sudah waktunya untuk mereka yang berani".
"Mereka [geng] berkata akan menghancurkan saya, tetapi saya tidak takut pada mereka," katanya dalam sebuah video yang diunggah ke internet tak lama setelah dia diancam.
Villavicencio mendapatkan perlindungan polisi, tetapi dia terus berkampanye. Beberapa saat sebelum kematiannya, dia bersalaman dengan para pemilih.
Tidak lama setelah pembunuhannya yang brutal, muncul sebuah video yang menunjukkan beberapa pria bertopeng mengaku sebagai pelakunya dan mengancam kandidat presiden lainnya.
Orang-orang bertopeng itu berkata mereka bukan dari Los Choneros, tetapi geng yang menyebut dirinya Los Lobos (Gerombolan Serigala), yang punya kaitan dengan organisasi kriminal kuat Meksiko lainnya, Kartel Generasi Baru Jalisco.
Video lain muncul beberapa jam kemudian, di mana orang-orang yang mengaku sebagai Los Lobos membantah telah memainkan peran apa pun dalam pembunuhan itu.
"Kami tidak menutupi wajah kami (...) Video di mana pria-pria bertopeng dengan senapan serbu berpura-pura menjadi anggota organisasi kami sama sekali palsu."
Kelompok pria dalam video kedua mengatakan video pertama diunggah untuk "mengacaukan negara dan menyalahkan Los Lobos atas tragedi yang terjadi di negara kita".
Kepolisian belum membeberkan siapa di balik pembunuhan Fernando Villavicencio. Namun, fakta bahwa seorang bakal calon presiden dapat dibunuh saat berada di bawah perlindungan polisi di sebuah acara publik di ibu kota akan membuat warga Ekuador semakin mengkhawatirkan keselamatan mereka.













