Perlukah orang asing diawasi di apartemen Kalibata City?

Lebih dari 200 warga negara asing tinggal di Apartemen Kalibata City.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Lebih dari 200 warga negara asing tinggal di Apartemen Kalibata City.
    • Penulis, Rafki Hidayat
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Sehari setelah peresmian kantor sekretariat tim pengawasan orang asing (Timpora) Kantor Imigrasi Jakarta Selatan di Apartemen Kalibata City, komentar beragam muncul dari penghuni.

Salah satunya Nany Herawati, perempuan paruh baya yang merupakan salah seorang agen penyewaan unit apartemen tersebut.

Bersuara lantang dan sumringah, Nany mengungkapkan persetujuannya atas keberadaan Timpora, karena “banyak orang asing yang legalitasnya tidak ada, tetapi ingin punya unit di Apartemen Kalibata”.

Kondisi tersebut dinilainya membuat kriminalitas kerap terjadi di apartemen yang memiliki tidak kurang dari 18 menara itu.

Nany yang merupakan salah satu agen penyedia unit apartemen di Kalibata City, setuju akan adanya Timpora.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Nany yang merupakan salah satu agen penyedia unit apartemen di Kalibata City, setuju akan adanya Timpora.

“Beberapa bulan lalu ada orang Pakistan, saya tidak tahu mengapa mereka bisa sewa di sini, ternyata dia adalah bandar narkoba dan itu akhirnya ditangkap,” tegas Nany.

"Tidak hanya itu, dua minggu lalu ada orang Nigeria, (pengedar) narkoba juga, ditangkap juga. Apalah itu, dia tidak punya legalitas kali ya,” ungkap agen dari Plus Property yang mengaku hampir 10% unit yang dipegangnya di Apartemen Kalibata disewakan untuk orang asing.

Alasan itulah yang diakui Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan, Cucu Koswala, membuat pihaknya mendirikan sekretariat "di luar kantor" yang biasa.

“Supaya jika ada hal yang mencurigakan dilakukan warga negara asing (WNA), orang bisa dekat dan tidak malas melapor,” tutur Cucu kepada BBC Indonesia, Kamis (26/05).

Cucu Koswala mengungkapkan Timpora didirikan di Kalibata City agar masyarakat lebih gampang mengadu.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Cucu Koswala mengungkapkan Timpora didirikan di Kalibata City agar masyarakat lebih gampang mengadu.

Apalagi, dia menekankan, jumlah WNA di Apartemen Kalibata City banyak, bahkan sulit didata oleh pemilik apartemen karena pemilik unit tidak langsung menyewakan ke orang asing, tetapi lewat agen, seperti Nany.

Berdasarkan data yang dimiliki Cucu, jumlah WNA di Apartemen Kalibata City “lebih dari 200 orang dan mungkin masih banyak yang tidak terdata.

‘Jangan melulu kriminalitas’

Di lain pihak, suara berbeda muncul dari Erik Van Der Weerd, salah seorang penghuni apartemen asal Belanda.

Lelaki yang telah tinggal di Indonesia sekitar satu tahun itu menyebut, meskipun "tidak masalah" dengan keberadaan Timpora, sekretariat dinilainya ‘jangan melulu’ berfokus terhadap kriminalitas di apartemen.

Timpora diresmikan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan pada Rabu (25/05).

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Timpora diresmikan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan pada Rabu (25/05).

Imigrasi diharapkannya juga harus menjadikan “Timpora sebagai wadah yang dapat mempercepat proses pengurusan berbagai berkas yang diperlukan warga asing”.

“Bahkan untuk membuat Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) saya harus tunggu sampai dua bulan,” keluhnya.

Seperti diketahui, tidak hanya secara rutin melakukan razia narkoba dan penggerebekan aktivitas pelacuran dengan pelaku orang asing, imigrasi dan kepolisian kerap melakukan razia berkas-berkas WNA.

“Kalau langgar imigrasi, akan ditangani. Kalau tidak penuhi unsur (yang wajib dimiliki), kita deportasi dan masukkan dalam data tangkal,” tegas Cucu.

Razia narkoba dan penggerebekan aktivitas pelacuran kerap terjadi di apartemen tersebut.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Razia narkoba dan penggerebekan aktivitas pelacuran kerap terjadi di apartemen tersebut.

Meskipun begitu, Cucu mengklaim Timpora tidak hanya menjadi tempat pengaduan, tetapi juga tempat menyelesaikan “berbagai masalah imigrasi WNA dengan lebih cepat”.

Timpora di Kalibata City, disebutnya tidak hanya menjadi sekretariat bagi penghuni apartemen, tetapi untuk seluruh warga Jakarta Selatan.

Berdasarkan data terakhir kantor imigrasi, sebanyak 11.000 WNA tercatat tinggal di Jakarta Selatan. Jumlah tersebut hampir seperempat dari total WNA di Jakarta.

Kalau tidak salah mengapa takut?

Banyaknya WNA di Jakarta Selatan, khususnya di Apartemen Kalibata City, dan kerap terjadinya kriminalitas oleh orang asing di sana, tidak membuat salah satu penghuni unit di Apartemen tersebut, Achmad Ritopan merasa terancam.

“Karena balik lagi, kalau tinggal di apartemen, urusan lo ya urusan lo, urusan gue ya urusan gue,” ungkapnya.

Achmad Ritopan di ruang apartemennya di Kalibata City.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Achmad Ritopan di ruang apartemennya di Kalibata City.

Ada atau tidak ada Timpora pun dinilainya tidak terlalu berpengaruh, karena ketidaknyaman yang dirasakannya hanya seputar‘sekolompok WNA dari wilayah tertentu yang kerap “ngobrol dengan bahasa mereka, dengan suara yang keras sekali.”

“Tetapi ya belum sampai risih, belum terlalu mengganggu memang”.

  • <link type="page"><caption> Jika terbukti menghasut, DiCaprio terancam dilarang ke Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160401_indonesia_leonardo_deportasi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Universitas palsu AS ungkap pelanggaran imigrasi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160406_majalah_amerika_universitas" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Australia: Tak ada pencari suaka dalam tempo 600 hari</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160317_dunia_australia_suaka" platform="highweb"/></link>

Dengan adanya Timpora di Apartemen Kalibata City, kehadiran imigrasi tidak lagi hanya melalui penggerebekan dan pemantauan berkala, tetapi langsung berada di lokasi.

Lauren Shipman, seorang warga negara Australia yang sudah 14 tahun tinggal di Indonesia dan pernah menghuni Apartemen Kalibata City menegaskan, WNA tidak perlu risih dengan adanya Timpora, “karena jumlah orang asing di Kalibata sangat tinggi, jadi memang perlu dipantau”.

Perempuan yang bekerja sebagai copy writer itu menyatakan, “Jika kita (orang asing) tidak melakukan kejahatan atau kesalahan, misalnya berkas-berkas kunjungan atau tinggal kita lengkap, ya kita tidak perlu takut. Kecuali kalau memang kita melakukan kesalahan.”

Ketika didatangi pada Kamis (26/05), kantor Timpora kosong.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Ketika didatangi pada Kamis (26/05), kantor Timpora kosong.

Dengan segala macam tanggapan tentang Timpora tersebut, BBC Indonesia pun mendatangi kantor yang diresmikan Rabu (25/05) itu. Tetapi ternyata kantor Timpora di Apartemen Kalibata City, kosong.

Hanya ada sebuah meja resepsionis dan meja kerja panjang dengan tiga kursi.

Tidak ada petugas Timpora di sana. Hanya seorang petugas pembersih ruangan.

“Oh iya, kan tim-nya dari berbagai instansi, ada dari TNI, polisi, ketenagakerjaan dan imigrasi. Susah kan mengumpulkannya. Jadi, mungkin Senin (30/05) lah baru beroperasi,” pungkas Cucu.