Penyanderaan di Prancis: Penyerang berteriak 'Saya tentara ISIS' - tiga tewas

Sumber gambar, Getty Images
Seorang pria bersenjata yang melakukan penyanderaan di satu supermarket di Trèbes, Prancis selatan, hari Jumat (23/03), tewas ditembak aparat keamanan.
Dalam penyanderaan ini ia menewaskan dua orang, beberapa lainnya luka-luka. Sebelum melancarkan aksi, ia merampas kendaraan dan dalam insiden ini satu orang meninggal dunia.
Sejumlah laporan menyebutkan pria tersebut menyatakan diri memiliki kaitan dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam, yang juga dikenal dengan sebutan ISIS.
Para pejabat pemerintah mengatakan ia bernama Redouane Lakdim, yang berusia 26 tahun. Media memberitakan ia 'bukan nama asing' bagi badan-badan keamanan di Prancis.
Ia dilaporkan bersenjata lengkap dan menuntut pembebasan Salah Abdeslam, tersangka yang melakukan serangan senjata dan bom di Paris pada 2015 yang menewaskan 130 orang.

Saat penyanderaan berlangsung pemerintah Prancis mengerahkan pasukan khusus untuk mengepung supermarket.
Tersangka pelaku menembak seorang anggota polisi yang tengah berlari bersama rekan sesama polisi di Carcassonne, sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil dari lokasi penyanderaan.

Sumber gambar, EPA
Perdana Menteri Édouard Philippe mengatakan semua indikasi menunjukkan bahwa ini adalah 'tindak terorisme'.
Apa yang terjadi?
Kekerasan dimulai pada Jumat pagi di Carcassonne. Ridwan Lakdim membajak sebuah mobil, membunuh seorang penumpang dan melukai pengemudinya. Mayat penumpang itu ditemukan kemudian tersembunyi di semak-semak -
Lakdim kemudian menembak sekelompok polisi yang sedang joging, melukai seorang petugas.
Sesudah itu, Lakdim diyakini mengemudi ke kota kecil Trèbes, yang jaraknya tidak jauh. Di sana ia menyerbu supermarket Super-U, sambil berteriak, "Saya seorang prajurit Daesh (ISIS)!"
Dalam kejadian itu ia membunuh tiga orang - seorang pembeli dan seorang karywan toko - lalu menyandera satu orang.

Sumber gambar, Reuters
Serangan teror terjadi beberapa kali di Prancis sejak 2015 dan pihak berwenang memberlakukan keadaan siaga.
Sejak serangan teror di Paris pada 2015 pemerintah menerapkan keadaan darurat yang baru dicabut pada Oktober 2017.
Pada Februari, Salah Abdeslam mulai disidang di Belgia dalam kasus tembak-menembak di Brussels yang berujung dengan penangkapannya, beberapa bulan setelah melancarkan serangan di Paris.









