Sandera Kanada dipenggal, keluarga sandera Indonesia semakin cemas

Sumber gambar, Bagus Ocky
- Penulis, Rafki Hidayat
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Pemenggalan warga negara Kanada, John Ridsdel, oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, setelah pembayaran tebusan tidak dilakukan, membuat sejumlah keluarga sandera Abu Sayyaf asal Indonesia semakin cemas.
“Saya sangat mencemaskan Pak. Bagaimanalah nasib anak saya. Rasa-ranya tidak sanggup saya membayangkannya,” ungkap Aidil, ayah dari Wendi Rakhadian, salah satu awak kapal Anand 12, yang dirompak milisi asal Filipina, akhir Maret lalu.
Kekhawatiran yang sama diungkapkan keluarga Alvian Elvis Peti, lelaki berdarah Sulawesi Utara dan berdomisili di Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang juga merupakan awak kapal pengangkut batubara itu.
- <link type="page"><caption> Sandera di Filipina dipenggal, PM Kanada 'marah besar'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160425_dunia_kanada_filipina" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pemerintah pertimbangkan menebus 10 WNI yang disandera</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160330_indonesia_tebusan_abusayyaf" platform="highweb"/></link>
- Dua kapal Indonesia dibajak di Filipina, 10 WNI disandera
“Panik. Mereka (Abu Sayyaf) kan meminta tebusan begitu juga (terhadap Alvian). Kalau nggak ditebus juga ya, mereka juga, pasti mereka buat hal yang sama”, tutur Dedi yang merupakan sepupu dari Alvian kepada BBC Indonesia, Selasa (26/04).

Sumber gambar, AFP
Berbeda dengan Wendi yang telah bekerja di kapal sejak tiga tahun terakhir, Alvian, menurut Dedi baru bekerja di kapal sejak Januari 2016.
Keduanya adalah anak buah kapal (ABK) tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12, yang dirompak milisi Abu Sayyaf di perairan Tawi-tawi, Filipina Selatan, saat berlayar dari Kalimantan Selatan dengan tujuan Filipina, pada akhir Maret.
Setelah kapal mereka yang mengangkut 7.000 ton batubara dirompak, Wendi dan Alvian, bersama delapan ABK asal Indonesia lainnya, diculik oleh kelompok yang sebagian besar mendiami pulau Jolo, Basilan dan Mindanao di Filipina itu.
Abu Sayyaf menyebut kesepuluh sandera akan dibebaskan jika tebusan 50 juta Peso Filipina atau sekitar Rp15 miliar dibayarkan.
Tidak makan, tidak tidur

Sumber gambar, Reuters
Bagi Aidil, yang berprofesi sebagai Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban di Kantor Lurah Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, kejadian yang menimpa anaknya, telah mengubah kesehariannya.
Dengan suara bergetar, Aidil berucap, “Kami orang tuanya, baik ibunya, baik saya, tidak bisa makan. Tidur kurang Pak. Jadi teringat-ingat, terbayang-bayang terus wajah anak saya itu”.
Aidil dan sang istri, kerap membayangkan apa yang sedang dilakukan Wendi saat disandera atau apa yang sedang dilihat dan dirasakan putranya itu.
“Saya bertanya-tanya, apa dia lagi makan, lagi minum, apa lagi bagaimana Pak. Tidak dapat dibayangkan Pak. Sebagai orang tua, saya berdoa mudah-mudahan dia diselamatkan. Itu saja harapan kita Pak.”
Presiden tolak bayar tebusan

Sumber gambar, Ocky Anugrah Mahesa
Di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah tak akan membayar uang tebusan untuk membebaskan warga negara Indonesia yang diculik Abu Sayyaf di Filipina.
"Kami tidak pernah berkompromi dengan hal-hal seperti itu. Jadi tidak ada urusan sama yang namanya uang dan tebusan," kata Jokowi kepada wartawan, Selasa (26/04).
Meskipun begitu, Presiden menjamin hingga kini semua sandera masih dalam kondisi baik.
Jokowi menambahkan pemerintah terus berkomunikasi dengan pemerintah Filipina ataupun kelompok Abu Sayyaf dalam upaya membebaskan sandera.
Pernyataan Presiden ini bertolak belakang dengan harapan keluarga sandera.

Sumber gambar, AP
Apalagi Menteri koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Pandjaitan, Selasa lalu (19/04) menyebut PT Patria Maritime Lines, pemilik kedua kapal yang dirompak, telah sepakat membayar sejumlah uang untuk pembebasan ABK.
“Kalau orang tua inginkan Pak, kepastian yang perlu Pak. Dari pemerintah kepastian. Tapi sekarang nggak ada kepastian, kita bingung jadinya,” keluh Aidil.
“Secepatnya lebih baik. Cuma keselamatan orang-orang ini yang saya harapkan. Sudah lama soalnya, sudah sebulan”.
Senada, Dedi berharap pemerintah dan pemilik kapal 'cepat membayar' tebusan, agar sepupunya, Alvian, 'bisa segera kembali bertemu istri dan anaknya'.
Ketika ditanya kepada keluarga sandera, apa yang telah mereka lakukan untuk mempercepat proses kepulangan keluarganya, mereka menjawab tidak banyak yang dapat diperbuat.
“Pihak kapal dan pemerintah yang menelpon, meminta kami untuk bersabar saja”, ungkap Aidil.

Sumber gambar, Agus Bagas
Itu juga diutarakan Hendri, sepupu dari ABK Peter Tonsen Barahama, asal Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
“Usaha kami, cuma dalam doa saja, meskipun sekarang belum ada titik terangnya,” pungkas Hendri.









