Rawan bencana, warga di sekitar Gunung Sinabung 'harus direlokasi'

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Jerome Wirawan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 3 menit
Sudah tujuh warga di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, meninggal dunia sejak Gunung Sinabung meluncurkan awan panas pada Sabtu (21/05) lalu.
Semua korban adalah warga Desa Gamber, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo yang berada dalam radius lima kilometer dari puncak gunung. Mereka diyakini tengah bertani ketika awan panas meluncur.
Pelin Depari, relawan sekaligus pengungsi Gunung Sinabung, mengatakan jatuhnya korban disebabkan kelalaian para penduduk desa yang berkeras menuju lahan pertanian. Padahal wilayah itu masuk kategori zona merah, daerah tertutup untuk masyarakat karena bahaya yang ditimbulkan aktivitas gunung.
“Mereka selalu masuk zona merah lewat jalan-jalan tikus, bukan dari jalan umum. Jalan umum sudah dijaga oleh aparat keamanan,” kata Pelin kepada BBC Indonesia.
- <link type="page"><caption> BNPB: Enam tewas, tiga kritis akibat awan panas Sinabung</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160522_indonesia_korban_sinabung" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sejumlah 'PR' masih menanti Jokowi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/10/141029_jokowi_blusukan_sinabung" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mencoba bertahan, di tengah bencana</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/07/150726_majalah_lingkungan_gunung" platform="highweb"/></link>

Sumber gambar, AP
Namun, tidak semua pengungsi sependapat dengan Pelin. Ketika ribuan warga Kabupaten Karo mengungsi tahun lalu, <link type="page"><caption> seorang warga bernama Abdi Kacaribu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/07/150726_majalah_lingkungan_gunung" platform="highweb"/></link> mengaku perlu kembali bertani seperti layaknya di kampung halaman.
"Yang kami butuhkan adalah kami bisa bekerja, seperti layaknya di kampung. Kami butuh merasa mandiri."
Keinginan Abdi bisa dipahami, namun demi keamanan dia dan penduduk desa lainnya didesak untuk tak lagi bertani di zona merah. Jika imbauan tersebut dipatuhi, menurut pakar vulkanologi, Surono, potensi risiko bencana bisa dikurangi.

Sumber gambar, AFP
“Pada prinsipnya, letusan Gunung Sinabung belum pernah keluar dari radius lima kilometer, sampai sekarang. Yang jadi masalah adalah karena Gunung Sinabung ini lama tidak meletus, sehingga masyarakat terlalu dekat dengan Gunung Sinabung. Itu menjadi masalah, risiko bencana menjadi terlalu tinggi,” kata Surono.
Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana itu menyarankan agar radius lima kilometer dari puncak gunung tidak lagi dihuni manusia.
“Itu kan daerah yang bahaya, daerah yang harus kosong dari aktivitas masyarakat. Harus direlokasi bahkan,” tambah Surono.
Relokasi desa
Soal relokasi, Nata Nail selaku Kepala Bidang Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, mengatakan terdapat tiga desa yang dalam proses pemindahan, yakni Desa Bakerah, Simacem, dan Sukameriah.
Untuk tahun ini, Nata Nail mengaku BPBD Kabupaten Karo bersiap memindahkan empat desa, yakni Desa Gamber, Kuta Tonggal, Gurukinayan, dan Berastepu.

Sumber gambar, Reuters
Sambil menunggu proses relokasi, menurut Nata Nail, masyarakat ditempatkan di hunian sementara. Mereka diberikan bantuan sewa rumah sebesar Rp 3,6 juta/KK/tahun dan sewa lahan pertanian sebesar Rp 2 juta/KK/tahun.
- <link type="page"><caption> Sekitar 3.000 warga Gunung Sinabung mengungsi </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150615_indonesia_sinabung_pengungsi" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Proses evakuasi Sinabung dilanjutkan </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/02/140203_sinabung" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Vulkanolog: Erupsi Sinabung belum sebesar Merapi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/01/140121_sains_gunung_sinabung" platform="highweb"/></link>
Selama enam tahun terakhir, aktivitas Gunung Sinabung nyaris tak pernah absen setiap tahun. <link type="page"><caption> Pada Juni 2015, muntahan awan dan gas panas</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150615_indonesia_sinabung_pengungsi" platform="highweb"/></link> dengan kecepatan tinggi meluncur ke lereng gunung sehingga sebanyak 3.000 orang diungsikan.

Sumber gambar, AP
Kemudian, setahun sebelumnya, <link type="page"><caption> 15 orang meninggal dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/02/140203_sinabung" platform="highweb"/></link>. Situasi ini menandakan warga harus tetap waspada.
“Saya bilang ke teman-teman relawan, bahwa letusan ini bakal panjang. Kalau pertandingan lari, ini bukan sprint, tapi maraton sehingga harus sabar, mengatur ritme dan sebagainya,” kata pakar vulknaologi, Surono.
Terdapat empat tingkat isyarat terkait aktivitas gunung berapi, yakni normal, waspada, siaga, dan tingkat tertinggi, awas, yang artinya letusan bisa terjadi sewaktu-waktu.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Gunung Sinabung telah berada pada tingkat awas sejak Juni 2015.











