Pangeran Harry mengaku bersama Meghan turut jadi sasaran kebencian puluhan akun di Twitter - Internet telah "diwarnai oleh kebencian, perpecahan dan kebohongan"

Pangeran Harry

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Duke dan Duchess of Sussex saat ini menetap di Amerika Serikat
Waktu membaca: 2 menit

Pangeran Harry menyatakan bahwa internet telah "diwarnai oleh kebencian, perpecahan dan kebohongan" sambil memperingatkan bahwa banyak keluarga "sedang dihancurkan oleh masalah tersebut."

"Itu tidak bisa dibenarkan," kata Harry dalam panel diskusi mengenai misinformasi di forum teknologi RE:WIRED di AS. Panel itu membahas apakah media sosial berkontribusi terhadap misinformasi dan kebencian online.

"Saya berharap sebagai manusia, sebagai individu-individu dengan kemampuan untuk memilih dan mengambil keputusan, mereka akan lebih peduli lagi kepada sesama, keselamatan masyarakat, dan juga memberi arti bagi internet.

Internet yang bebas namun juga memberi nilai yang baik bagi dunia dan generasi berikutnya dan sesudahnya," kata Harry, yang keluar dari status anggota Kerajaan Inggris dan kini tinggal di AS bersama keluarganya.

Baca juga:

Sesi pembicaraan ini terjadi dua minggu setelah sebuah perusahaan analisis data mengatakan bahwa 70% kebencian yang ditujukan kepada Harry dan istrinya di Twitter berasal dari 55 akun.

Harry mengungkapkan bahwa dia dan Meghan tidak berada di platform media sosial apa pun dan tidak akan kembali sampai ada perubahan.

Adik Pangeran William itu mengaku dari pengalamannya sendiri, dia dan istrinya menjadi sasaran sekelompok akun.

"Lebih dari 70% ujaran kebencian tentang istri saya di Twitter dapat ditelusuri ke kurang lebih 50 akun."

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

Megxit - kata yang digunakan untuk menggambarkan kepergian pasangan itu dari tugas kerajaan - adalah "istilah misoginis" yang dibuat oleh troll online sebelum memasuki penggunaan umum, kata Harry.

Ditanya tentang "penyensoran" dan keseimbangan antara kebebasan berbicara dan konten yang berpotensi berbahaya di media sosial, Harry mengatakan "argumen kebebasan berbicara agak mengalihkan perhatian dari masalah utama".

Dia berkata: "Seperti yang telah kami tegaskan, ini bukan hanya masalah media sosial, ini masalah media.

Pernah peringatkan bos Twitter soal penyerbuan Gedung Kongres AS

AS

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Penyerbuan Gedung Kongres Capitol Hill oleh massa pendukung Donald Trump pada 6 Januari 2021

Contoh lain bagaimana media sosial berkontribusi terhadap disinformasi dan kebencian online adalah kasus kerusuhan maut di Washington DC awal tahun ini.

Harry pun mengaku pernah memperingatkan bos Twitter, Jack Dorsey, mengenai kerusuhan politik di AS sehari sebelum penyerbuan di Washington DC terjadi.

Kerusuhan itu terjadi ketika gerombolan pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC pada 6 Januari 2021 demi menghentikan rapat pengesahan Kongres AS atas kemenangan Joe Biden, yang diklaim pendukung Trump bahwa pemilihan presiden telah dicurangi.

Peran yang dimainkan raksasa media sosial dalam memungkinkan serangan itu sedang diselidiki.

"Saya memperingatkan Dorsey bahwa platform-nya memungkinkan penyerbuan itu dilakukan," kata Harry, yang juga dikenal sebagai Duke of Sussex saat masih aktif sebagai anggota keluarga kerajaan Inggris.

"Email itu saya kirim satu hari sebelum kejadian, kemudian itu terjadi dan saya belum mendengar kabar dari Dorsey sejak saat itu," lanjut Harry.

Baca juga:

Dorsey selaku CEO Twitter belum memberi tanggapan terkait ini.

Sementara itu, investigasi atas insiden di Capitol masih berlanjut dengan lebih dari 670 orang didakwa karena terlibat.

Pada Selasa, komite kongres yang menyelidiki kerusuhan ini memanggil sejumlah pembantu terdekat Trump untuk menyampaikan bukti.

Di antaranya adalah mantan sekretaris pers Gedung Putih, penasihat kebijakan senior, dan asisten pribadi.

Penyelidikan itu juga tengah mencari tahu apakah Trump telah mengetahui penyerbuan itu sejak sebelum terjadi.

line

Lihat juga:

Keterangan video, Penyerbuan Gedung Capitol, Washington DC, AS