Presiden Erdogan dan PM Netanyahu kembali perang kata-kata

Erdogan, Netanyahu, Turki, Israel

Sumber gambar, Getty Images and Reuters

Keterangan gambar, Presiden Erdogan menyarankan PM Netanyahu 'belajar tenang kemanusiaan dari 10 Perintah Tuhan'.
Waktu membaca: 2 menit

Unjuk rasa warga Palestina di perbatasan Gaza dan Israel, yang menewaskan 58 orang dan melukai sekitar 2.700 warga Palestina lainnya, juga memicu 'bentrokan' lain.

Seteru sengit Israel, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, langsung menggunakan kekerasan pada awal pekan tersebut untuk kembali menyerang dengan menulis di Twitter bahwa 'Netanyahu adalah perdana menteri negara apartheid'.

Komentar itu ditanggapi PM Israel, Benjamin Netanyahu, dengan menyebut Erdogan sebagai salah satu pendukung kuat Hamas.

Kelompok Hamas -yang menguasai Jalur Gaza dan menjadi motor dalam aksi unjuk rasa di perbatasan Gaza dan Israel- ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Bukan pertama kalinya kedua pemimpin itu saling perang kata-kata.

Awal April, Erdogan dan Netanyahu saling menyerang lewat Twitter setelah jatuhnya korban jiwa dalam awal unjuk rasa bergelar 'Pawai Besar Kepulangan' di perbatasan Gaza dengan Israel.

Unjuk rasa itu berlangsung hingga pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jerusalem, Senin (14/05), dan peringatan 70 tahun yang disebut Palestina sebagai Nakba atau pengungsian besar-besaran rakyat Palestina setelah terbentuknya negara Israel, Selasa (15/05).

Israel, Gaza

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Utusan Palestina di PBB menyerukan penghentian operasi militer Israel.

Dalam unjuk rasa Senin awal pekan ini, para pengunjuk rasa Palestina melempari batu dan peralatan pembakar sementara tentara Israel melepas tembakan peluru api dan gas air mata.

Pihak berwenang Palestinya menyebutkan 58 orang dan 2.700 lainnya cedera, termasuk anak-anak.

Hentikan X pesan, 1
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 1

Hentikan X pesan, 2
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 2

Jatuhnya korban jiwa yang besar itu membuat Presiden Erdogan -dalam serangan Twitter terbarunya- menyebut 'ada darah warga Palestina' di tangan Netanyahu.

"Mau pelajaran tentang kemanusiaan? Baca 10 Perintah Tuhan," tambah Presiden Erdogan.

Menanggap komentar itu, Netanyahu mengatakan Erdogan sebagai pendukung berat Hamas dan, "tidak diragukan lagi dia memahami terorisme dan pembantaian. Saya sarankan dia tidak berkhobah tentang moralitas kepada kami."

Salingserang komentar juga terjadi saat Sidang Daurat Dewan Keamanan PBB di New York, Selasa (15/05), antara delegasi Palestina dan Israel.

Utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, mengatakan, "Kami mengecam dalam pengertian paling keras pembantaian menjijikkan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza."

Dia juga menyerukan penghentian operasi militer Israel dan penyelidikan internasional yang transparan untuk yang disebutnya sebagai 'serangan brutal Israel atas rakyat Palestina yang mengungkapkan perlawanannya'.

Gaza, Palestina

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Pihak berwenang di Gaza menyatakan 2.700 orang cedera selain korban 38 jiwa.

Sementara utusan Israel, Danny Danon, berpendapat bahwa insiden di perbatasan 'bukan unjuk rasa, mereka bukan pengunjuk rasa, mereka adalah perusuh dengan kekerasan."

Dia menambahkan Hamas 'menjadikan rakyat sebagai sandera Gaza'

"Mereka memicu orang untuk melakukan kekerasan, menempatkan sebanyak mungkin warga sipil di garis tembak untuk memaksimalkan korban sipil, kemudian mereka menuding Israel dan datang ke PBB untuk protes."