Bebas dua tahun lagi, terduga otak serangan Thamrin masih radikal

Pos polisi yang terkena serangan bom bunuh diri di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari lalu.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Pos polisi yang terkena serangan bom bunuh diri di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari lalu.

Aman Abdurrahman, tokoh ISIS di Indonesia yang diduga meradikalisasi pelaku serangan di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 14 Januari lalu, masih radikal. Padahal, Aman akan mengakhiri masa tahanan di LP Nusa Kambangan dalam dua tahun mendatang.

“Jika masa tahanannya habis dua tahun ke depan, BNPT tak bisa buat apa-apa. Kita ikut aturan hukum. Meskipun masih radikal, masa hukuman sudah habis, dia harus keluar,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution kepada wartawan BBC Indonesia, Rafki Hidayat.

Saud mengatakan berupaya untuk berdialog dengan Aman dan sudah pula memindahkan penempatan Aman agar dia tidak mempengaruhi sesama narapidana.

“Kami mencari cara bagaimana supaya yang sudah radikal ini dipisah-pisah, jangan sampai mempengaruhi yang lain. Jangan digabung. Aman Abdurahman salah satu yang keras, sangat keras sekali. Sulit bagi kita untuk berkomunikasi,” katanya.

Aman Abdurrahman ialah sosok yang dikenal menghubungkan sejumlah kelompok radikal di Indonesia dengan ISIS di Suriah. Bahkan, <link type="page"><caption> dari balik jeruji</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/12/101220_aceh_terrorism" platform="highweb"/></link>, dia diduga <link type="page"><caption> melakukan perekrutan untuk ISIS</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/03/150316_wni_mudah_isis" platform="highweb"/></link>, menyebarkan propaganda, dan melakukan radikalisasi terhadap sesama narapidana.

Saat ini Aman masih berada di LP Nusa Kambangan karena <link type="page"><caption> terbukti membantu pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho Aceh Besar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/12/101220_aceh_terrorism" platform="highweb"/></link>.

Afif alias Sunakim, pelaku serangan di kawasan MH Thamrin, Jakarta, 14 Januari lalu, menjadi radikal setelah bertemu Aman Abdrurrahman di penjara.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Afif alias Sunakim, pelaku serangan di kawasan MH Thamrin, Jakarta, 14 Januari lalu, menjadi radikal setelah bertemu Aman Abdrurrahman di penjara.

Afif alias Sunakim ialah salah satunya. Pelaku serangan di kawasan MH Thamrin pada 14 Januari lalu itu <link type="page"><caption> menjadi radikal setelah bertemu Aman Abdurrahman</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160115_indonesia_kapolri_update_jakarta" platform="highweb"/></link> saat keduanya di penjara.

"Di penjara, ideologi Afif bertambah radikal, apalagi setelah dia bertemu Aman Abdurrahman, tokoh ISIS di Indonesia," kata pengamat terorisme, Solahuddin.

Bahkan, <link type="page"><caption> Bahrun Naim yang disebut-sebut sebagai dalang serangan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160115_indonesia_bahrunnaim" platform="highweb"/></link> di kawasan MH Thamrin, dikenal dekat dengan Aman Abdurrahman dan menjadi anggota kelompok pengajiannya sebelum bertolak dari Indonesia.

Karena itu, menurut Saud Nasution, Aman Abdurrahman akan dimonitor setelah bebas dari penjara.

“Kewajiban kita untuk monitor. Mereka nggak boleh disendirikan. Jangan dibiarkan sosialisasi sendiri,” kata Saud.

Ucapan Saud <link type="page"><caption> senada dengan pernyataan Menko Polhukam, Luhut Panjaitan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160118_indonesia_teroris_penjara" platform="highweb"/></link>.

Menurut Luhut, salah satu cara mencegah penyebaran ideologi sesat adalah dengan melakukan pendampingan kepada mantan terpidana teroris setelah keluar dari penjara dan ketika di penjara.

Masalahnya, tidak jelas bagaimana mekanisme pemantauan itu. Karena nyatanya, sebagian napi kasus terorisme yang bebas, kembali terlibat dalam aksi terorisme.