Polisi 'harus netral' dalam selesaikan kasus Tanjung Balai

Sumber gambar, Aliansi Sumut Bersatu
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Polisi diminta bersikap netral dalam menyelesaikan kasus perusakan dan pembakaran sejumlah vihara dan kelenteng di Tanjung Balai, Sumatera Utara.
"Negara atau polisi harus netral dalam setiap kekerasan berbau agama," kata politisi dan anggota DPR dari PDI Perjuangan, Eva Sundari, kepada BBC Indonesia, Minggu (31/07) malam.
Dia juga meminta polisi tidak mengulangi modus lama yaitu melindungi pelaku perusakan dari kelompok antitoleran karena alasan meredam isu kesukuan, agama dan ras.
"Ini jangan dijadikan modus terus-menerus oleh negara. Nanti kelompok intoleran makin gede (besar) kepalanya," katanya.
Menurutnya, apabila modus seperti diulangi polisi, kelompok intoleran yang melakuan perusakan dan pembakaran tempat ibadah akan "makin berani".

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU
"Karena merasa seolah polisi atau pun negara memberi angin kepada mereka, dengan mengorbankan mereka yang sebetulnya korban, dalam hal ini kelompok minoritas," kata Eva.
- <link type="page"><caption> Baru dua terduga perusuh Tanjung Balai ditangkap</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160731_indonesia_tanjungbalai_sehari_kemudian" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Tanjung Balai mencekam, toko tutup, belum ada pelaku yang ditangkap</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160730_indonesia_tanjungbalai_update" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Amuk massa di Tanjung Balai, vihara dan kelenteng dibakar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160730_indonesia_rusuh_tanjung_balai" platform="highweb"/></link>
Sampai Minggu (31/07) malam, polisi belum menetapkan tersangka pelaku perusakan sejumlah vihara dan kelenteng di kota Tanjung Balai, kecuali menahan sembilan orang, kata Kapolri Tito Karnavian
Tujuh adalah terduga pelaku penjarahan dan dua orang lainnya diduga melakukan "kekerasan", kata Tito kepada wartawan setelah bertemu berbagai pihak terkait di Tanjung Balai.
Kepolisian, lanjutnya, telah menurunkan tim untuk melacak pengguna media sosial yang dituduh penyebab kerusuhan.

Sumber gambar, Aliansi Sumut Bersatu
"Ada ancaman hukuman bagi mereka yang menyebarkan isu negatif," kata Kapolri.
Bukti melalui CCTV
Temuan awal kepolisian menyebut perusakan sejumlah vihara dan kelenteng di Tanjung Balai diawali permintaan seorang warga agar pimpinan sebuah masjid mengecilkan volume pengeras suara masjidnya.
- <link type="page"><caption> MUI telaah pengeras suara masjid dan pemutaran kaset mengaji</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150609_indonesia_masjid_ngaji" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sebagian masjid 'tidak mematuhi' aturan pengeras suara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150626_indonesia_polemik_pengeras_suaramasjid" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pengeras suara masjid, yang terbantu dan terganggu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150609_trensosial_masjid" platform="highweb"/></link>

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU
Hal ini menimbulkan reaksi penolakan dari sebagian orang. Upaya dialog sudah diupayakan, menurut Kapolri, tetapi kerusuhan pecah beberapa jam kemudian setelah ada provokasi melalui media sosial.
Tito menyebut sudah dilakukan pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat termasuk tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama, gubernur Sumut dan wali kota Tanjung Balai, serta pimpinan kepolisian setempat.
Cari akar masalah
Sementara, Kapolda Sumatra Utara Irjen Budi Winarso kepada wartawan mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki bukti-bukti siapa yang menggerakkan perusakan dan pembakaran tempat ibadah di kota Tanjung Balai.
"Kita temukan (melalui barang bukti CCTV) beberapa yang menggerakkan. Ini kayaknya sistematis," kata Budi Winarso.

Sumber gambar, ALIANSI SUMUT BERSATU
Ada pun anggota Forum kerukunan umat beragama Sumatera Utara, Erwan Effendi mendukung upaya pengusutan siapa aktor di balik kerusuhan Tanjung Balai, tetapi dia meminta akar masalahnya juga dicari.
Dia menduga kerusuhan itu juga puncak dari masalah-masalah yang selama tidak terselesaikan, misalnya soal ekonomi serta pembangunan rumah ibadah.
"Itu (upaya hukum) tidak akan menyelesaikan masalah. Itu (kerusuhan) adalah bagian dari akumulasi masalah-masalah yang muncul. Akar masalahnya harus diselesaikan, misalnya masalah kesenjangan ekonomi," kata Erwan.










