Upaya pengangkatan korban Trigana Air terhambat cuaca

Sumber gambar, AP
Upaya pengangkatan jenazah korban pesawat Trigana Air ATR 42-300 twin-turboprop yang jatuh di Pegunungan Bintang Papua, Rabu (19/08) pagi, belum bisa dilakukan karena cuaca tidak mendukung.
Kepala Badan SAR Nasional, Bambang Soelistyo, mengatakan <link type="page"><caption> upaya pengangkatan jenazah korban</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150818_trigana_jenazah" platform="highweb"/></link> menggunakan helikopter untuk sementara tidak bisa dilakukan karena cuaca buruk.
"Kita sudah siap melakukan evakuasi, tapi cuaca tidak mendukung," kata Bambang Soelistyo kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Rabu (19/08), sekitar pukul 08.25 WIB.
Menurutnya, tim Basarnas telah menyiapkan beberapa opsi pengangkatan jenazah. Pertama, melalui jalur udara dengan menggunakan jaring helikopter atau, kedua, membangun tempat pendaratan helikopter atau helipad.
"Nah, opsi ketiga, kita tetap menyiapkan jalur darat. Anggota kita beserta TNI akan membuat jalur ke lokasi yang berjarak sekitar empat kilometer," ungkap Bambang.

Sumber gambar, AFP
Rencanananya, jenazah penumpang Trigana Air akan dibawa ke Bandara Oksibil sebelum diterbangkan ke Jayapura, untuk kemudian diidentifikasi oleh tim Disaster Victims Identification (DVI) di RS Bhayangkara Jayapura.
Pesawat Trigana Air tipe ATR 42 mengangkut 44 orang dewasa, dua anak, tiga balita dan lima kru pesawat, antara lain Kapten Pilot Hasanudin.
Pesawat dengan rute Sentani-Oksibil itu hilang kontak pada Minggu siang (16/08).
Penyebab kecelakaan baru <link type="page"><caption> akan diketahui secara pasti melalui kotak hitam</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150818_indonesia_sar_kotakhitam" platform="highweb"/></link> yang ditemukan pada Selasa (18/08).
Kotak Hitam itu akan diserahkan tim Basarnas ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi KNKT di Jayapura pada Rabu pagi.









