Kaum muda yang mau memilih tapi tak mau 'repot'

Waktu membaca: 3 menit

Pemilihan kepala daerah yang berlangsung serentak di 269 provinsi dan kabupaten/kota pada Rabu 9 Desember mendatang, disambut dengan penuh semangat oleh beberapa mahasiswa Universitas Palangkaraya.

Ditemui ketika sedang istirahat dari perkuliahan, keenam mahasiswa mengaku ingin berpartisipasi dan berpendapat suara mereka penting bagi pembangunan daerah tempat tinggal mereka, Provinsi Kalimantan Tengah, namun beberapa mengaku terlalu sibuk untuk mengurus hak pilihnya.

Sebagai universitas yang menjadi salah satu pilihan utama di Kalimantan Tengah, banyak mahasiswa Universitas Palangkaraya yang berasal dari luar ibukota provinsi tersebut.

Jadi memberikan suara berarti harus pulang kampung atau mengurus perpindahan hak pilih dari tempat asal ke Palangkaraya, yang menurut mereka terlalu merepotkan.

Beberapa malah tidak tahu <link type="page"><caption> calon yang akan berlaga di Kalimantan Tengah, yang awalnya tiga pasangan calon,</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151201_indonesia_pilkada_kalteng_preview" platform="highweb"/></link> yaitu Sugianto Sabran-Habib H Said Ismail, Willy Yoseph- Wahyudi K Anwar, dan Ujang Iskandar-Jawawi, namun belakangan pasangan Ujang-Jawawi dianulir oleh KPU.

Berikut pendapat para mahasiswa tersebut.

Cendani

Cendani
Keterangan gambar, Cendani mengatakan tidak punya waktu buat ngurus pemindahan tempat memilih.

"Saya sebenarnya tertarik tapi saya dari Pangkalan Bun. Kalau ngurus segala sesuatu buat pemindahan untuk memilih di sini itu ribet-ribet juga. Nggak ada waktu buat ngurusnya. Tentu peduli karena ini kan daerah kita sendiri, cuma proses pemindahan pemilihan itu susah."

"Saya tahu calonnya, Sugianto dan Willy."

Arta Sihombing

Arta Sihombing
Keterangan gambar, Arta Sihombing berpendapat suara masyarakat penting untuk memilih pemimpinya.

"Kalau menurut saya pribadi tentu suara dari masyarakat itu penting karena akan menentukan pemimpin kita. Pilkada ini kan untuk memilih gubernur jadi harus, gimana ya, ikut berpartisipasi. Saya akan ikut memilih."

"Saya cuma tahu satu calon saja, Pak Willy."

Yuni

Yuni
Keterangan gambar, Yuni bisa memilih di kampung asal tapi memutuskan tdak pulang kampung saat pencoblosan suara pilkada.

"Saya sangat tertarik dengan pemilihan gubernur ini, soalnya gubernur ini tidak mungkin akan menjadi pemimpin kalau masyarakat tidak memilih. Saya sebenarnya bisa memilih tapi milihnya di kampung saya, jadi saya tidak milih di pilkada. Itu kan perlu dana lagi untuk pulang kampung."

"Saya juga cuma tahu Pak Willy."

Gigih

Gigih
Keterangan gambar, Gigih belum mendapat kartu untuk memilih di Palangkaraya.

"Saya dari Palangkaraya tapi belum mendapat kartu untuk memilih sampai sekarang (Selasa 1 Desember), belum mendapat pemberitahuan dari RT. Pingin tahu tapi karena kesibukan nggak bisa menanyakan langsung ke RT. Ini padahal pemilihan pertama saya. Mestinya situs KPU itu ada untuk bisa melihat daftar-daftar RT terus apakah ada nama kita di dalam situ, tapi belum ada kayaknya gitu."

"Kalau tidak salah ada tiga calon tapi saya dengar salah satunya ada masalah jadi sisanya tinggal dua calon."

Nurul

Nurul
Keterangan gambar, Nurul tidak sempat mengurus perpindahan tempat memilih.

"Sekarang ini kan ngurus kuliah juga mana mau ujian terakhir, nggak sempat ngurus yang gitu-gitu (perpindahan tempat memilih). Tapi sebenarnya dalam diri saya ini, pingin milih, Kalau menurut saya, tidak ada solusinya bagi kami, belum terpikirkan bisa nggak memilih lewat pos dan internet."

"Saya sudah lupa calonnya siapa saja..."

Epa

Epa
Keterangan gambar, Musim ujian, menurut Epa, membuatnya susah untuk memindahkan tempat pemilihan.

"Bagaimana ya, saya ini dari kampung. Saya juga buat belum KTP di sini tapi di kampung saya sudah ada. Jadi susah untuk memindahkan tempat pemilhan, apalagi ini musim ujian akhir tahun. Waktu pemilihan presiden saya milih di kampung."

"Lupa siapa calon gubernurnya."