Warga Kalteng: Kami bukan hirup udara, kami menghirup racun
- Penulis, Christine Franciska
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
- Waktu membaca: 3 menit
Selama 18 tahun hidup dengan kabut asap, bagaimana warga di Kalimantan Tengah menghadapinya? Apa yang mereka rasakan, dan bagaimana para relawan membantu penanganan kabut asap?
BBC Indonesia berbicara kepada banyak orang untuk mendengar suara-suara mereka dan inilah di antaranya:
Hampir membakar rumah
"Kalau masalah kebakaran itu, baru kemarin hari, mulai jam empat sore, mulai di belakang rumah itu sampai Laut Sebangau. Anak ibu yang panggil petugas pemadaman, dan setelah itu (mereka) datang dan api agak kurang. Ibu takut sekali waktu itu, takut api merembet ke rumah, api besar." Marti, 55 tahun, warga Desa Kereng Bangkirai, Kota Palangkaraya

Di Kalimantan, air tidak bisa diatur
"Kabut asap paling parah itu sejak 1997, sejak proyek lahan gambut sejuta hektar. Dulu hutan-hutan belum dirusak, saya masih ingat. Saya kan lahir tahun 1965, jadi masa kecil saya dihabiskan di desa Pulau Kaladan, masih belum ada proyek lahan gambut, belum ada jalan, hutan masih lebat.
"Keliru kalau orang-orang menyalahkan warga lokal soal kabut asap. Orang lokal (memang) bakar lahan, saya juga dulu berladang, tetapi tidak separah setelah proyek lahan gambut ini. Tidak luas lah kebakarannya. Dengan adanya kanal (untuk proyek PLG), air cepat kering dan lahan gambut jadi cepat terbakar. Air di sini tidak seperti di Jawa. Di Kalimantan, air tidak bisa diatur seperti di Jawa.
"Tapi positifnya, sejak ada PLG kita punya akses jalan lah. Sebelumnya kami pakai sungai." Ucon, 50 tahun, warga Desa Pulau Keladan.

Orang di Jawa harusnya bisa berbuat lebih banyak
"Kami belajar untuk beradaptasi setiba di sini. Melihat sekitar, kok asapnya pekat sekali? Kenapa orang dengan mudahnya keluar ruangan? Padahal kami berjuang untuk kuat bertahan sampai hari Rabu untuk memberikan pengobatan. Buat kami, orang-orang harus mengerti bahwa kabut asap ini sangat berbahaya. Yang juga mengkawatirkan adalah kami tidak bisa menemukan oksigen dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Palangkaraya. Ini catatan bagi semua, karena kita butuh oksigen lebih banyak.
"Saya pikir apa yang kami lakukan adalah sebuah usaha untuk 'mengambil tindakan'. Mungkin masih banyak orang yang diam dan saya rasa kita yang ada di Jawa sangat bisa berbuat lebih banyak (untuk membantu warga yang kena dampak kabut asap). Ini termasuk bencana nasional yang kita semua bisa turun tangan." Citra Hapsari, relawan kesehatan dari Solo, yang ikut membuka posko kesehatan gratis di Kalimantan Tengah.

Bencana sepanjang musim
"Serba salah. Kalau ada musim hujan, kampung (saya) tenggelam, dan kalau musim kemarau (ada) kabut begini. Susah juga kan? Kabut asap sangat mengganggu sesak nafas, makanya kalau naik motor pakai masker. Saya pernah melihat kebakaran hutan, baru kemarin, lihat api besar. Pikiran saya: siapa yang bakar ini? Saya mau bantu padamkan tetapi tidak ada alatnya. Harapannya ke depan tidak ada asap lagi." Santa, pemuda di Desa Tumbang Nusa yang berbatasan dengan Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah.

Nafas saja susah
Jangankan untuk berusaha, cari nafas saja susah, kami yang jual-jualan ini juga sedih. Pembeli jauh menurun. Tahun-tahun lalu tidak sebesar ini, yang jelas pembelinya kurang lah.
"Saya tidak tahu siapa yang bakar, yang jelas musim kemarau kebun gampang terbakar. Rumah saya dekat Puskesmas, dan memang banyak orang dalam beberapa bulan ini ke Puskesmas mengeluh soal asap ini. Saya harap mudah-mudahan umur panjang, sehat." Kalampangan (Pak Simson), penjual sayur di Desa Pulau Keladan.
Bukan udara, tapi racun
"Berbicara tentang kabut asap di tempat ini, sesuatu yang luar biasa, tiap tahun dialami, dan setiap tahun semakin tersiksa. Sekarang, kabut asap sudah dua bulan di Palangkaraya dan indeks partikulat sudah turun naik, bahkan pernah bisa sampai 2.000. Kalau dari panduan BMKG, 350 sudah tergolong berbahaya. Jadi bisa dibilang yang kita hirup bukan lagi udara tapi racun. Kami berada dalam kondisi yang tidak mudah. Kami ada, bekerja, hidup di tempat ini dan tidak ada tempat untuk lari.
"Sepertinya tidak ada kata-kata yang mengungkapkan perasaan, jujur sudah lelah, dan masker pun tidak bisa lagi memfilter udara. Kita pikir rumah adalah tempat aman bagi kita, tetapi rumah kita pun sudah dipenuhi dengan asap. Ari Rika, penyiar EvellaFm di Palangkaraya









