Perang Ukraina: Protes seruan mobilisasi Putin, lebih 1.300 orang ditangkap di Rusia, polisi antihuru-hara dikerahkan, tiket ke luar negeri terjual habis

Demo anti mobilisasi di Rusia

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Tak kurang 1.300 warga Rusia yang menentang mobilisasi militer parsial ditangkap di beberapa kota, termasuk Moskow dan St Petersburg.

Aparat keamanan Rusia menangkap lebih 1.300 orang yang memprotes keputusan Presiden Putin memobilisasi 300.000 tentara cadangan untuk bertempur di Ukarina.

Data penangkapan pemrotes ini diungkap kelompok hak asasi manusia Rusia, OVD-Info, hari Kamis (22/09/2022).

Foto-foto menunjukkan polisi dengan pakaian lengkap antihuru-hara mengambil tindakan keras menghadapi para pemrotes yang turun ke jalan di ibu kota Moskow dan di St Petersburg.

Puluhan orang juga ditangkap di Irkutsk dan kota-kota Siberia lainnya, serta Yekaterinburg.

Sementara itu, tiket pesawat dari Rusia ke luar negeri terjual habis dengan cepat setelah pengumuman Vladimir Putin.

Pada hari Rabu (21/09), Presiden Putin memerintahkan mobilisasi parsial, yang berarti sekitar 300.000 tentara cadangan akan direkrut untuk mendukung pasukan Rusia yang mengalami kemunduran di medan perang di Ukraina timur akhir-akhir ini.

Baca juga:

Demo anti mobilisasi di Rusia

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Polisi terlihat memukuli pemrotes dengan tongkat dalam aksi yang oleh aparat keamanan disebut 'demonstrasi ilegal'.

Keputuan mobilisasi ini diambil sehari setelah wilayah pendudukan Ukraina mengumumkan referendum cepat untuk bergabung dengan Rusia.

Dalam sambutan yang dikutuk oleh Ukraina dan sekutunya, Putin menekankan akan menggunakan "semua cara yang tersedia" untuk melindungi wilayah Rusia - termasuk menyiratkan penggunaan senjata nuklir.

Keterangan video, Rekaman aksi penangkapan saat demonstrasi anti-perang di Moskow.

Peringatan keras ke pengunjuk rasa

Demo anti mobilisasi di Rusia

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Aksi unjuk rasa di Rusia dihadang dengan polisi yang berpakaian antihuru-hara.

Kantor kejaksaan Moskow pada hari Rabu memperingatkan, seruan di internet untuk bergabung dengan protes jalanan atau berpartisipasi di dalamnya dapat dikenakan hukuman hingga 15 tahun penjara.

Netizen yang menyebarkan seruan itu dapat dituntut dengan undang-undang yang melarang mendiskreditkan angkatan bersenjata, menyebarkan "berita palsu" tentang operasi militer Rusia di Ukraina, atau mendorong anak di bawah umur untuk berdemo.

Hukuman keras di Rusia saat menyebarkan "disinformasi" tentang perang Ukraina dan intimidasi polisi terhadap para aktivis anti-Putin telah membuat aksi protes anti-perang publik jarang terjadi.

Tetapi, kelompok oposisi anti-perang, Vesna menyerukan protes yang meluas, dan di Telegram dilaporkan banyak penangkapan di seluruh Rusia.

Sebuah klip video dari Yekaterinburg menunjukkan polisi dengan kasar menggiring pengunjuk rasa ke dalam bus.

Vesna menyebut aksinya "tidak untuk mogilisasi" - permainan kata-kata, karena "mogila" dalam bahasa Rusia berarti kuburan.

Protes Moskow - bentrok dengan polisi, (21/09).

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Bentrok terjadi di Moskow saat polisi melakukan penangkapan

Pavel Chikov, pengacara untuk kelompok hak asasi manusia Rusia, Agora, mengatakan lembaganya telah menerima 6.000 pertanyaan ke hotline sejak Selasa pagi, dari warga Rusia yang menginginkan informasi tentang hak-hak tentara.

Sementara itu, penerbangan ke tujuan populer seperti Istanbul di Turki dan Yerevan di Armenia mengalami lonjakan, dan harga kursi yang tersisa meroket tajam.

Harga penerbangan dari Moskow ke Istanbul atau Dubai mencapai Rp135 juta untuk kelas ekonomi sekali jalan menyusul pengumuman Putin, Associated Press melaporkan.

'Benar-benar semua orang takut'

Vesna slogan on Telegram

Sumber gambar, Vesna/Telegram

Keterangan gambar, Di Telegram kelompok oposisi Vesna menyerukan demonstrasi anti-perang

Langkah mobilisasi tentara cadangan oleh Kremlin diambil menyusul kerugian besar di Ukraina, di mana pasukan Kyiv telah merebut kembali wilayah yang luas di timur Kharkiv.

Kontrol Presiden Putin atas media pemerintah telah memastikan banyak orang Rusia mendukung klaimnya bahwa pemerintah "neo-Nazi" Ukraina dan NATO mengancam Rusia.

Ditambah, klaimnya Putin yang menyebut etnis Rusia di Ukraina harus dipertahankan.

Pada kenyataannya, pemerintah Ukraina dipilih secara demokratis dan tidak memiliki politisi sayap kanan.

Suara oposisi di Rusia atas keputusan Kremlin sulit diukur, karena pembatasan media sangat ketat.

Gubernur regional pro-Putin di Rusia, yang sekarang harus mengorganisir mobilisasi, menyuarakan dukungan untuk itu.

"Kami tidak akan dilemahkan, terpecah, atau dimusnahkan," kata Gubernur Ulyanovsk, Alexei Russkikh.

"Wilayah kami, seperti yang lainnya di negara kami, memiliki tugas untuk memobilisasi warga untuk dinas militer."

Lalu, Gubernur Chelyabinsk, Alexei Teksler mengatakan, mobilisasi diperlukan untuk memastikan "kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial" Rusia.

Namun, para pemuda Rusia telah mengatakan kepada BBC tentang ketakutan mereka atas panggilan itu.

Matvey di St Petersburg berkata "Saya berharap itu tidak akan pernah terjadi". "Sekarang jelas bahwa Putin tidak akan mundur dan dia akan melanjutkan pertarungan bodohnya kepada warga Rusia terakhir."

Matvey menambahkan, "Saya seharusnya tidak direkrut selama langkah mobilisasi ini, tetapi tidak ada jaminan bahwa keadaan tidak akan menjadi lebih buruk".

Evgeny, warga Rusia berusia 31 tahun yang tinggal di Inggris, mengatakan kepada BBC: "Semua orang benar-benar takut, setiap orang mengirimkan informasi yang berbeda tentang mobilisasi. Sangat sulit untuk mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak. Tidak ada yang mempercayai pemerintah."

Putin serukan mobilisasi

Vladimir Putin

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi tentara cadangan ketika Ukraina berhasil merebut kembali kota-kota di Ukraina timur.

Vladimir Putin telah menyerukan mobilisasi militer, meski tidak dalam skala penuh, dengan menyatakan mereka yang terdaftar sebagai tentara cadangan akan dipanggil.

Putin mengatakan pasukan Rusia menghadapi operasi militer di barat, di garis depan sepanjang 1.000 kilometer di Ukraina.

"Saya kira penting untuk mendukung usul Kementerian Pertahanan untuk melakukan mobilisasi [militer], bukan dalam skala penuh, di Rusia. Saya ulangi: mobilisasi secara parsial. Hanya mereka yang terdaftar sebagai tentara cadangan yang akan dipanggil," kata Putin dalam pidato nasional, hari Kamis (21/09).

"Prioritasnya adalah mereka yang pernah berdinas di angkatan bersenjata, punya pengalaman dan keterampilan militer," kata Putin.

Sebelum dikirim ke medan-medan pertempuran, tentara cadangan ini akan menerima pelatihan.

Ia menambahkan dekrit mobilisasi militer secara parsial sudah ditandatangani.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, ada sekitar dua juta tentara cadangan di negara tersebut.

Beberapa laporan menyebutkan, jumlah yang dipanggil saat ini sekitar 300.000 personel.

Dalam kesempatan ini, Putin mengatakan Rusia akan mendukung referendum di Luhansk, Donetsk, Kherson dan Zaporizhzhia untuk bergabung dengan Federasi Rusia.

Luhansk

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Rusia mengatakan akan mendukung referendum di beberapa kota Ukraina, termasuk Luhansk, untuk bergabung dengan Federasi Rusia.

Ia menuduh Barat "memulai perang melawan Rusia di Ukraina pada 2014".

"Kebijakan agresif anti-Rusia yang diambil Barat telah melampaui batas," kata Putin. Ia menuduh Barat berencana "menghancurkan Rusia dan menggunakan nuklir untuk menekan Rusia".

Ia mengatakan "akan menggunakan semua sumber daya yang ada" dan mereka yang menekan atau mengancam Rusia akan menghadapi bumerang.

Secara eksplisit, ia mengatakan "dirinya sedang tidak menggertak."

"Saya ingin mengingatkan ... Rusia memiliki banyak senjata penghancur, dan untuk beberapa jenis, lebih modern dari yang dimiliki negara-negara NATO," kata Putin.

"Jika integritas teritorial kita terancam, tak diragukan lagi kita akan mengerahkan semua sumber daya yang ada untuk melindungi Rusia dan rakyat Rusia. Ini bukan gertakan," katanya.

Putin 'panik'

Menanggapi pengumuman Putin, penasihat presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak, mengatakan hasil perang Rusia di Ukraina tidak seperti yang diharapkan Moskow.

Ia menggambarkan mobilisasi militer ini sebagai keputusan yang "sangat tidak populer".

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, sementara itu menyebut Presiden Putin "panik". Reaksi senada juga disampaikan oleh duta besar Amerika Serikat di Ukraina, Bridget Brink, yang menggambarkan keputusan Putin sebagai "tanda-tanda kelemahan Rusia".

Di Beijing, pemerintah China menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog untuk mengakhiri krisis Ukraina.

"Terkait krisis di Ukraina, posisi pemerintah China sudah jelas. Kami menyerukan semua pihak yang terlibat untuk menyepakati gencatan senjata dan mengakhiri perang melalui negosiasi dan dialog," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin.

Ditambahkan, China ingin semua pihak menemukan jalan keluar dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan sesegera mungkin.

"Kami berharap masyarakat internasional akan membantu menciptakan kondisi dan ruang untuk mencapai tujuan tersebut," kata Wang Wenbi.

Pengumuman mobilisasi militer dikeluarkan ketika militer Ukraina menguasai kembali sejumlah kota dan kawasan di timur, yang sebelumnya direbut dan dikuasai pasukan Rusia.