Setelah asap hilang, sebagian pemilih Kalteng tuntut jalan

    • Penulis, Liston Siregar
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia di Palangkaraya
  • Waktu membaca: 2 menit

Warga Desa Bereng Bengkel bisa digolongkan sebagai korban total dari bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa kawasan di Indonesia hingga awal November lalu.

Begitu lepas dari jalan raya dari ibu kota Kalimantan Tengah, Palangkaraya, dan memasuki jalan tanah yang naik turun dan sedikit jalan aspal kasar, siang Rabu (02/12)itu, tak terlihat ada bekas kawasan hutan dan lahan yang bekas terbakar di sekitar.

Tapi pada masa puncaknya, kabut asap tebal -kiriman dari kawasan lain- melanda desa ini dengan jarak pandang yang hanya sekitar tiga meter, yang jelas menghambat kegiatan rutin sehari-hari.

Dan di desa inilah, Sarifah, yang berusia 22 tahun, meninggal di tengah-tengah kabut asap yang melanda.

"Kami disuruh dokter dan disuruh beli oksigen untuk persedian di rumah. Pas magrib dibawa, malamnya tak sampai dua jam di rumah langsung meninggal. Sesak nafasnya luar biasa lagi," kenang ibunya, Siti Nining.

Paru-paru hitam

Warga Desa Bereng Bengkel
Keterangan gambar, Warga Desa Bereng Bengkel sudah terbebas dari kungkungan asap, paling tidak untuk sementara.

Putri sulungnya itu tidak pernah menderita asma dan menderita sesak nafas ketika kabut asap mulai menyerang sampai sempat dirawat ke rumah sakit Palangkaraya selama lima minggu untuk mendapat bantuan tabung oksigen sebelum disuruh pulang.

"Bilangnya untuk pasien mandiri supaya pasien mandiri, tidak bergantung oksigen lagi. Nggak tahulah, begitu disuruhnya," tambah Siti Nining.

Tidak jelas penyebab wafatnya Sarifah, selain menderita sesak nafas ketika kabut asap menyerang desa tempat tinggalnya.

Namun Shinta dari Gerakan Dayak Voices -yang mendampingi warga Bereng Bengkel untuk menghadapi serbuan asap- yakin bahwa meninggalnya Sarifah amat berkaitan dengan kabut asap yang sama.

"Karena asap ini dimulai tahun 1997 dan setiap tahun selama 18 tahun terpapar asap yang sama sehinga tidak heran terjadi kerusakan pada paru-paru."

Shinta menambahkan dalam pemeriksaan kesehatan atas Sarifah ditemukan paru-parunya sudah hitam semua.

"Padahal tidak merokok, tidak ada riwayat sakit asma dan sebagainya tapi paru-parunya bisa hitam," tegas Shinta.

Jalan

Masker
Keterangan gambar, Masker yang dibagikan Gerakan Dayak Voices belum dibuang: siapa tahu...

Bagaimanapun, Siti Nining memilih pasrah, juga pasrah tidak mendapat santunan untuk korban jiwa terkait asap, seperti yang pernah dijanjikan pemerintah ketika kebakaran hutan dan lahan masih pada masa-masa puncaknya.

Kini kabut asap sudah menghilang dan Desa Bereng Bengkel di tepi Sungai Kahayan ini kembali ke kehidupan rutin sehari-harinya, walau jelas tidak sepenuhnya bagi Siti Nining.

Di depan teras rumahnya, dia bersama sekitar 10 ibu-ibu lainnya ngobrol ringan siang itu, Rabu (02/12), sementara anak-anak berlarian bebas di jalanan.

Pilkada tinggal seminggu lagi, dan apa harapan utama mereka dari dua calon gubernur yang akan berlaga pada 9 Desember mendatang?

Desa Bereng Bengkel
Keterangan gambar, Musim hujan membawa ancaman banjir bagi Desa Bereng Bengkel.

Hampir semuanya menjawab cepat dan penuh semangat: perbaikan jalan desa.

Terletak di bantaran Sungai Kahayan, bukan saja sebagian masih berupa jalan tanah tapi musim hujan juga membawa kemungkinan bencana baru: banjir yang menutup jalan raya.

"Mau belanja ke kota harus naik perahu feri, bayarnya sekali jalan Rp15.000," kata seorag ibu.

"Sudah dari dulu kami minta, tapi tidak pernah diperbaiki juga," tambah ibu yang lainnya.

Saya langsung teringat dengan Dekan FISIP Universitas Palangkaraya, Prof. Kumpiady Widen, yang saya wawancarai sebelumnya.

Guru besar itu mengamati bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak menjadi tema utama dalam kampanye para calon gubernur Provinsi Kalimantan Tengah.

"Dari masyarakat sendiri kurang antusias untuk hal itu karena menurut mereka itu hal biasa yang sudah terjadi."

Serangan kabut asap sudah berlangsung sejak tahun 1997 dan mungkin sudah menjadi biasa dan bisa jadi akan tetap biasa pula di tahun-tahun mendatang.