Gedung Capitol: Iran ejek AS dan sebut 'demokrasi Barat lemah' setelah kerusuhan oleh pendukung Trump

Sumber gambar, Reuters
Para pemimpin dunia mulai dari Iran, Turki, China hingga negara-negara sekutu Amerika Serikat seperti Jerman, Inggris dan India, mengecam aksi kekerasan di Washington DC, ketika sejumlah demonstran pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyerbu Gedung Capitol.
Kekerasan terjadi ketika Kongres Amerika Serikat (AS) hendak mengesahkan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden, sementara Trump berkukuh tidak mau mengakui kekalahannya. Kekerasan menyebabkan empat orang meninggal dunia.
Sidang gabungan Kongres untuk mengesahkan kemenangan presiden terpilih Joe Biden sempat ditangguhkan akibat penyerbuan tersebut pada Rabu (06/01) waktu setempat, namun sidang pleno berhasil dilanjutkan dan mengesahkan Joe Biden dan Kamala Harris sebagai presiden dan wakil presiden mendatang.

Sumber gambar, Kantor Presiden Iran/EPA
Menurut Presiden Iran Hassan Rouhani, kerusuhan itu mengungkap kelemahan demokrasi Barat.
Rouhani mengatakan Trump sebagai "orang yang tak sehat" dan menyatakan, "Kita saksikan apa yang terjadi saat persaingan menjadi ekstrem. Apa yang kita saksikan tadi malam dan hari ini di Amerika menunjukkan betapa lemahnya dan rentannya demokrasi Barat dan betapa lemahnya landasan."


China bandingkan peristiwa Hong Kong
Dalam wawancara dengan jaringan berita, Islamic Republic of Iran News Network, Rouhani mengatakan, kerusuhan itu diharapkan "dapat menjadi pelajaran" dan ia berharap Joe Biden dapat mengembalikan Amerika ke "posisi yang layak."
Pemerintah China, melalui Kementerian Luar Negeri, menyamakan kerusuhan di AS dengan protes prodemokrasi di Hong Kong pada tahun 2019. Ketika itu, pengunjuk rasa menyerbu dan merusak Dewan Legistalif atau parlemen Hong Kong.
"Ketika peristwa serupa terjadi di Hong Kong, sebagian orang Amerika dan media Amerika memberikan tanghapan berbeda," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying pada Kamis (07/01).

Sumber gambar, Reuters
Ia menambahkan peristiwa di Hong Kong jauh lebih "parah" dibandingkan di Washington tetapi "tak satu pun demonstran sampai meninggal".
Wakil Duta Besar Besar Rusia untuk PBB, Dmitry Polyanskiy, menyamakan kekerasan di Washington dengan revolusi di Ukraina pada tahun 2014 untuk menggulingkan presiden dukungan Rusia, Viktor Yanukovich.
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan pihaknya mengajak "semua pihak" untuk berperilaku dengan "mengendalikan diri dan akal sehat".

Sumber gambar, Reuters
Dari India, negara demokrasi terbesar di dunia, Perdana Menteri Narendra Modi - yang mempunyai hubungan baik dengan Presiden Trump - mengatakan ia "sedih mendengar berita kerusuhan dan kekerasan" di Washington.
"Peralihan kekuasaan secara tertib dan damai harus berlanjut. Proses demokrasi tidak boleh dibiarkan ditumbangkan oleh protes-protes tak sah."
Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan ia sangat sedih mengetahui apa yang terjadi di Kongres.
"Kami semua menyaksikan gambar-gambar penyerbuan ke Kongres AS kemarin, dan foto-foto itu membuat saya marah dan sedih," kata Merkel.
Dikatakan oleh Merkel, Presiden Trump sendiri harus bertanggungjawab karena tidak mau mengaku kalah.

Sumber gambar, Getty Images
"Saya sangat menyesal bahwa Presiden Trump belum mengakui kekalahan sejak November dan juga tidak melakukannya kemarin.
Keragu-raguan tentang hasil pemilihan dikobar-kobarkan dan menimbulkan situasi yang membuat peristiwa tadi malam terjadi," jelasnya.

Sumber gambar, Reuters
Banyak pemimpin menyerukan perdamaian dan transisi kekuasaan yang tertib, serta menggambarkan apa yang terjadi sebagai "mengerikan" dan "serangan terhadap demokrasi".
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengecam kejadian itu dan menyebutnya sebagai "pemandangan yang memalukan".
"Amerika Serikat mewakili demokrasi di seluruh dunia dan sekarang sangat penting adanya transfer kekuasaan yang damai dan tertib," tulisnya di Twitter.
Sejumlah politikus Inggris lainnya mengikuti langkah Johnson dan mengkritik kekerasan yang berlangsung, termasuk pemimpin oposisi, Sir Keir Starmer, yang menyebutnya sebagai "serangan langsung terhadap demokrasi".
Pemimpin Skotlandia, Nicola Sturgeon, menyatakan melalui Twitter bahwa pemandangan dari Gedung Capitol "benar-benar mengerikan".
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 1

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengatakan: "Saya percaya pada kekuatan demokrasi AS. Kepresidenan baru Joe Biden akan mengatasi tahap yang menegangkan ini, menyatukan rakyat Amerika."
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengecam "serangan mengerikan terhadap demokrasi". Sementara, Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengatakan Trump dan pendukungnya "harus menerima keputusan akhir para pemilih Amerika dan berhenti menginjak-injak demokrasi".
Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, mengatakan dirinya mempercayai AS "untuk memastikan transfer kekuasaan secara damai kepada Biden. Adapun Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengatakan dia berharap untuk bekerja sama dengan presiden terpilih dari partai Demokrat tersebut.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 2

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Jens Stoltenberg, turut bersuara dengan mengatakan bahwa hasil pemilihan "harus dihormati".
Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau mengatakan warga Kanada "sangat terganggu dan sedih dengan serangan terhadap demokrasi".
"Kekerasan tidak akan pernah berhasil mengesampingkan keinginan rakyat. Demokrasi di AS harus ditegakkan - dan itu akan berhasil," tulisnya di Twitter.
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengecam "pemandangan yang menyedihkan" itu dan mengatakan bahwa dia menantikan transfer kekuasaan secara damai.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan, 3

Pemerintah Venezuela mengatakan bahwa "dengan kejadian yang disesalkan ini, Amerika Serikat mengalami hal-hal yang sama yang telah dipicunya di negara-negara lain akibat kebijakan-kebijakan agresinya".











