Carmel Budiardjo, pendiri TAPOL dan pejuang HAM dari kasus 1965, Aceh, Timor Leste serta Papua, tutup usia

Carmel Budiardjo

Sumber gambar, rightlivelihood

Keterangan gambar, Carmel Budiardjo.
    • Penulis, Heyder Affan dan Rohmatin Bonasir
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia

Carmel Budiardjo, pegiat hak asasi manusia yang berperan mengadvokasi berbagai pelanggaran HAM di Indonesia, mulai kasus 1965, Timor Leste, Aceh, serta Papua, meninggal dunia pada usia 96 tahun, Sabtu (10/07) di London, Inggris.

Twitter TAPOL - organisasi yang didirikan Carmel - dalam cuitannya menyebutkan "Dengan kesedihan besar, kami sampaikan meninggalnya Carmel Budiarjo, pendiri kami, pada Sabtu pagi pukul 09:00."

Semasa hidupnya, Carmel melalui TAPOL - singkatan dari Tahanan Politik - mengampanyekan dan mengadvokasi berbagai dugaan pelanggaran HAM berat di Indonesia.

"Dia bukan satu-satunya, tetapi dia berperan besar untuk memperjuangkan kemanusiaan di Indonesia. Kesadaran akan adanya pelanggaran HAM di Indonesia, suka-tidak suka, pasti akan melibatkan nama Carmel Budiardjo," ujar Andreas Harsono, pegiat organisasi Human Rights Watch (HRW) Indonesia.

Ketika sebagian tapol 1965 mulai dibebaskan pada 1977 setelah didesak oleh Presiden AS Jimmy Carter, perhatian Carmel terhadap persoalan pelanggaran HAM di Indonesia, makin meluas.

Baca juga:

Kemudian TAPOL mendokumentasikan peristiwa Tanjung Priok pada 1984, kekerasan dan pelanggaran HAM di Aceh hingga Timor Leste.

"Juga masalah di Papua," kata Andreas Harsono kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, Jumat (11/06).

'TAPOL bukan organisasi besar'

Di masa pemerintahan Orde Baru, Carmel dan organisasinya dianggap sebagai pihak yang selalu menghembuskan kabar negatif tentang Indonesia di panggung internasional.

Informasi yang dihimpunnya seringkali bertolak belakang dengan sikap resmi pihak berwenang Indonesia dan belum tentu boleh diwartakan di dalam negeri.

Namun Ketua Dewan TAPOL, Steve Aliston, mengatakan gambaran yang dibangun oleh pihak berwenang dan sebagian kalangan di Indonesia tentang Tapol "melenceng dari fakta".

Carmel Budiardjo

Sumber gambar, rightlivelihood

Keterangan gambar, Carmel Budiardjo mulai dikenal setelah terlibat mengadvokasi nasib tahanan politik 1965 yang dibuang ke Pulau Buru, di penjara atau kamp penempatan tanpa diadili karena dicurigai terlibat G30S.

"Mereka tidak tahu TAPOL menempati setengah kamar di rumah tingkat dua dengan dua kamar tidur di London selatan," ungkap Aliston, sambil terkekeh, dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia di London, Rohmatin Bonasir, pada Sabtu (12/06).

Ia kemudian mencontohkan peristiwa pemberian penghargaan Nobel Perdamaian kepada mantan Presiden Timor Leste Ramos Horta dan Uskup Ximenes Belo pada tahun 1996.

Ketika itu, Aliston mengingat, dirinya diwawancara oleh televisi BBC World Service atau CNN, sesaat setelah giliran Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas.

"Dalam proses interview itu, ia [Ali Alatas] menyebut ada organisasi-organisasi internasional dengan sumber daya besar, mencoreng nama Indonesia.

"Dan tentu, salah satu organisasi yang ia rujuk jelas-jelas adalah TAPOL," katanya.

"Itu mengingatkan pengalaman saya ketika tinggal di Indonesia dulu. Ada gambaran yang dibesar-besarkan oleh para pembuat kebijakan, kalangan politikus di Indonesia bahwa organisasi TAPOL sejajar dengan Chatham House [lembaga pemikir berpengaruh di London] atau sebuah lembaga pemikir kebijakan luar negeri di Washington.

Padahal, "TAPOL adalah Carmel dalam konteks itu. TAPOL bukan organisasi yang besar," tambahnya.

Jika sejak awalnya TAPOL mencetak buletin, selama 10 tahun belakangan organisasi itu beralih ke platform online.

Advokasi kasus Tapol '65, Timor Timur, Aceh, dan Papua

Dalam mengampanyekan permasalahan pelanggaran HAM semasa kebijakan DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh, mantan Ketua Komnas HAM Otto Syamsuddin Ishak menyebut Carmel mampu menghimpun informasi dari berbagai sumber, sehingga datanya layak dipercaya.

Otto mengaku menyaksikan sendiri ketika Carmel "membongkar semua dokumennya", di antaranya surat-surat dari berbagai sumber terkait masalah terutama di Aceh.

Carmel Budiardjo

Sumber gambar, rightlivelihood

Keterangan gambar, Semasa hidupnya, Carmel mendirikan organisasi TAPOL - singkatan dari Tahanan Politik - yang mengampanyekan dan mengadvokasi berbagai dugaan pelanggaran HAM berat di Indonesia.

"Jadi sangat luas pengetahuannya, informasinya, sehingga memudahkan beliau melakukan validasi informasi yang beliau peroleh. Itu luar biasa," ungkap Otto kepada BBC News Indonesia, Jumat (11/06).

Nur Djuli, mantan juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam kesepakatan Helsinki (15 Agustus 2005), Nur Djuli, mengatakan Carmel merupakan sosok yang disebutnya "sangat kuat memegang prinsip".

"Dia pernah mengkritik langsung Hasan Tiro (pendiri GAM), sahabatnya, terkait suatu masalah, yang dia tak setuju," ungkap Nur Djuli kepada BBC News Indonesia, Jumat (18/06).

"Jadi dia tak pantang, meski kawan. Dia akan terus mengkritiknya kalau tak sesuai prinsipnya," tambah Nur Djuli yang pernah bertemu beberapa kali dengan Carmel di kediamannya di London.

Sementara, Joaquim da Fonseca, mantan Duta Besar Timor Leste untuk Inggris dan dahulu terlibat gerakan perlawanan terhadap pendudukan Indonesia, menyebut Carmel sebagai "jendela" dunia untuk melihat Timor Leste.

"Ibu Carmel itu menyediakan sebuah jendela, di mana orang-orang dari luar dapat melihat ke dalam, untuk mengamati keadaan di Timor Leste," kata Joaquim kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, Jumat (11/06).

Dia juga menyediakan sebuah corong bagi orang Timor Leste tanpa harus berbicara sehingga suaranya bisa didengar, tambahnya.

Penilaian serupa juga diungkapkan Pendeta Benny Giay, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua.

"Carmel tolong kami orang Papua untuk mendefinisikan kembali siapa orang Papua," kata Benny Giay kepada BBC News Indonesia, Jumat (18/06).

"Dia [Carmel Budiardjo] menjadi penyambung lidah orang Papua di dunia internasional," tambahnya.

Adapun aktivis kemanusiaan, Ita Fatia Nadia, yang bekerja sama dengan Carmel Budiardjo dalam membantu dan mendokumentasikan tahanan politik 1965, menganggap Carmel sebagai panutannya dalam berkomitmen.

"Jadi komitmen dan konsistensi ibu Carmel terhadap tapol 1965 itu selalu hidup dan kita selalu diingatkan," kata Ita Nadia kepada BBC News Indonesia.

'Masih aktif hingga tiga tahun lalu'

Carmel dalam salah satu aksi protesnya pada 2012.

Sumber gambar, Lenah Susianty

Keterangan gambar, Carmel dalam salah satu aksi protesnya pada 2012.

Menurut Ketua Dewan Tapol, Steve Alston, Carmel masih cukup aktif hingga sekitar tiga tahun lalu, meski pendengarannya mulai bermasalah.

"Menghadiri pertemuan dan berpartisipasi dalam pertemuan semakin sulit baginya meskipun ia memakai berbagai alat bantu pendengaran.

"Jadi ia menulis artikel dan menerjemahkan bahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris sampai sekitar tiga tahun lalu," kata pria yang telah mengenal Carmel sejak tahun 1980-an.

Kecuali pendengarannya, Carmel relatif cukup mandiri hingga usia 95 tahun dan akhirnya pindah ke panti jompo di pusat kota London pada 2020.

Carmel pernah ditahan tanpa diadili karena dituduh anggota PKI

Bersama organisasinya itu, perempuan kelahiran 1925 ini menyuarakan tuntutan pembebasan para tahanan politik yang masih berada di penjara.

Namanya mulai dikenal setelah terlibat mengadvokasi nasib tahanan politik 1965 yang dibuang ke Pulau Buru, di penjara atau kamp penempatan, tanpa diadili karena dicurigai terlibat dalam Partai Komunis Indonesia.

Carmel Budiardjo

Sumber gambar, rightlivelihood

Keterangan gambar, Carmel Budiardjo pernah ditahan selama tiga tahun tanpa diadili pada 1965 setelah peristiwa G30S, karena dituduh anggota Partai Komunis Indonesia. Tuduhan yang berulangkali dia bantah.

Dia sendiri pernah ditahan selama tiga tahun tanpa diadili pada 1965 setelah peristiwa G30S, karena dituduh anggota Partai Komunis Indonesia. Tuduhan yang berulangkali dia bantah.

Pada 1952, dia menikah dengan seorang pejabat pemerintah Indonesia, Suwondo Budiardjo, yang dikenalnya di Praha, dan kemudian menetap di Indonesia.

Sempat bekerja di Kantor Berita Antara sebagai penerjemah dan sebagai peneliti ekonomi di Departemen Luar Negeri Indonesia di Jakarta antara 1955-1965.

Tapi Carmel dipecat dari Departemen Luar Negeri tahun 1965 setelah militer di bawah pimpinan Jendral Suharto berkuasa.

Tiga tahun kemudian, suaminya dipenjarakan oleh Pemerintah Orde Baru karena dituduh terlibat gerakan komunis di Indonesia.

1965

Sumber gambar, CAROL GOLDSTEIN/KEYSTONE/GETTY IMAGES

Keterangan gambar, 13 Oktober 1965: Sekelompok mahasiswa Muslim membakar markas Pemuda Rakyat di Jakarta.

Pada tahun 1971, Carmel dibebaskan dari penjara dan diusir dari Indonesia. Setelah Abdurrahman Wahid menjadi presiden RI, Carmel baru mendapat izin masuk ke Indonesia tahun 2000.

Pengalaman pribadinya saat di penjara dituangkan dalam buku berjudul ""Bertahan Hidup di Gulag Indonesia" terbitan tahun 1996.

Carmel pernah menerima penghargaan dari lembaga Swedia "The Right Livelihood Award" yang dipandang sebagai Hadiah Nobel alternatif.

line

'Harapan kami Tapol tidak relevan lagi, supaya Indonesia berjalan seperti negara demokratis yang biasa' — Wawancara BBC Indonesia dengan Carmel Budiardjo pada 2008

Dalam wawancara khusus dengan radio BBC Indonesia untuk acara Tokoh pada November 2008, Carmel ditanya apakah Tapol yang didirikannya masih mempunyai relevansi di Indonesia, mengingat sebagian besar tahanan politik sudah dibebaskan dan reformasi telah bergulir.

Ketika itu, ia berpendapat organisasinya masih relevan karena pelanggaran HAM masih terjadi, terutama di Papua. Betapapun ia mengaku akan lebih senang jika TAPOL tak diperlukan lagi.

"Mudahan-mudahan relevansi TAPOL akan berakhir. Harapan kami supaya Tapol tidak relevan lagi, supaya Indonesia berjalan seperti negara demokratis yang biasa," tambah Carmel dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, pada November 2008.

Carmel Budiardjo

Sumber gambar, Tapol

Keterangan gambar, Foto Carmel Budiardjo pada 1950an (kiri) dan fotonya saat di kediamannya di London, Inggris, 2020 (kanan).

Selaku penerusnya di Tapol saat ini, Steve Alston mengatakan harapan Carmel itu tidak terwujud sampai akhir hayatnya.

"Semakin jelas TAPOL masih relevan, khususnya dalam isu Papua dan hak orang Papua untuk menentukan nasib sendiri," ujar Steve Alston.

"Kami selalu berhati-hati di TAPOL bahwa kami tidak mendukung kemerdekaan di daerah-daerah Indonesia.

"Kami hanya mendukung hak rakyat untuk membuat keputusan mereka sendiri dan mereka dimintai pendapat," paparnya.

Ia merujuk pada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1969 yang mendukung integrasi Papua - dulu dikenal dengan nama Irian Barat - ke dalam wilayah Indonesia.

Carmel Budiardjo

Sumber gambar, laohamutuk

Keterangan gambar, Carmel Budiardjo (kiri) saat menghadiri sebuah acara di Dili, Timor Leste, 29 Agustus 2009.

Meskipun hasilnya diterima PBB dan dijadikan dasar hukum bagi pemerintah Indonesia bahwa Papua adalah bagian integral wilayahnya, validitas Pepera itu terus diungkit-ungkit.

"Kami mendukung hak mereka atas referendum untuk menentukan nasib mereka sendiri, dalam hal itu.

"Jadi TAPOL semakin relevan karena hak-hak menentukan nasib sendiri tidak saja diabaikan tetapi juga dengan cara yang brutal. Itulah konflik yang sedang terjadi di Papua sekarang.

"Tetapi masalah HAM Indonesia dan hak-hak tahanan politik, yang pada intinya menjadi fokus TapolL, masih terjadia. Ada orang-orang yang dipenjarakan atau didiskriminasi karena keyakinan politiknya," Steve Alston menjabarkan alasannya.

Konflik di Papua mengalami eskalasi menyusul serangkaian aksi kekerasan yang ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan menetapkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) sebagai organisasi teroris pada akhir April.

line

Berikut kesaksian tiga orang aktivis HAM dari Indonesia dan politikus asal Timor Leste tentang peran penting Carmel Budiardjo dalam mengampanyekan penegakan HAM di Indonesia:

'Carmel, sosok paling konsisten mengadvokasi pelanggaran HAM di Indonesia'

(Andreas Harsono, pegiat organisasi Human Rights Watch (HRW) Indonesia)

Salah-satu peran penting Carmel Budiardjo, menurut Andreas Harsono, adalah saat dia mendirikan organisasi TAPOL - singkatan dari tahanan politik - pada 1973.

Organisasi ini didirikan Carmel di London untuk menyuarakan tuntutan pembebasan para tahanan politik yang masih berada di penjara.

"Mula-mula, organisasi ini khusus menyoroti tentang tapol 1965 di Indonesia," kata Andreas Harsono kepada BBC News Indonesia, Jumat (11/06).

Andreas Harsono

Sumber gambar, Facebook Andreas Harsono

Keterangan gambar, Andreas Harsono, pegiat organisasi Human Rights Watch (HRW) Indonesia.

Ketika sebagian tapol 1965 mulai dibebaskan pada 1977 setelah didesak oleh Presiden AS Jimmy Carter, perhatian Carmel terhadap persoalan pelanggaran HAM di Indonesia, makin meluas.

Misalnya saja, TAPOL mendokumentasikan peristiwa Tanjung Priok pada 1984, kekerasan di Aceh, hingga Timor Leste. "Juga masalah di Papua," kata Andreas.

Di sinilah, Andreas kemudian menilai, TAPOL dan sosok Carmel di belakangnya, setidaknya merupakan organisasi "paling konsisten" di dalam mengadvokasi persoalan dugaan pelanggaran HAM di Indonesia.

"Secara umum, peran Carmel itu mendokumentasikan pelanggaram HAM (di Indonesia)," ujar Andreas.

Dia melakukan "pencatatan, mencari tanggal, mencari nama orang, mengecek, kemudian diedit" serta "menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris" lantas "diterbitkan".

Kebanyakan kasus-kasus yang 'ditangani' TAPOL adalah persoalan yang menyangkut perkara politik.

1965

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Serdadu mengawasi para tersangka Komunis yang ditahan di sebuah lokasi di Tangerang, Oktober 1965.

"Kebanyakan kasus kebebasan berekspresi. Orang-orang ini menyampaikan aspirasi mereka untuk merdeka dari Indonesia dengan damai. Dan mereka ditangkap. Atau ada yang ditembak, dibunuh. Nah itu dia data dan terbitkan," jelasnya.

Pada Agustus 2005, Andreas pernah mewawancarai Carmel di rumahnya di London. Saat itu Carmel berpendapat bahwa perjuangan politik itu sebaiknya tidak diletakkan di atas perjuangan kemanusiaan.

Dalam wawancara itu, Carmel menganggap bahwa "bangsa Indonesia" bukan sesuatu yang "sudah selesai".

"Ketegangan antar entitas di Indonesia, baik itu entitas agama, suku, bekas kerajaan, itu masih tinggi sekali. Dan susah untuk berada pada suatu posisi untuk membela semuanya," ujar Andreas.

Karena itu, perjuangan yang baik adalah "perjuangan hak asasi manusia, walaupun dia tidak menentang gerakan kemerdekaan," ungkap Andreas.

Carmel: 'Jangan tangkap orang Papua hanya karena mengenakan Bintang Kejora'

Carmel terus mencatat, mendokumentasikan dan mempresentasikan masalah kekerasan 1965 di berbagai tempat di dunia.

"Dia bukan satu-satunya, tetapi dia berperan besar untuk memperjuangkan kemanusiaan di Indonesia. Kesadaran akan pelanggaran HAM di Indonesia, mau-enggak-mau, suka atau tidak suka, pasti akan melibatkan nama Carmel Budiardjo," ujar Andreas.

"Dan, sebelum sakit, dia terus berdikusi, berpikir, termasuk soal Papua," tambahnya.

Papua

Sumber gambar, ADITYA IRAWAN/NURPHOTO VIA GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Puluhan mahasiswa Papua berunjuk rasa di Jakarta, 22 Agustus 2019.

Dalam kasus Papua, Carmel secara umum meminta agar tapol dibebaskan, membuka Papua bagi peliputan jurnalistik yang independen buat wartawan asing, serta membuka diri bagi kehadiran tim PBB.

Dan, "jangan menangkap orang Papua karena memakai Bintang Kejora atau yang teriak Merdeka. Ini juga berlaku untuk orang-orang di Aceh dan Maluku. Karena, lagi-lagi, proyek Indonesia ini tak akan berjalan mulus bila dilakukan dengan kekerasan."

Selain pernah menerima penghargaan dari lembaga Swedia "The Right Livelihood Award" - dipandang sebagai Hadiah Nobel alternatif, Carmel juga pernah menerima penghargaan dari Forum Demokrasi Rakyat Papua (2010).

Setahun sebelumnya, 2009, Carmel menerima 'Ordem de Timor-Leste', yaitu tanda kehormatan tertinggi dari pemerintah Timor Leste.

Disebutkan kontribusi Carmel "diakui dan signifikan bagi negara dan bangsa Timor Leste secara umum".

Timor Leste

Sumber gambar, JOHN MAC DOUGALL/AFP

Keterangan gambar, Sejumlah mahasiswa asal Timor Leste (dulu Timor Timur) menggelar unjuk rasa di dalam Kedutaan Belanda, 7 Desember 1995.

Pada 1999, International Forum for Aceh, yang berpusat di New York, memberi gelar khas perempuan Aceh kepada "Tjut Carmel Budiardjo."

"Carmel ini mungkin orang satu-satunya di dunia yang, selain menerima penghargaan internasional, juga menerima penghargaan dari tiga daerah yang pelanggaran HAM-nya besar," kata Andreas.

Baca juga:

Rumah sekaligus kantor

Rumah Carmel di London disulap sekaligus sebagai kantor TAPOL demi menghemat, lantaran "TAPOL ini enggak banyak uang," kata Andreas.

Lantai dua rumahnya dijadikan ruang kerja organisasi itu, dan Carmel tinggal seorang di rumah itu setelah kedua anaknya beranjak dewasa.

Bekas kamar anak-anaknya kemudian sering dipakai bagi tamu-tamunya. "Dari orang Aceh, Maluku, Papua, Timor Leste, itu sering menginap di situ," ungkapnya.

Seingat Andreas, bahkan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Hasan Tiro saat mengikuti pelatihan tentang HAM di London, acap kali mendapat bantuan dari Carmel.

line

'Lobi Carmel sangat kuat dalam masalah pelanggaran HAM'

(Otto Syamsudin, mantan Ketua Komnas HAM, pegiat kemanusiaan saat Aceh di masa konflik)

Carmel Budiardjo merupakan sosok yang memiliki kapasitas dan integritas yang tinggi dalam mengadvokasi pelanggaran HAM di Indonesia, khususnya di Aceh, kata Otto Syamsuddin.

Otto mengaku pernah difasilitasi oleh TAPOL dan dua kali menginap di rumah Carmel di London, diantaranya pada 1999.

Sepengetahuannya, Carmel memiliki 'pengaruh' yang kuat di parlemen Inggris. "Di situlah pentingnya ibu Carmel," katanya.

Otto Syamsuddin Ishak

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, "Sangat luas pengetahuannya, informasinya, sehingga memudahkan beliau melakukan validasi informasi yang beliau peroleh. Itu luar biasa," ungkap Otto.

Dia mencontohkan saat dia berada di Belanda pada 1999 untuk mengampanyekan pelanggaran HAM di Aceh, Carmel mengundangnya untuk datang ke London. Saat itu dia tidak memiliki visa ke Inggris, dan karenanya dia harus kembali ke Indonesia.

"Tetapi ibu Carmel bisa melobi parlemen dan mendapat fasilitas untuk saya mendapatkan visa di Belanda," ujarnya. "Di situ betapa kuat lobi politiknya untuk masalah-masalah pelanggaran HAM."

'Tokoh ideal yang saya panuti'

Selama Aceh dilanda konflik, Carmel selalu mendapatkan informasi dari berbagai sumber, sehingga bisa mematahkan klaim-klaim sepihak terkait laporan dugaan pelanggaran HAM.

Otto mengaku menyaksikan sendiri ketika Carmel "membongkar semua dokumennya", di antaranya surat-surat dari berbagai sumber terkait masalah terutama di Aceh.

Aceh

Sumber gambar, Hotli Simanjuntak/AFP

Keterangan gambar, Seorang warga Kota Bireun, Aceh, mengendarai sepeda di samping tank TNI, 26 Mei 2003, saat wilayah itu dilanda konflik bersenjata.

"Jadi sangat luas pengetahuannya, informasinya, sehingga memudahkan beliau melakukan validasi informasi yang beliau peroleh. Itu luar biasa," ungkap Otto.

Dalam menjalankan perannya, Carmel disebutnya bekerja "tanpa lelah, kontinyu, dan terkesan tidak pernah jenuh". "Beliau adalah tokoh ideal yang saya panuti," akunya.

Peran Carmel adalah melakukan advokasi sesuai posisinya yang tidak masuk ke jalur legal, atau mengampanyekan tentang fluktuasi peristiwa-peristiwa gelombang pelanggaran HAM di Aceh sejak kebijakan DOM.

Menurut Otto, Carmel juga berkomunikasi dengan pemimpin GAM, Hasan Tiro. Inilah yang menurut Otto, bahwa Carmel juga memiliki lobi yang kuat dengan pemimpin inti GAM.

Baca juga:

line

'Carmel sangat kuat memegang prinsip'

(Nur Djuli, juru runding Gerakan Aceh Merdeka dalam kesepakatan damai di Helsinki, 15 Agustus 2005)

Nur Djuli, mantan juru runding GAM dalam kesepakatan damai dengan pemerintah Indonesia di Helsinki, 15 Agustus 2005, menyebut Carmel Budiardjo sebagai sosok yang "sangat kuat memegang prinsip".

"Dia [Carmel Budiarjo] pernah mengkritik langsung Hasan Tiro (pendiri GAM), sahabatnya, terkait suatu masalah, yang dia tak setuju," ungkap Nur Djuli kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, Jumat (18/06).

"Jadi dia tak pantang, meski kawan. Dia akan terus mengkritiknya kalau tak sesuai prinsipnya," tambah Nur Djuli yang pernah bertemu beberapa kali dengan Carmel di kediamannya di London.

Nur Djuli

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Nur Djuli, mantan juru runding GAM dalam kesepakatan damai dengan pemerintah Indonesia di Helsinki, 15 Agustus 2005, menyebut Carmel Budiardjo sebagai sosok yang "sangat kuat memegang prinsip".

Dan, menurutnya, membicarakan soal pelanggaran HAM di Aceh pada masa konflik, tidak dapat dipisahkan dari nama Carmel Budiardjo.

"Sebut saja tentang [persoalan HAM di Aceh], hampir selalu ada sangkut paut dengan Carmel Budiardjo," ujarnya. "Makanya, saya bilang, kami di Aceh bisa menulis satu buku khusus tentang Carmel," tambahnya.

Itulah sebabnya, pada 1999, International Forum for Aceh, yang berpusat di New York, memberi gelar khas perempuan Aceh kepada "Tjut Carmel Budiardjo," ungkapnya.

"Kami juga memberinya sebuah plakat bertuliskan puisi bahasa Aceh, bunyinya: Reudôk di glé ujeuën muprœt-prœt, aneuëk guda rœt ôn naleuëng paya. Meunyo lôn ingat budi gata gœt bak tiep simpang rœt lôn rô ië mata."

Selama Aceh dilanda konflik bersenjata, Nur Djuli - dia berada di Malaysia saat itu - berulangkali melakukan kontak dengan Carmel perihal masalah dugaan pelanggaran HAM di Aceh.

Nur Djuli teringat betapa Carmel - sebagai pimpinan organisasi Tapol - sangat berhati-hati tentang jumlah orang meninggal atau terluka dalam berbagai kasus-kasus kekerasan di Aceh pada masa konflik.

"Kalau sampai saya membuat yang tidak akurat, maka dia akan mem-black list. Nah, saya sangat berhati-hati," ungkap Nur Djuli.

Dari sinilah, menurutnya, laporan Tapol seringkali "angka laporan kematian dalam kasus-kasus kekerasan di Aceh sangat rendah, tapi akurat."

Kesaksian serupa juga diungkapkan mantan anggota GAM, Munawar Liza. "Beliau [Carmel) selalu bilang: sesuai dengan data, tak boleh bombastis, jangan dibesar-besarkan," kata Munawar kepada BBC News Indonesia, pertengahan Juni lalu.

Munawar Liza

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, "Beliau [Carmel) selalu bilang: sesuai dengan data, tak boleh bombastis, jangan dibesar-besarkan," kata Munawar Liza, eks anggota GAM kepada BBC News Indonesia, pertengahan Juni lalu.

Carmel selalu meminta otoritas GAM agar melakukan klarifikasi terkait data-data pelanggaran HAM agar "tersaring dengan bagus."

"Kalau yang 'dipukul 10, ya katakan 10', jangan dibesar-besarlan," tambah Munawar.

Peran penting lainnya, menurutnya, Carmel membantu sejumlah pegiat HAM dan anggota GAM yang terancam jiwanya untuk diselamatkan saat wilayah Aceh dilanda konflik.

"Atas bantuan beliau dan organisasi lainnya, kami 'diungsikan' ke Amerika Serikat, untuk diselamatkan," ungkap Munawar Liza.

Sementara, ketika Aceh masih dilanda konflik bersenjata, Nur Djuli mengaku pernah bertemu Carmel dan tinggal di kediamannya di London. Seingatnya, mendiang menjalani "hidup hemat", tapi "bermurah hati" jika menyangkut kemanusiaan.

"Saya pernah dimintai bantuan untuk membawa belanjaan sayur-mayurnya, naik-turun bus di London. Dia tak mau naik taksi," ungkapnya.

Namun di sisi lain, Carmel akan merogoh koceknya untuk memberikan uang guna menolong orang-orang karena alasan kemanusiaan.

"Dia hidup hemat untuk dirinya sendiri, tapi akan memberikan bantuan keuangan yang menurut ukuran saya sangat besar, untuk alasan kemanusiaan," ujar Nur Djuli.

line

'Carmel sediakan jendela, agar dunia amati Timor Leste'

(Joaquim da Fonseca, Sekjen Renetil, mantan Dubes Timor Leste di Inggris, terlibat perlawanan melawan pendudukan Indonesia)

"Ibu Carmel itu menyediakan sebuah jendela, di mana orang-orang dari luar dapat melihat ke dalam, untuk mengamati keadaan di Timor Leste," kata Joaquim da Fonseca kepada BBC News Indonesia, Jumat (11/06).

Dia juga menyediakan sebuah corong bagi orang Timor Leste tanpa harus berbicara sehingga suaranya bisa didengar, katanya.

Joaquim da Fonseca

Sumber gambar, AFP/BART MAAT

Keterangan gambar, "Apa yang dilakukan Ibu Carmel dengan TAPOLnya itu penting sekali, karena tempatnya di jantung Eropa dan bisa menyediakan informasi yang bisa digunakan oleh orang-orang di sana," kata Joaquim da Fonseca (kiri).

Peran penting Carmel Budiardjo dalam mengadvokasi pelanggaran HAM di Timor Leste adalah di bidang publikasi, karena saat itu tidak banyak yang menulis tentang Timor Leste.

"Apa yang dilakukan Ibu Carmel dengan TAPOLnya itu penting sekali, karena tempatnya di jantung Eropa dan bisa menyediakan informasi yang bisa digunakan oleh orang-orang di sana," kata Joaquim kepada BBC News Indonesia, Jumat (11/06).

Pada saat yang sama, Carmel menyediakan informasi yang sudah terolah untuk dikonsumsi masyarakat dunia dan, bahkan, untuk publik di Indonesia.

"Terkadang mereka lebih memahami tentang sistem pemerintahan Indonesia sehingga mudah dicerna oleh publik Indonesia," katanya.

Hal lainnya, menurutnya, keberadaan Carmel dan TAPOL yang disebutnya 'berjarak' dengan Indonesia, sehingga unsur subyektivitasnya lebih rendah ketimbang orang Timor Leste sendiri.

"Itu menambah nilai tambah kepada publikasi-publikasi yang dikeluarkan oleh Ibu Carmel dan TAPOL terkait masalah di Timor Leste saat itu."

Timor Leste

Sumber gambar, UPALI ATURUGIRI/AFP

Keterangan gambar, Demonstrasi mahasiswa asal Timor Leste (dulu Timor Timur), 19 November 1991, tidak lama setelah insiden kekerasan di Santa Cruz, Dilli.

Melalui publikasinya, Joaquim menilai, Carmel memiliki kedekatan dengan Timor Leste, karena isinya sangat dekat dengan pengalaman orang-orang Timor Leste dan yang berada di Indonesia.

"Mereka menuliskan di Inggris, tapi 'jarak' itu hilang, karena isunya begitu dekat dan cara pandangnya begitu familiar," katanya. "Seolah-olah dekat sekali."

Selama melakukan studi dan menjadi Duta Besar Timor Leste untuk Inggris, Joaquim mengaku beberapa kali bertemu Carmel dan dia memiliki kesan yang sangat kuat terhadap sosoknya.

"Ibu Carmel sangat gigih sebagai sosok pribadi, bukan hanya dalam perjuangannya, tapi hidupnya sendiri dia hadapi dengan kegigihan.

"Itulah sebabnya, begitu mendengar banyak hal tentang ibu Carmel, begitu sudah bertemu, kita tidak begitu heran, 'oh pantas saja, orangnya seperti ini', makanya dia mampu membuat hal-hal yang selama ini kita kagumi, hargai, hormati."

Carmel memperoleh penghargaan dari pemerintah Timoe Leste berupa 'piagam solidaritas'. "Ini diberikan kepada siapa yang membantu Timor Leste dalam perjuangannya. Dan Ibu Carmel adalah salah-satunya."

Baca juga:

line

'Carmel menjadi penyambung lidah orang Papua di dunia internasional'

(Pendeta Benny Giay, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papu, aktivis dan antropolo sosial)

Benny Giay, kelahiran 1955, mengaku pernah membaca laporan tentang dugaan pelanggaran HAM di Indonesia, yang dilaporkan oleh Carmel Budiardjo melalui organisasi yang dipimpinnya, Tapol.

"Saya ingat di awal 1980an hingga akhir 80-an, saya membaca tulisan-tulisannya tentang Papua," ungkap Benny Giay kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan. Ketika itu dia masih tinggal di Amsterdam, Belanda.

Atas kepeduliannya atas masalah d Papua itulah, Benny Giay dan rekan-rekannya dari Forum Demokrasi Rakyat Papua memberikan penghargaan kepadanya pada 2010.

Benny Giay

Sumber gambar, YULIA LANTIPO/BBC NEWS INDONESIA

Keterangan gambar, Atas kepeduliannya atas masalah d Papua itulah, Benny Giay (foto atas) dan rekan-rekannya dari Forum Demokrasi Rakyat Papua memberikan penghargaan kepada Carmel Budiardjo pada 2010.

"Hal itu yang mendasari pemberian penghargaan itu kepada Carmel Budiardjo di Denpasar Bali, Desember 2010," kata Benny. Saat itulah dia bertemu kali pertama dengan Carmel.

Menurutnya, Carmel layak disebut sebagai "penyambung lidah orang Papua di dunia internasional."

"Karena menurut saya, Carmel menolong kami orang Papua untuk mendefinisikan kembali siapa orang Papua," kata Benny Giay.

line

'Carmel meminta kami berkomitmen dan setia atas perjuangan'

(Ita Fatia Nadia, pegiat kemanusiaan, bekerja sama dengan Carmel dalam kasus Tapol 1965)

Ita Fatia Nadia mengenal Carmel pada 1979 saat dia masih mahasiswa. Ketika itu dia membantu Romo Mangun Wijaya guna mengurus para tahanan politik 1965 di Pulau Buru yang akan dipulangkan.

Saat itu Ita diminta melakukan kontak dengan Carmel Budiardjo melalui telepon atau surat-menyurat. Demi keamanan, Carmel menggunakan nama samaran "Christine".

Salah-satu yang didialogkan dalam kontaknya dengan Carmel, Ita - sebagai koordinator lapangan - harus memberikan rincian mengenai bagaimana dia dkk menjemput para eks tapol di Pelabuhan Kali Emas, Semarang.

"Saya mengenal betul bagaimana dia secara serius dan sangat intensif, terus menerus, lewat telepon, untuk mengetahui persiapan penjemputan para tapol yang akan mendarat di Semarang," ungkap Ita Nadia.

Ita Nadia Fatia

Sumber gambar, Facebook Ita Nadia/Gender Working Group

Keterangan gambar, "Saya belajar dari ibu Carmel, bagaimana mengurus atau membantu khusus para tapol, tidak hanya tapol 65, tapi juga yang lain, yang hak asasinya terlanggar," ungkap Ita Nadia.

Ketika para tapol sudah mendarat, Carmel menugasi Ita dkk untuk mencari tahu bagaimana kondisi mereka, termasuk berapa jumlah yang meninggal, sakit, serta memotretnya. "Tapi sulit untuk memfoto, karena tentara banyak sekali," ungkapnya.

"Ketika itu ibu Carmel memberikan dukungan keuangan untuk menyewa bus dan bagaimana menampung para eks tapol," kata Ita kepada BBC News Indonesia, Jumat (11/06)

Laporan yang dihimpun Ita dkk itu kemudian dilaporkan oleh Romo Mangun kepada Carmel dan kemudian ditulis kembali dan disiarkan ke publik, antara lain, melalui majalah TAPOL.

Sejak 1973 sampai 1980, Carmel secara konsisten dan intensif terus menerus mengabarkan tentang pelanggaran HAM di Pulau Buru, Pelantungan, hingga Nusakambangan.

Baca juga:

"Dia dengan sangat bagus melaporkan berapa tahanan yang meninggal," ujar Ita.

Sampai 1990an, Carmel mengirimkan sejumlah uang - salah-satunya - kepada tim Romo Mangun Wijaya untuk digunakan merawat kesehatan eks tapol. Dana ini didapatkan Carmel melalui berbagai acara penggalangan di luar negeri.

1965

Sumber gambar, BETTMANN / GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Para prajurit bersenjata mengangkut para terduga anggota Pemuda Rakyat, pada 10 Oktober 1965, dua hari sebelum diumumkannya penangkapan Letkol Untung.

"Saya belajar dari ibu Carmel, bagaimana mengurus atau membantu khusus para tapol, tidak hanya tapol 65, tapi juga yang lain, yang hak asasinya terlanggar," ungkapnya.

Salah-satunya di Aceh. Saat itu, Carmel juga membantu orang-orang yang dituduh sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan mengalami penyiksaan yang berat selama diberlakukan DOM (daerah operasi militer).

Selama di Aceh, seingat Ita Nadia, Carmel memintanya untuk meneliti tentang kasus 1965 di wilayah itu.

"Jadi komitmen dan konsistensi ibu Carmel terhadap tapol 1965 itu selalu hidup dan kita selalu diingatkan," katanya. Belakangan Carmel juga memberi perhatian khusus kepapa para eks tapol perempuan.

Atas dorongan Carmel agar dia mendokumentasikan nasib para perempuan eks tapol 65, Ita Nadia kemudian menuliskannya dalam buku Suara Perempuan Korban Tragedi 65.

1965

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Markas Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jakarta, pada 8 Oktober, hancur lebur oleh amukan massa, menyusul Peristiwa G30S.

Setelah Reformasi, persisnya saat Gusdur menjadi presiden, Ita Nadia untuk pertama kalinya bertatap muka dengan Carmel.

"Beliau tetap menyemangati saya untuk merekam pengalaman para perempuan eks tapol 1965, dan itu saya terus kerjakan sampai saat ini."

Pada 2015, saat Ita Nadia dan suaminya, Hersri Setyawan, yang juga eks tapol 1965, membuat film tentang pulau Buru, Carmel mengutarakan idenya agar dibuat pula dokumentasi tentang kamp Plantungan.

Hal itu ditekankan Carmel Budiardjo lantaran dia menjadi saksi kekejaman dan kekerasan oleh aparat terhadap para tapol perempuan yang dituduh sebagai Gerwani di penjara Bukit Duri, Jakarta.

"Ibu Carmel melihat penganiayaan secara seksual terhadap tokoh perempuan (yang menjadi tapol)," ungkapnya.

Itulah sebabnya, dia meminta dokumentasi itu disebarkan sebagai pengetahuan untuk mengungkap sejarah kelam masa lalu.

1965

Sumber gambar, BETTMANN / GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Seorang mahasiswa keturunan Cina melindungi mukanya saat dicemooh dan diserang secara fisik oleh sejumlah pemuda yang menyerang Universitas Res Publika, pada 15 Oktober 1965.

Dari perjalanan panjang ini, Ita menggambarkan peran penting Carmel Budiardjo sebagai fasilitator dan katalisator untuk terus menerus memberikan petunjuk (guidance) kepada dirinya dan relawan lainnya.

"Dia tak pernah menggurui, tapi cuma mengatakan 'coba kamu telusuri ini', dan setelah kami telusuri, dia berkata 'coba dikembangkan', dan setelahnya, 'coba kamu lihat lagi di daerah itu," paparnya.

Carmel memberikan tuntunan kepada Ita dkk untuk melacak terus tentang pelanggaran HAM berat masa lalu, khususnya peristiwa 1965.

Konsistensinya terhadap kasus pelanggaran HAM 1965 terus dia lakukan saat Ita dkk melakukan hal yang sama dalam peristiwa kekerasan di Timor Leste.

1965

Sumber gambar, BETTMANN / GETTY IMAGES

Keterangan gambar, Seorang terduga simpatisan G30S diperiksa di bawah todongan senjata.

"Coba apakah ada hubungannya tidak, antara Timor Leste dan 1965 di Indonesia. Jadi itu memberikan kepada kami untuk melacak dan mencari tahu, dan dia memberitahu titik-titik yang harus kita temukan."

"Dia memberikan tuntunan dan pencerahan untuk bagaimana kami melacak sebuah pelanggaran HAM berat yang begitu kelam dan bagaimana itu didokumentasikan dan dituliskan," katanya.

Yang kedua, menurutnya, Carmel memberikan motivasi agar dirinya dkk berkomitmen, konsisten dan setia terhadap apa yang diperjuangkan.

"Dan jika mengerjakannya dengan baik, dia memberikan ruang kepada kita untuk berkembang. Misalnya, tulisan-tulisan saya tentang 1965, dia memberikan dukungan, ketika dibukukan."