Kisah ‘anak-anak asap’ di Kalimantan

Sumber gambar, christine

    • Penulis, Christine Franciska
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Sudah dua bulan Desa Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, dikepung kabut asap, tetapi kegiatan anak-anak tampak normal.

Kami bisa melihat bocah sekolah dasar berjalan kaki di tepi jalan, juga mereka yang mengayuh sepeda kecil di pinggiran lahan hitam yang telah terbakar.

Sangat sulit mengubah pandangan warga, termasuk anak-anak, tentang betapa berbahayanya menghirup kabut asap. Sebuah posko kesehatan yang pertama kali dibuka oleh relawan berusaha untuk mengubahnya.

anak-anak di Tumbang Nusa

Tumbang Nusa adalah sebuah desa yang paling terdampak kabut asap di Kalimantan Tengah.

Perjalanan ke sana ditempuh sekitar 45 menit. <link type="page"><caption> Kabut cukup pekat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151013_trensosial_asap_palangka_raya" platform="highweb"/></link> saat BBC Indonesia berkunjung dengan jarak pandang tak sampai 150 meter.

Tetapi, kita bisa melihat anak-anak di jalan, berkeliaran dan bermain tanpa masker.

anak anak tumbang desa

Hari itu, sebuah posko layanan kesehatan gratis dibuka pertama kali, setelah desa dikepung asap selama dua bulan. Seorang relawan memberikan penyuluhan pada anak-anak untuk selalu memakai masker di luar ruangan.

“Siapa yang setuju?” Semua angkat tangan dan teriak, “saya!!”

anak anak tumbang desa

“Foto! Foto!” teriak anak-anak kegirangan setelah mendapat masker. Tetapi tak berapa lama, anak-anak mulai melepas maskernya.

Sejumlah aktivis mengatakan edukasi bahaya asap memang menjadi tantangan yang paling sulit karena warga menganggapnya sebagai masalah kecil dan mereka “sudah terbiasa.”

anak anak tumbang desa

Kabut asap yang menyelimuti desa di siang hari, tidak membuat anak-anak ini hilang semangat. Mereka bermain bola dengan riang walau menggunakan masker.

anak anak tumbang desa

Ini adalah Dika, yang berusia tujuh tahun. “Tiap hari main bola?” “Iya!” katanya bersemangat lalu berlari.

anak anak tumbang desa

Nurhayati datang ke posko kesehatan membawa anaknya yang baru berusia 26 hari bernama Alvin. “Mau ngobatin batuk, (karena) asap,” katanya.

Kabut asap masuk ke rumah dan hingga malam tidak hilang. “(Kalau sudah begitu), biasanya (hanya) pasang kelambu.”

emmanuela shinta dari gerakan anti asap

Emmanuela Shinta dari Gerakan Anti Asap (GAAS) yang menginisiasi posko kesehatan mengatakan warga banyak mengeluh susah bernafas dan anak-anak kecil menderita diare, ingusan, dan sakit tenggorokan karena asap yang masuk ke paru-paru mereka.

"Kami ingin sosialisasikan bahwa dampak kabut asap lebih dari itu, ada dampak jangka panjang juga. Ini yang ingin kami berikan edukasi pada mereka."

anak anak tumbang desa

Posko kesehatan ramai dikunjungi pada Senin (12/10) kemarin. Anak-anak juga senang menyambut kedatangan relawan yang tak hanya berasal dari kota Palangkaraya, tetapi juga dari kota Solo.

anak anak tumbang desa

Desa ini berada persis di sebelah Sungai Kahayan, sehingga permukiman mereka juga tak lepas dari bencana. Seiring musim hujan datang, sungai akan meluap membuat banjir setinggi lutut.

lahan gambut

Pemandangan lahan gambut yang dipenuhi asap, tak jauh dari desa. “Ini seperti film-film akhir zaman,” kata seorang rekan.