Video viral seorang ibu dirantai lehernya di China, suami ditangkap atas tuduhan perdagangan orang

Sumber gambar, DOUYIN
Pihak berwenang di kota Xuzhou, China mengatakan mereka menangkap suami dari perempuan yang dalam video tampak dirantai lehernya di dalam gubuk di pedesaan.
Suami, bersama dua orang lainnya yang ditangkap, dituduh melakukan perdagangan orang. Sejumlah pejabat di Provinsi Jiangsu telah diberhentikan.
Pihak berwenang mengatakan perempuan itu berkali-kali diperdagangkan sebagai pengantin dan kini mengalami gangguan jiwa.
Ia mempunya delapan anak dengan suaminya yang sekarang. Para pejabat mendapat tekanan untuk mengambil tindakan karena masalah ini terus menjadi bahan perdebatan luas di media sosial di China meskipun disensor.
Sebelumnya, pihak berwenang menyatakan perempuan itu adalah korban perdagangan manusia.
Sebuah video yang menampilkan ibu delapan anak itu telah memicu kemarahan besar-besaran secara online ketika muncul Januari lalu.
Para pejabat awalnya menolak klaim perdagangan manusia, tetapi netizen yang marah terus menekan, beberapa dari mereka membuat seruan setiap hari agar diadakan penyelidikan.
Banyak dari mereka juga mengutarakan kecurigaan bahwa apa yang terjadi adalah penculikan dan pelecehan.
Baca juga:
Bahkan gencarnya berita kemeriahan seputar Olimpiade Musim Dingin di Beijing gagal mengalihkan perhatian publik dari masalah itu. Topik di Weibo tentang penderitaan perempuan itu diunggah 100 juta kali sejak berita tersebut pertama kali muncul.
Dia ditemukan dikurung di gudang tak berpintu di luar rumahnya, hanya mengenakan pakaian tipis, dalam suhu yang begitu dingin.
Dia lantas dibawa ke rumah sakit setelah keadaannya dipublikasikan oleh seorang vlogger Tiongkok.
Para pejabat mengatakan dia telah didiagnosis skizofrenia dan dalam pemeriksaan terkini mereka mengatakan dia baik-baik saja.
Kasus ini memicu kehebohan nasional di China sejak muncul pada akhir Januari dan memusatkan perhatian atas nasib perempuan di pedesaan dan perdagangan pengantin.
Bagaimana video itu bisa viral?
Video tersebut kali pertama diunggah ke jaringan media sosial Douyin dan direkam oleh seorang pria yang mengunjungi perempuan tersebut.
Sang pria tampak terkejut dengan apa yang ia saksikan sendiri. Setelah membawakan beberapa setel pakaian hangat, pria itu mengajukan beberapa pertanyaan ke sang perempuan. Namun, dia tidak bisa menjawab dengan jelas.
Video yang viral di China ini menimbulkan beragam pernyataan netizen. Beberapa di antara mereka mendesak aparat turun tangan dan membantu perempuan tersebut.
Banyak juga yang mendiskusikan topik penyiksaan perempuan dan hak-hak mereka yang terbatas di daerah pedesaan China. Ada pula yang mempertanyakan kondisi seperti apa yang dialami perempuan di Xuzhou, Provinsi Jiangsu tersebut sehingga dia bisa melahirkan delapan anak.
Mereka mempertanyakan bagaimana kasus ini bisa luput dari perhatian aparat setempat mengingat China punya aturan keluarga berencana yang ketat.
Dalam video itu, perempuan tersebut terlihat kebingungan dan tidak bisa memahami pertanyaan-pertanyaan vlogger yang berkali-kali menanyakan apakah dia merasa kedinginan. Saat itu dia hanya memakai baju relatif tipis untuk musim dingin.
Sejak diunggah Jumat (28/01) lalu, video itu telah memantik diskusi mengenai perdagangan manusia di kawasan pedesaan China yang miskin--walau informasi rinci mengenai kasus ini terbilang minim.
Aparat dikritik tak tanggap
Banyak warganet membandingkan film laris di China pada 2007 berjudul Blind Mountain, mengisahkan seorang perempuan yang diculik dan dijual sebagai budak.
Aparat menyampaikan pernyataan pada Jumat (28/01) yang membantah spekulasi mengenai penculikan. Mereka menyebut perempuan itu bermarga Yang dari Distrik Feng, Huankou.
Perempuan itu, menurut aparat, menikah dengan suaminya yang bernama Dong pada 1998 dan didiagnosa mengidap gangguan kesehatan mental. Keluarganya mengatakan kepada aparat setempat bahwa Ibu Yang kerap murka.
Akan tetapi, respons dari para pejabat semakin menambah amarah warganet yang mengritik aparat karena tidak tanggap terhadap kondisi penahanannya, penggunaan rantai pada lehernya, dan kesejahteraannya.
Baca juga:
Hujan kritik itu mendorong para pejabat untuk merilis pernyataan kedua pada Minggu (30/01), berisi informasi lebih lanjut mengenai sejarah keluarga Ibu Yang.
Aparat sebelumnya menyelidiki suaminya.
"Dong diduga telah melanggar hukum. Aparat keamanan telah meluncurkan penyelidikan," sebut pernyataan itu, sebagaimana dilaporkan media setempat.
Lebih lanjut, pernyataan tersebut menambahkan bahwa Ibu Yang kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit dan anak-anaknya diasuh negara. Para pejabat mengatakan Ibu Yang baru-baru ini didiagnosa mengidap schizophrenia.
Bagaimanapun, amarah publik terhadap kasus ini tak kunjung mereda. Warganet mendesak aparat setempat memikul tanggung jawab.
"Perempuan tersebut adalah manusia, bukan barang. Setelah melahirkan delapan anak selama 20 tahun, dia baru ditemukan sekarang? Semua departemen pemerintah dan lembaga yudisial yang terlibat tidak ada yang tidak bersalah," tulis seorang warganet.
Diskusi daring mengenai kasus ini disensor sejak viral pada Jumat lalu. Aparat telah menghapus sejumlah unggahan yang membahas perdagangan manusia dan menyensor sebuah frasa, yaitu "Delapan Anak Xuzhou".
Namun, ada frasa yang dipertahankan, yaitu "Pernyataan Aparat mengenai Perempuan Delapan Anak dari Distrik Xuzhou Feng".
Frasa itu dilihat lebih dari 190 juta kali dengan 56.000 komentar pada Senin (31/01). Sebagian besar diskusi bersikap kritis terhadap respons aparat setempat.









