#TrenSosial: Dua bulan menghadapi asap tebal di Palangkaraya

palangkaraya
Keterangan gambar, Seorang anak tetap bermain bola di tengah tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan Tengah.

Kabut asap akibat kebakaran hutan melanda sebagian Kalimantan termasuk Palangkaraya dalam dua bulan terakhir dengan tingkat polutan pada level berbahaya.

Pembagian masker baru dibagikan pekan ini oleh para sukarelawan untuk sejumlah warga namun sebagian lainnya tetap melakukan aktivitas sehari-hari tanpa masker pelindung.

Bagaimana warga bertahan dalam menghadapi asap? Berikut kisah-kisah mereka yang dirangkum wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska yang berada di Palangkaraya <link type="page"><caption> dalam #JurnalBBC.</caption><url href="https://www.facebook.com/bbc.indonesia/posts/10156155483615434" platform="highweb"/></link>

Asap pekat, pengalaman relawan asal Solo

relawan asal Solo
Keterangan gambar, Citra Hapsari, relawan kesehatan dari Solo.

"Kami belajar untuk beradaptasi setiba di sini. Melihat sekitar, kok asapnya pekat sekali? Kenapa orang dengan mudahnya keluar ruangan? Padahal kami berjuang untuk kuat bertahan sampai hari Selasa (13/10) untuk memberikan pengobatan. Buat kami, orang-orang harus mengerti bahwa kabut asap ini sangat berbahaya," kata Citra Hapsari, relawan kesehatan dari Solo.

anak anak di Tumbang Nusa
Keterangan gambar, Anak-anak di Desa Tumbang Nusa.

"Yang juga mengkhawatirkan adalah kami tidak bisa menemukan oksigen dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Palangkaraya. Ini catatan bagi semua, karena kita butuh oksigen lebih banyak. Saya pikir apa yang kami lakukan adalah sebuah usaha untuk 'mengambil tindakan'.

Mungkin masih banyak orang yang diam dan saya rasa kita yang ada di Jawa sangat bisa berbuat lebih banyak (untuk membantu warga yang kena dampak kabut asap). Ini termasuk bencana nasional yang kita semua bisa turun tangan," kata Citra.

Siapa yang bakar ini?

santa
Keterangan gambar, Santa, pemuda di Desa Tumbang Nusa.

"Serba salah. Kalau ada musim hujan, kampung (saya) tenggelam, dan kalau musim kemarau kabut begini. Susah juga kan? Kabut asap sangat mengganggu sesak nafas, makanya kalau naik motor pakai masker. Saya pernah melihat kebakaran hutan, baru kemarin, lihat api besar," kata Santa, pemuda di Desa Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, yang berbatasan dengan Sungai Kahayan.

"Pikiran saya: siapa yang bakar ini? Saya mau bantu padamkan tetapi tidak ada alatnya. Harapannya ke depan tidak ada asap lagi," tambah Santa.

Masker gratis untuk anak-anak

masker
Keterangan gambar, Anak-anak mendapatkan masker gratis dari posko yang pertama dibuka setelah sekitar dua bulan.

Anak-anak di Desa Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, mendapatkan masker dari posko kesehatan gratis, Senin (12/10). Posko kesehatan ini pertama kali dibuka oleh para relawan setelah sekitar dua bulan kabut asap melanda di daerah tersebut.

anak-anak
Keterangan gambar, Masker dibagikan oleh para relawan di posko kesehatan.

Posko kesehatan ini pertama kali dibuka oleh para relawan setelah sekitar dua bulan kabut asap melanda di daerah tersebut. Pembagian masker juga dilakukan oleh para <link type="page"><caption> relawan dari Singapura</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151006_trensosial_singaporeans_mask" platform="highweb"/></link> sejak minggu lalu.

Kondisi Sungai Kapuas

Sungai Kapuas
Keterangan gambar, Kondisi Sungai Kapuas Selasa (13/10).
warga di kapal di sungai kapuas
Keterangan gambar, Sebagian warga tidak menggunakan masker dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Inilah kondisi Sungai Kapuas, hari Selasa (13/10), dan warga yang harus naik kapal untuk menyeberang ke desa lain, sebagian tidak memakai masker.

"Mau bagaimana lagi?"

Lia
Keterangan gambar, Lia, karyawan di Palangkaraya, yang pergi ke kantor tak pakai masker.

"Kantor saya sebelah situ, dekat, jadi enggak pakai masker, kalau jauh biasanya memang pakai. Sudah biasa seperti ini, tapi tahun ini paling parah, kabut asap terlalu lama, berbulan-bulan. Mau bagaimana lagi?" kata Lia, 23, warga kota Palangkaraya.

Pada Senin (12/10), kualitas udara di Palangkaraya masih dalam level berbahaya, sekitar 480 pollutant standard index (PSI).