Ketika warga Singapura bagikan masker N95 untuk Palangkaraya

Sumber gambar, EDWIN KOO
#TrenSosial: Sejumlah relawan dari Singapura melakukan pembagian masker N95 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, untuk membantu warga yang terdampak kabut asap.
Kualitas udara di Palangkaraya sempat mencapai 2.000 pollutant standards index (PSI), level yang sangat berbahaya pekan lalu.
"Saya menyadari bahwa kesehatan mereka (warga Palangkaraya) yang paling terancam, sepuluh kali lebih buruk dari apa yang kami rasakan di Singapura," kata Jonathan Kow, ayah tiga anak yang menginisiasi gerakan itu.

Sumber gambar, EDWIN KOO

Sumber gambar, EDWIN KOO
Bergantung pada kesadaran
Bersama relawan lain, termasuk fotografer Edwin Koo, mereka membagikan sekitar 25.000 masker bekerja sama dengan komunitas lokal.
Namun, ini bukanlah hal yang mudah karena banyak orang di Palangkaraya yang bahkan tidak pernah mendengar tentang masker N95 sebelumnya.
"Mereka berada di tempat yang paling berbahaya - dengan level PSI 2000, tetapi mereka tidak diberi kesempatan untuk melindungi diri mereka sendiri," kata Edwin, forografer yang pernah mengunjungi Kalimantan pada 2006.
"Kita tidak bisa dengan mudah membagi-bagikan masker N95 begitu saja - kami harus memberikan informasi bagaimana dan mengapa mereka harus memakainya."
Masker N95 adalah masker yang mampu menyaring 95% partikel udara dan digunakan ketika kualitas udara berada di atas 300 PSI.

Sumber gambar, EDWIN KOO

Sumber gambar, EDWIN KOO
Jonathan mengatakan bahwa kesadaran adalah kunci. "Walau mereka mendapat masker ini, mereka hanya akan menggunakannya jika mereka mengerti dampak kesehatan jangka panjangnya."
Emmanuela Shinta, salah satu mitra lokal dari Gerakan Anti Asap (GAAS) di Palangkaraya mengatakan sejak situasi kabut asap memburuk, sumbangan masker terus berdatangan tak hanya dari Singapura tetapi juga banyak lembaga amal dalam negeri.
Mendorong dialog
Setelah pulang ke Singapura, Edwin berencana untuk terus <link type="page"><caption> mempublikasikan foto-foto perjalanan mereka melalui dunia maya</caption><url href="https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10153712933030127.1073741839.75033610126&type=3" platform="highweb"/></link> untuk "mendorong dialog lebih lanjut tentang kabut asap".
"(Setelah pulang), saya akan mengkurasinya di media sosial. Saya berharap kisah-kisah ini bisa menyadari kita bahwa kita butuh terus melawan asap walaupun asap sudah tidak ada," katanya.

Sumber gambar, EDWIN KOO

Sumber gambar, EDWIN KOO

Sumber gambar, EDWIN KOO
Edwin mengatakan saling menyalahkan tidak akan menciptakan solusi. "Negara tetangga seperti Singapura dapat membantu, solidaritas menjadi pilihan yang lebih baik dibanding memaki. Kita harus bersama-sama memerangi isu ini, tanpa ada batas nasionalisme."
Jonathan juga sepakat. "Situasi ini adalah tanggung jawab global, bukan hanya tanggung jawab pemerintah Indonesia. Ibaratnya butuh dua tangan untuk bertepuk, permintaan global yang besar terhadap minyak sawit dan produk kertas memicu perusahaan dan praktik agrikultur untuk mempersiapkan lahan baru dengan harga paling murah: yaitu dengan membakarnya."









