|
Ade: kemanusiaan segalanya | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ade Rostina Sitompul, 71 tahun, yang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang jauh dari publikasi, memperoleh penghargaan kenegaraan dari Pemerintah Timor Leste, bulan September lalu. Dia dianggap berjasa ikut memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam perjalanan bangsa Timor Leste memperoleh kemerdekaan dari Indonesia. "Bagi saya, (nilai) kemanusiaan itu universal, bukan untuk berlaku di Indonesia (saja). Nilai kemanusiaan itu lintas agama, lintas etnis, lintas negara, lintas bangsa," kata Ade Rostina, yang dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, 12 Desember 1938, kepada Radio BBC. Bersama beberapa warga negara Indonesia lainnya, dia diundang secara khusus ke Ibukota Timor Leste. Presiden negara itu, Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao, mengalungkan sendiri medali penghargaan itu. Ade Rostina, yang kini tengah dirawat di sebuah rumah sakit, mengatakan, apa yang dilakukannya terhadap sebagian warga Timor Leste selama bertahun-tahun, didasari oleh nilai kemanusiaan semata. Ibu Ade, begitu dia biasa disapa, menekankan hal ini, karena atas sikap penghormatan dirinya terhadap nilai kemanusiaan, dia dulu sering dicap sebagai "pengkhianat" dan "menjual bangsa". "Sejak masuk Timor Timur tahun 1992, banyak suara-suara yang mengatakan, saya pengkhianat, penjual negara," katanya. Dia lantas memberikan contoh, sikap seorang Jenderal dari Kopassus yang memberikan cap seperti pekhianat. Tetapi setelah dia menjelaskan apa dilakukannya, jenderal itu kemudian memahami sikapnya. Ade Rostina bersentuhan dengan peristiwa kekerasan di Timor Timur, setelah peristiwa kekerasan di Kota Dili, 12 November 1991 -- yang kemudian dikenal sebagai "peristiwa Santa Cruz". Dia menyebut dirinya "sebagai penghubung" antara para tahanan politik pengukung kemerdekaan Timor Leste dan keluarganya. Sejak saat itulah, melalui misi kemanusiaannya, Ibu Ade acap mendatangi salah-satu propinsi Indonesia itu -- sebelum akhirnya melepaskan diri melalui referendum tahun 1999. Itulah sebabnya, Ibu lima orang anak ini menolak istilah nasionalisme sempit, yang banyak diteriakkan orang jelang dan sesudah referendum Timor Leste. "Nasionalisme adalah (bagaimana) kita bisa menjaga imej, bukan diri kita saja, tapi bangsa kita, negara kita, rakyat kita. Bukan nasionalisme sempit, yang seolah-olah orang itu, atau orang itu, adalah musuh kita," papar Ase Roslita. Tahanan Politik PKI Tidak banyak orang mengetahui, aktivitas kemanusiaan Ade Rostina sudah dimulai lebih dari 40 tahun silam. Dia memilih melakukan pertolongan terhadap sesama atas dasar kemanusiaan, setelah peristiwa kekerasan pasca tahun 1965 -- sebuah peristiwa yang disebutnya "tidak bisa diterima hati nurani saya sampai sekarang."
Sejak 1967, Ade Sitompul menolong sebagian keluarga tahanan politik -- yang suaminya dicap komunis, dan dibuang ke Pulau Buru. Walau tidak gampang, sebagian keluarga orang-orang itu dia tampung di rumahnya. Dan menurutnya, ini tidaklah gampang. "sikap saya ini sempat diprotes keluarga," ungkapnya. Belum lagi sikap represif aparat saat itu, yang menurutnya selalu menginterogasi sikap dan aksinya menolong keluarga tapol. Ditanya bagaimana dia dapat bersikap "berani" melawan sikap kebanyakan masyarakat Indonesia yang saat itu fobi terhadap "PKI", Ade mengaku dia juga pernah mengalami rasa takut. Tetapi, lanjutnya, perasaan itu dapat ditepisnya, karena "Saya merasa (tindakan kemanusiaan) itu perintah dari agama yang saya yakini. Dalam alkitab, dalam salah-satu ayatnya berbunyi 'Aku memilih engkau sejak engkau dalam kandungan ibumu'. Itu yang banyak mempengaruhi saya. Walaupun takut, saya berusaha hilangkan rasa takut saya, dan nasihat (mendiang) Yap thiem Hien (advokat senior, yang juga pegiat HAM), banyak mempengaruhi saya," jelas Ade Rostina. Anugerah Yap Thiam Hien 1995 Di tahun 1995, Ade Rostina pernah meraih Yap Thiam Hien Award, sebuah penghargaan terhadap orang-orang yang dianggap berjasa dalam memperjuangkan hak asasi manusia. Dari 16 tokoh orang yang disaring, Ade saat itu bersama masyakarat Desa Jenggawah, Jember, yang memperjuangkan tanah milik mereka, berhasil menyisihkan mereka. Ade Rostina, saat itu dinilai mempunyai perhatian dan perjuangan yang tinggi terhadap HAM. Laporan-laporan media saat itu menyebut dirinya "mempunyai perhatian dan kepedulian yang tinggi kepada narapidana". Dedikasinya pada HAM, demikian laporan itu, diwujudkan dengan memberikan perawatan kepada napi yang sakit, memberikan bantuan materiil serta dorongan moril kepada napi dan keluarganya. Dia juga memberikan bantuan kepada korban kejahatan, misalnya pada kasus Acan dan kasus pembunuhan keluarga Rohadi. "Pekerjaan semacam ini memang tidak kelihatan," ucap Nursjahbani Katjasungkana, salah-satu dewan juri, kala itu. Kepada BBC, Todung Mulya Lubis, Ketua Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia saat itu, mengatakan, Ade adalah pegiat HAM yang gigih dan berkomitmen. "Dan ini, tak hanya dilakukannya kepada keluarga tapol PKI," katanya. Senada dengan Todung, mantan pimpinan YLBHI Luhut Pangaribuan, yang pernah bekerjasama dengan Ade dalam menangani tapol Timor Timur, mengatakan, Ibu Ade tidak pernah terlihat khawatir di dalam melalukan kerja-kerjanya. "Dan, ibu Ade ini telah mengkontribusikan seluruh apa yang dia punya untuk pekerjaan-pekerjaan ini," ungkap Luhut. Menjauhi Publikasi Jauh dari publikasi, aktivitas Ade Rostina di bidang kemanusiaan justru berjalan terus. Tidak hanya bersentuhan dengan kejadian politik, saat gempa tsunami mengguncang Aceh, serba banjir di Jakarta, dia juga turun tangan.
Ade mengakui, dalam beberapa hal, utamanya yang terkait dengan peristiwa politik, dia sengaja menjauhi media. "Itu juga berbahaya buat saya," tandasnya. Namun dia juga menambahkan, orang lain tidak penting mengetahui aktivitasnya. "Untuk apa orang tahu apa yang saya lakukan. Yang penting ada manfaat bagi mereka, dan saya tahu orang itu tertolong," kata Ade. Ke depan, Ade ingin menolong lebih banyak lagi terhadap bekas tahanan politik 1965, terutama keluarganya yang menurutnya sebagian besar memprihatinkan. Bersama teman-temannya, dia juga ingin untuk meneruskan mendirikan rumah jompo bagi ibu-ibu bekas tahanan politik 1965 di wilayah Parung, Kabupaten Bogor. Tapi dari mana Anda mendapatkan dana untuk mereka? Seraya tersenyum Ade Sitompul mengatakan, "Terus terang, dalam hal ini, saya akan mengemis lagi," katanya. Dia menyebut bantuan itu bisa datang dari gereja, serta orang-orang yang disebutnya mau memberi bantuan. *** | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||