Di balik partisipasi Pilkada 2015 'yang menurun'

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Sehari setelah pemilihan kepala daerah secara serentak di 264 wilayah, partisipasi para pemilih yang rendah menjadi tema paling banyak diliput oleh media massa di Indonesia.
Hal itu diungkapkan oleh Rustika Herlambang dari Indonesian Indicator, sebuah lembaga yang menelusuri peliputan media.
"Dari 358 media yang membicarakan tentang pilkada di Indonesia ternyata partisipasi pemilih merupakan yang paling banyak diberitakan."
Hingga saat ini belum ada angka resmi tentang partisipasi para pemilih dalam <link type="page"><caption> Pilkada 2015 -yang berlangsung serentak pertama kali secara nasional-</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/pilkada_serentak2015" platform="highweb"/></link> dari Komisi Pemilihan Umum, namun tampaknya tingkat partisipasi memang menurun.
"Jadi kalau dalam temuan-temuan media, dikatakan partisipasi pemilih itu rendah, KPU juga mengatakan partisipasinya menurun, menurut lembaga-lembaga survei juga begitu, menurun dari Pemilu 2014 lalu," tambah Rustika.
Beberapa daerah yang partisipasinya diperkirakan di bawah 50% antara lain adalah Medan yang melakukan pemilihan walikota Medan, Surabaya yang melakukan pemilihan walikota, atau Manado untuk pemilihan Gubernur Sulawesi Utara.
Gema yang lebih rendah?
Di Medan, salah seorang pemilih yang tidak menggunakan suaranya, Monang Sitorus, mengaku kehilangan kepercayaan dengan para pemimpin di Medan, dan Indonesia, pada umumnya.
"Saya merasa skeptis dengan calon pemimpin kota Medan untuk lima tahun mendatang. Banyak pemimpin di Indonesia yang telah menyalahgunakan wewenangnya dan terlibat korupsi.

Sumber gambar, Elina Budiarti
Seorang pemilih lain, Fahris Tanjung, mengaku tidak akan ada perubahan lewat pemilihan pemimpin.
"Intinya pemerintah zaman sekarang gitu-gitu saja. Pemimpjn yang sudah bekerja di pemerintahan sama saja sampai sekarang."
Dua walikota Medan -Rahudman Harahap dan Abdillah- merupakan terpidana kasus korupsi sedangkan satu Gubernur Sumatra Utara, Syamsul Arifin, terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan seorang lagi, Gatot Pujo Nugroho, menjadi tersangka dalam kasus korupsi di KPK.
Tapi apakah skeptisisme semata-mata yang menjadi alasan penurunan partisipasi para pemilih itu? Dodi Ambardi, Direktur Lembaga Survei, menduga ada kaitannya dengan perubahan mode kampanye.
"Kampanye sebagian itu dikelola oleh KPU jadi tidak ada lagi persaingan untuk menguasai media, membelanjakan besar-besaran untuk baliho, poster dan lain sebagainya."
Oleh karena itu, tambah Dodi, gema Pilkada 2015 ini lebih rendah dibanding pilkada sebelumnya.









