Teman Ahok 'tak ingin jadi batu sandungan' di pilgub Jakarta

Pegiat Teman Ahok mengatakan mereka "tak ingin menjadi sandungan" bagi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di pemilihan gubernur Jakarta pada 2017.
"Kami tak bisa memaksakan rasa ego dan menjadi batu sandungan buat Bapak," kata Singgih Widiyastono, pengurus Teman Ahok di Twitter pada Rabu (27/07) malam.
Ia menambahkan tanda tagar #TetapAhok di beberapa pesan yang ia tulis di layanan media sosial ini.
Komentar ini dikeluarkan setelah Ahok menegaskan bahwa dirinya memutuskan untuk memakai jalur partai politik dalam upaya memenangkan pemilihan gubernur Jakarta.
- <link type="page"><caption> Citra Ahok 'masih positif' di media sosial</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160624_trensosial_ahok_mediasosial.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mendebat dugaan dana reklamasi Rp30 milyar, Tempo, dan teman-teman Ahok</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160621_trensosial_ahok_tempo.shtml" platform="highweb"/></link>
Ahok mengungkapkan sudah ada partai politik yang mendukung dirinya.
"Saya bilang kita juga harus menghargai parpol ... kita pakai parpol sajalah," kata Ahok dalam pertemuan yang dihadiri relawan dan pengurus Teman Ahok.
Kawal dukungan
Sejauh ini tiga partai sudah menunjukkan isyarat mengusung Ahok, yaitu Nasdem, Hanura, dan Golkar.
Teman Ahok adalah gerakan masyarakat yang digalang untuk mencoba mengegolkan pencalonan Ahok melalui jalur independen.
Gerakan ini antara lain berhasil mendapatkan dukungan satu juta KTP warga Jakarta.
"Kami sudah melakukan yang terbaik dan berjuang sekeras mungkin ... tugas kami selanjutnya adalah merawat satu juta dukungan yang dipercayakan ke kami," kata Singgih.
"Kami adalah bus dan parpol adalah mobil mewah. Bus akan berkonvoi dan tetap mengikuti arah mobil mewah tersebut melangkah," kata Singgih.
Ahok, yang tadinya adalah wakil gubernur, menjabat sebagai gubernur Jakarta setelah Joko Widodo terpilih sebagai presiden.
Dalam beberapa jajak pendapat nama Ahok selalu menempati calon terpopuler, meski pernah diperiksa KPK terkait dugaan aliran dana dari pengembang reklamasi.









