Gempa Afghanistan: 'Setiap jalan yang kami lalui, kami mendengar orang-orang berkabung atas kematian orang yang mereka cintai'

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Ali Hamedani & Thom Poole
- Peranan, BBC News
"Beberapa helikopter datang untuk membantu, tetapi apa lagi yang bisa mereka lakukan, selain memindahkan mayat."
Beginilah seorang warga Afghanistan menggambarkan situasi setelah gempa dahsyat yang menyebabkan lebih dari 1.000 orang meninggal.
Gempa terjadi pada dini hari, menyebabkan rumah-rumah runtuh dan merenggut nyawa orang-orang yang terlelap di dalamnya.
Tim penyelamat dalam beberapa kasus menggali reruntuhan dengan tangan kosong, jika mereka dapat mencapai daerah yang dihantam bencana.
Kawasan pedesaan di wilayah Afghanistan timur bukanlah tempat yang mudah untuk dikunjungi. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah.
Baca juga:

Sumber gambar, Getty Images
"Gempa terjadi sekitar pukul 01.30. Saya ketakutan. Saya mencoba mencari teman-teman saya. Beberapa dari mereka kehilangan kerabat. Ada yang baik-baik saja tetapi rumah mereka rusak," kata Ahmad Nour.
"Kami dapat mendengar sirene ambulans di mana-mana. Saya berbicara dengan orang-orang. Mereka sangat frustrasi.
"Mereka kehilangan orang yang mereka cintai. Mereka berada dalam situasi yang menyedihkan."
Sejumlah saksi di tempat kejadian menggambarkan seperti apa situasi putus asa.
"Setiap jalan yang kami lalui, kami mendengar orang-orang berkabung atas kematian orang yang mereka cintai," kata seorang jurnalis.

Sumber gambar, Getty Images
Sebuah foto yang dilihat oleh BBC menunjukkan seorang bocah perempuan- tiga atau empat tahun- diselimuti debu berdiri di depan sebuah rumah yang sebagian runtuh.
Dia tampak bingung dan tidak jelas apa yang terjadi dengan anggota keluarganya yang lain.
BBC sedang mencoba mencari tahu lebih banyak tentang kondisinya dan nasib anggota keluarganya.
Alem Wafa, 49 tahun, melakukan perjalanan ke salah satu bagian Provinsi Paktika yang terkena dampak paling parah demi membantu menyelamatkan mereka yang terperangkap.
"Tidak ada petugas resmi, tetapi orang-orang dari kota dan desa tetangga datang ke sini untuk menyelamatkan orang," ungkapnya.

Sumber gambar, EPA
"Saya tiba pagi ini dan saya sendiri menemukan 40 mayat. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang masih sangat kecil."
Warga Afghanistan sudah menghadapi kesulitan. Kemiskinan merajalela, dan negara ini telah mengalami konflik selama beberapa dekade.
Ketika kelompok Taliban menguasai Afghanistan tahun lalu, banyak negara memotong bantuan pembangunan bagi negara itu.
Pelayanan kesehatan yang ada tidak mungkin dapat mengatasi situasi darurat setelah gempa.
"Dokter dan perawat termasuk di antara korban," kata seorang dokter dari distrik Gayan di Provinsi Paktika.
"Kami tidak memiliki cukup tenaga dan fasilitas sebelum gempa, dan sekarang gempa telah menghancurkan sedikit yang kami miliki. Saya tidak tahu berapa banyak rekan kami yang masih hidup."
Badan-badan bantuan berusaha membantu, tetapi komunikasi dan penyediaan air menjadi tantangan. Mereka fokus untuk membawa makanan, obat-obatan dan tempat penampungan darurat bagi mereka yang membutuhkan.
"Kami memiliki tim kesehatan dan nutrisi keliling di distrik yang terkena dampak untuk memberikan pertolongan pertama kepada mereka yang terluka," kata Sam Mort dari Unicef.
"Kami juga memiliki truk bantuan yang saat ini dalam perjalanan dengan persediaan seperti perlengkapan kebersihan, selimut, tenda, serta terpal. Saat ini hujan turun yang juga mempersulit upaya penyelamatan."
"Dan tentu saja ini tantangan yang besar bagi orang-orang yang kelaparan, miskin, sakit, dan menderita kekeringan," tambahnya.











