Virus corona, penelitian BBC: Jumlah kematian di Jakarta 55% lebih tinggi pada periode Maret sampai Mei, tapi berapa kematian yang sebenarnya dari pandemi pernafasan Covid-19?

- Penulis, Becky Dale dan Nassos Stylianou
- Peranan, Data journalists BBC
Paling tidak 130.000 orang di seluruh dunia meninggal selama pandemi virus corona, selain kematian 440.000 orang yang secara resmi dipastikan meninggal karena Covid-19, menurut penelitian BBC.
Penelitian data kematian di 27 negara menunjukkan jumlah kematian secara keseluruhan lebih tinggi dari biasanya di banyak negara, termasuk bila ditambah dengan data pasien meninggal karena virus corona.
Apa yang disebut dengan "kematian tak langsung ini" dengan jumlah kematian di atas rata-rata, menunjukkan dampak pandemi virus corona jauh melebihi data yang dilaporkan negara-negara di seluruh dunia.
Untuk Indonesia, tidak tersedia data jumlah kematian tidak langsung secara nasional, namun data untuk Jakarta menunjukkan angka kematian lebih tinggi 55% dibandingkan rata-rata, pada periode 1 Maret sampai 31 Mei, dengan jumlah total 4.700 orang yang meninggal lebih banyak dari periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Angka kematian resmi akibat Covid-19 di Jakarta pada periode itu tercatat 517, sementara semua kematian tak langsung lain 4.214.
Sejumlah kematian tersebut dikategorikan sebagai kematian pasien Covid-19 yang tidak terdata, namun sebagian kematian lain adalah akibat dari sistem kesehatan yang kewalahan menangani wabah dan akibat dari sejumlah faktor lain.
Simak panduan kematian tak langsung di bawah ini dan telisik lebih jauh untuk melihat bagaimana pandemi memengaruhi sejumlah negara, termasuk Brasil, Italia, Afrika Selatan dan Inggris.
Membandingkan secara langsung jumlah kematian antarnegara sulit dilakukan.
Akurasi data virus corona tergantung pada seberapa banyak orang yang dites dan bagaimana negara-negara mencantumkan angka kematian di luar rumah sakit.
Di tengah penyebaran virus di seluruh dunia, kondisi wabah di setiap negara berbeda.
Di sejumlah tempat, jumlah kematian tak langsung mungkin masih terus meningkat dalam beberapa minggu atau bulan mendatang, khususnya bila ada data yang diperbarui.
Di sejumlah negara lain, jumlah kematian sudah kembali pada kondisi normal.
Menganalisis semua kematian (baik disebabkan oleh virus corona maupun oleh sebab-sebab lain) selama pandemi dan membandingkannya pada periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya dapat membuka jalan untuk memperoleh data yang lebih akurat terkait kematian akibat virus corona.

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus
PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

Bagaimana menghitung kematian tak langsung? Jakarta lebih tinggi 55% pada Maret sampai Mei
Untuk menghitung kematian tak langsung, kami menggunakan data kematian dengan semua penyebab.
Laporan ini biasanya tercatat dan diterbitkan di pusat pendataan, kementerian kesehatan atau badan statistik suatu negara.
Penghitungan ini memakan waktu untuk diproses dan dipastikan dan semua data yang tercatat dalam beberapa bulan terakhir adalah data awal dan dapat direvisi dan kemungkinan mencakup angka kematian tambahan.
Jumlah kematian tak langsung menunjukkan jumlah total kematian di atas rata-rata. Data ini belum disesuaikan dengan umur, serta perbedaan demografi penduduk satu negara.
Jumlah total kematian tak langsung setiap negara dibulatkan ke angka ratusan terdekat.
Bagaimana memilih negara untuk menghitung kematian tak langsung?
Kami memusatkan pada wilayah yang memiliki data cukup kuat mencakup paling tidak empat minggu dari awal pandemi virus corona terjadi.
Bila data nasional tidak tersedia, kami fokus pada wilayah yang lebih kecil, seperti Jakarta untuk Indonesia dan Istanbul untuk Turki.
Di Jakarta, jumlah data pemakaman kami gunakan untuk menghitung kematian.
Jumlah kematian di Jakarta, lebih tinggi 55% dibandingkan rata-rata, dengan jumlah total 4.700 orang yang meninggal lebih banyak dari biasanya.
Bagaimana kondisi pandemi di setiap negara?
Pada wabah di setiap negara dihitung dari minggu atau bulan ketika kematian kelima akibat Covid-19 tercatat.
Data juga mencakup periode terakhir di mana diperkirakan angka tidak akan berubah signifikan.
Untuk sebagian besar kasus, kami menghitung kematian yang telah diperkirakan berdasarkan rata-rata jumlah kematian selama lima tahun, dari 2015-2019.
Bila memungkinkan, kami mengacu pada jumlah kematian yang diperkirakan yang telah digunakan oleh badan statistik negara yang bersangkutan untuk menghitung perubahan populasi atau faktor-faktor lingkungan yang telah diketahui.
Apa artinya 'tak ada secara keseluruhan'?
Dalam grafis di atas ada istilah "none overall" (tidak ada secara keseluruhan) yang berarti data resmi kematian tak langsung di tempat tertentu dihitung berdasarkan data virus corona atau tidak ada data tentang kematian tak langsung di sana.
Data untuk kematian tak langsung lain dihitung dengan menghitung jumlah total kematian tak langsung dikurangi jumlah semua kematian akibat Covid selama wabah di setiap negara.
Sumber yang kami gunakan
Penghitungan resmi kematian akibat Covi-19 biasanya didasarkan pada laporan atau data yang dirilis pemerintah.
Jika data resmi tak tersedia, kami memakai data yang dikumpulkan dan diterbitkan lembaga kontrol dan pencegahan penyakit di Eropa (ECDC).
Sumber
Statistik Austria; Belgium Mortality Monitoring; Sciensano; Belgian Institute for Health; Civil Registry of Brazil; Chile Civil Registration and Identification Service; Chile Ministry of Science, Technology, Knowledge and Innovation; Chile Ministry of Health; Statistics Denmark; Ecuador General Directorate of the Civil Registry; Ecuador National Institute of Statistics and Census (INEC); French National Institute of Statistics and Economic Study (Insee); Germany Federal Statistics Office; DKI Jakarta Provincial Park and Forest Service; Iran National Organisation for Civil Registration: Italian National Institute of Statistics (Istat); Japan Bureau of Statistics: Ministry of Internal Affairs and Communications; Statistics Netherlands (CBS); Statistics Norway; Peru Ministry of Health; Peru National Information System of Deaths (SINADEF): Portugal Directorate-General for Health; Moscow Office of Civil Registration; Moscow Government; St Petersburg Office of Civil Registration; Statistical Office of the Republic of Serbia; South African Medical Research Council (SAMRC); South Africa Department of Statistics (Stats SA); Statistics Korea (KOSTAT); Institute of Health Carlos III (ISCIII), Spain; Mortality Monitoring Spain; Statistics Sweden; Federal Statistical Office Switzerland; Thailand Department of Provincial Administration; Istanbul Metropolitan Municipality; Tubitak (Scientific and Technological Research Council of Turkey); Office of National Statistics (ONS); National Records of Scotland (NRS); Northern Ireland Statistics; Research Agency (NISRA); State Statistics Service of Ukraine; American Centers for Disease Control and Prevention (CDC); US National Center for Health Statistics (NCHS); European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC)
Kontribusi:
Desain oleh Prina Shah dan Zoe Bartholomew. Pengembangan oleh Becky Rush dan Scott Jarvis. Analisa data dan artikel oleh: Becky Dale and Nassos Stylianou. World Service languages coordination by Ana Lucia Gonzalez. Global case study production by Louise Adamou and Paul Harris. Laporan video, camera dan edit oleh Christian Estacio, Vincente Gaibor del Pino, Isadora Brant, Claudia La Via, Sofia Bettiza, Mark Perna, Lesthia Kertopati, Said Hatala Sotta, Abraham Utama dan Anindita Pradana. Data statistik oleh Robert Cuffe. Ilustrasi oleh Jilla Dastmalchi. Manajemen proyek oleh Sally Morales. Produksi oleh John Walton dan Jacky Martens.
Kontribusi lain: Stéphane Helleringer, Associate Professor, Johns Hopkins University; Dr Bernardo Lanza Queiroz, Associate Professor of Demography, University Federal de Minas Gerais; Dr Hazhir Rahmandad, Associate Professor, MIT Sloan School of Management; Navid Ghaffarzadegan, Associate Professor, Virginia Tech University; Iran Ministry of Health, Mesut Erzurumluoglu, Research Associate, MRC Epidemiology Unit, University of Cambridge; Dr Yu Korekawa, Director for International Research and Cooperation, National Institute of Population and Social Security Research

















