Aidil was-was menunggu kabar putranya yang disandera Abu Sayyaf

Aidil memegang telepon selular yang memperlihatkan foto putranya, Wendi, yang disandera abu Sayyaf.

Sumber gambar, Ocky Anugrah Mahesa

Keterangan gambar, Aidil memegang telepon selular yang memperlihatkan foto putranya, Wendi, yang disandera abu Sayyaf.

Hingga Kamis (31/03), pemerintah belum memaparkan nasib dari 10 anak buah kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang disandera milisi Abu Sayyaf di selatan Filipina. Kekhawatiran pun merundung keluarga anak buah kapal.

Salah satunya adalah Aidil, 55, ayah dari Wendi Rakhadian, salah satu awak kapal Anand 12.

Kepada Ocky Anugrah Mahesa, wartawan di Kota Padang, Sumatera Barat, Aidil menuturkan bahwa dia mengetahui kapal yang dinaiki anaknya dirompak, setelah ditelepon PT Patria Maritime Lines, pemilik kedua kapal.

“Waktu itu hari Minggu, tanggal 27. Orang ditelpon bertanya, ‘Ini Bapak Aidil ya? Bapaknya Wendi Raknadian?’ Terus dia bilang kapal Wendi ada masalah. Saya tanya, masalah apa, dia bilang kapalnya ditahan perompak,” ungkap Aidil.

Kapal Brahma 12 dan Anand 12, saat itu sedang dalam perjalanan menuju Filipina dari Kalimantan Selatan. Kapal Anand 12 bahkan membawa 7.000 ton batubara.

  • <link type="page"><caption> Pemerintah pertimbangkan menebus 10 WNI yang disandera</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160330_indonesia_tebusan_abusayyaf" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Dua kapal Indonesia dibajak di Filipina, 10 WNI disandera</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160329_indonesia_kapal_dibajak_filipina" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> ABK Sinar Kudus dilepaskan perompak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2011/05/110501_sinarkudusfreed.shtml" platform="highweb"/></link>

Aidil menuturkan dirinya sangat terkejut saat mendengarkan berita yang dibawa pemilik kapal. Dia langsung teringat bagaimana awalnya Wendi memulai profesi sebagai anak buah kapal (ABK).

“Sebelumnya Wendi bekerja di Batam. Lalu ia pergi ke Jakarta untuk sekolah ABK kapal. Tamat sekolah, dia langsung naik kapal. Dia sebenarnya diajak adik kangdungnya, yang sudah 5 tahun di kapal. Adiknya juga bekerja di kapal pengangkut batubara juga”.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, belum mau menyampaikan detail kondisi sandera.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, belum mau menyampaikan detail kondisi sandera.

Telah tiga tahun bekerja di kapal, inilah pertama kali dia mendengarkan kapal “tidak menyenangkan” terkait putranya itu.

“Terakhir kali dia ngontak saya hari Rabu, tanggal 23. Kira-kira jam tujuh malam, habis Maghrib. Dia bilang sudah empat hari berangkat dari Banjarmasin ke Filipina. Kapalnya udah muat (batubara). ‘Bapak saya sudah tiba di perbatasan Malaysia’, katanya. Saya tanya, ‘gimana keadaan Wendi?’, ‘Sehat-sehat saja’. Lalu dia tanya keadaan saya, ibunya dan adik-adiknya. Itu terakhir kali kami berbicara.”

Milisi Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta Peso Filipina atau sekitar Rp15 miliar agar 10 sandera bisa dibebaskan.

Aidil, yang sehari-hari berprofesi sebagai Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban di Kantor Lurah Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, menilai “meskipun besar, tapi tergantung pemerintah dan perusahaan. Kalau mau bayar ya nggak apa. Cuma dari orang tua, saya berharap semoga anak saya selamat. Jangan terancamlah nyawanya.”

“Terakhir (dari pihak kapal bilang) supaya saya bersabar. Ada informasi kapten kapal sudah telepon perusahaan, anak-anak yang disandera, katanya sehat. Tapi peerasaan saya tetap was-was, soalnya saya belum lihat (sendiri) bagaimana keadaannya. Berdoa aja, mudah-mudahan dia selamat.”