Gedung Capitol: Iran ejek AS dan sebut 'demokrasi Barat lemah' setelah kerusuhan oleh pendukung Trump

Kerusuhan para pendukung Trump di Gedung Capitol menyebabkan empat orang meninggal.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kerusuhan para pendukung Trump di Gedung Capitol menyebabkan empat orang meninggal.
Waktu membaca: 4 menit

Para pemimpin dunia mulai dari Iran, Turki, China hingga negara-negara sekutu Amerika Serikat seperti Jerman, Inggris dan India, mengecam aksi kekerasan di Washington DC, ketika sejumlah demonstran pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyerbu Gedung Capitol.

Kekerasan terjadi ketika Kongres Amerika Serikat (AS) hendak mengesahkan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden, sementara Trump berkukuh tidak mau mengakui kekalahannya. Kekerasan menyebabkan empat orang meninggal dunia.

Sidang gabungan Kongres untuk mengesahkan kemenangan presiden terpilih Joe Biden sempat ditangguhkan akibat penyerbuan tersebut pada Rabu (06/01) waktu setempat, namun sidang pleno berhasil dilanjutkan dan mengesahkan Joe Biden dan Kamala Harris sebagai presiden dan wakil presiden mendatang.

Hassan Rouhani

Sumber gambar, Kantor Presiden Iran/EPA

Keterangan gambar, Hassan Rouhani mengatakan kerusuhan di Washington, AS, mencerminkan kelemahan demokrasi Barat.

Menurut Presiden Iran Hassan Rouhani, kerusuhan itu mengungkap kelemahan demokrasi Barat.

Rouhani mengatakan Trump sebagai "orang yang tak sehat" dan menyatakan, "Kita saksikan apa yang terjadi saat persaingan menjadi ekstrem. Apa yang kita saksikan tadi malam dan hari ini di Amerika menunjukkan betapa lemahnya dan rentannya demokrasi Barat dan betapa lemahnya landasan."

peta capitol hill
peta capitol hill

China bandingkan peristiwa Hong Kong

Dalam wawancara dengan jaringan berita, Islamic Republic of Iran News Network, Rouhani mengatakan, kerusuhan itu diharapkan "dapat menjadi pelajaran" dan ia berharap Joe Biden dapat mengembalikan Amerika ke "posisi yang layak."

Pemerintah China, melalui Kementerian Luar Negeri, menyamakan kerusuhan di AS dengan protes prodemokrasi di Hong Kong pada tahun 2019. Ketika itu, pengunjuk rasa menyerbu dan merusak Dewan Legistalif atau parlemen Hong Kong.

"Ketika peristwa serupa terjadi di Hong Kong, sebagian orang Amerika dan media Amerika memberikan tanghapan berbeda," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying pada Kamis (07/01).

Hua Chunying

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Hua Chunying menggarisbawahi bahwa unjuk rasa di Hong Kong lebih "parah" tetapi tidak sampai jatuh korban.

Ia menambahkan peristiwa di Hong Kong jauh lebih "parah" dibandingkan di Washington tetapi "tak satu pun demonstran sampai meninggal".

Wakil Duta Besar Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy, menyamakan kekerasan di Washington dengan revolusi di Ukraina pada tahun 2014 untuk menggulingkan presiden dukungan Rusia, Viktor Yanukovich.

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan pihaknya mengajak "semua pihak" untuk berperilaku dengan "mengendalikan diri dan akal sehat".

Kerusuhan di Capitol dikecam banyak pemimpin dunia.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kerusuhan di Capitol dikecam banyak pemimpin dunia.

Dari India, negara demokrasi terbesar di dunia, Perdana Menteri Narendra Modi - yang mempunyai hubungan baik dengan Presiden Trump - mengatakan ia "sedih mendengar berita kerusuhan dan kekerasan" di Washington.

"Peralihan kekuasaan secara tertib dan damai harus berlanjut. Proses demokrasi tidak boleh dibiarkan ditumbangkan oleh protes-protes tak sah."

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia sangat sedih mengetahui apa yang terjadi di Kongres.

"Kami semua menyaksikan gambar-gambar penyerbuan ke Kongres AS kemarin, dan foto-foto itu membuat saya marah dan sedih," kata Merkel.

Dikatakan oleh Merkel, Presiden Trump sendiri harus bertanggungjawab karena tidak mau mengaku kalah.

Pendukung Trump menyerbu Capitol.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pendukung Trump menyerbu Capitol.

"Saya sangat menyesal bahwa Presiden Trump belum mengakui kekalahan sejak November dan juga tidak melakukannya kemarin.

Keragu-raguan tentang hasil pemilihan dikobar-kobarkan dan menimbulkan situasi yang membuat peristiwa tadi malam terjadi," jelasnya.

Supporters of U.S. President Donald Trump gather in front of the US Capitol Building in Washington

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Massa pendukung Presiden AS Donald Trump menyerbu Gedung Kongres AS.

Banyak pemimpin menyerukan perdamaian dan transisi kekuasaan yang tertib, serta menggambarkan apa yang terjadi sebagai "mengerikan" dan "serangan terhadap demokrasi".

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengecam kejadian itu dan menyebutnya sebagai "pemandangan yang memalukan".

"Amerika Serikat mewakili demokrasi di seluruh dunia dan sekarang sangat penting adanya transfer kekuasaan yang damai dan tertib," tulisnya di Twitter.

Sejumlah politikus Inggris lainnya mengikuti langkah Johnson dan mengkritik kekerasan yang berlangsung, termasuk pemimpin oposisi, Sir Keir Starmer, yang menyebutnya sebagai "serangan langsung terhadap demokrasi".

Pemimpin Skotlandia, Nicola Sturgeon, menyatakan melalui Twitter bahwa pemandangan dari Gedung Capitol "benar-benar mengerikan".

Hentikan X pesan, 1
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 1

1px transparent line

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengatakan: "Saya percaya pada kekuatan demokrasi AS. Kepresidenan baru Joe Biden akan mengatasi tahap yang menegangkan ini, menyatukan rakyat Amerika."

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengecam "serangan mengerikan terhadap demokrasi". Sementara, Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengatakan Trump dan pendukungnya "harus menerima keputusan akhir para pemilih Amerika dan berhenti menginjak-injak demokrasi".

Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, mengatakan dirinya mempercayai AS "untuk memastikan transfer kekuasaan secara damai kepada Biden. Adapun Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan dia berharap untuk bekerja sama dengan presiden terpilih dari partai Demokrat tersebut.

Hentikan X pesan, 2
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 2

1px transparent line

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg, turut bersuara dengan mengatakan bahwa hasil pemilihan "harus dihormati".

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengatakan warga Kanada "sangat terganggu dan sedih dengan serangan terhadap demokrasi".

"Kekerasan tidak akan pernah berhasil mengesampingkan keinginan rakyat. Demokrasi di AS harus ditegakkan - dan itu akan berhasil," tulisnya di Twitter.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengecam "pemandangan yang menyedihkan" itu dan mengatakan bahwa dia menantikan transfer kekuasaan secara damai.

Hentikan X pesan, 3
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 3

1px transparent line

Pemerintah Venezuela mengatakan bahwa "dengan kejadian yang disesalkan ini, Amerika Serikat mengalami hal-hal yang sama yang telah dipicunya di negara-negara lain akibat kebijakan-kebijakan agresinya".