Tim SAR temukan 'kotak hitam' pesawat Trigana Air di Papua

Foto yang diambil oleh tim SAR ini menunjukkan puing pesawat Trigana Air di hutan di Pegunungan Bintang.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Foto yang diambil oleh tim SAR ini menunjukkan puing pesawat Trigana Air di hutan di Pegunungan Bintang.

Tim SAR gabungan telah menemukan ‘kotak hitam’ pesawat ATR 42-300 twin-turboprop milik maskapai Trigana Air di Pegunungan Bintang Papua, Provinsi Papua.

“Kotak hitam itu telah diamankan untuk kemudian diserahkan ke KNKT,” kata Ketua Badan SAR Nasional, Bambang Soelistyo, merujuk Komisi Nasional Keselamatan Transportasi.

<link type="page"><caption> Kotak hitam terdiri dari dua peranti</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150112_airasia_kotakhitam_limahal" platform="highweb"/></link>. Bagian pertama ialah <italic>flight data recorder</italic> yang mencatat seluruh data saat terbang, termasuk kecepatan pesawat, tinggi dari permukaan bumi, kekuatan, dan sebagainya.

Adapun bagian kedua ialah cockpit voice recorder yang merekam seluruh pembicaraan yang ada dalam kokpit.

Tidak hanya suara percakapan pilot dan kopilot yang direkam, namun juga beragam petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika kru bergerak.

Setelah diserahkan ke KNKT, badan itu akan membuat laporan pendahuluan mengenai isi 'kotak hitam'.

KNKT akan menyerahkan <link type="page"><caption> laporan pendahuluan itu kepada Organisasi Internasional Penerbangan Sipil (ICAO)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150128_airasia_laporan" platform="highweb"/></link>, sesuai dengan ketentuan batas waktu 30 hari dari ICAO untuk laporan awal kecelakaan penerbangan.

Namun laporan lengkapnya baru bisa dirampungkan <link type="page"><caption> dalam kurun enam bulan hingga satu tahun mendatang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/01/150129_report_knkt_airasia" platform="highweb"/></link>.

Keluarga korban menunggu kabar di Jayapura.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Keluarga korban menunggu kabar di Jayapura.

Evakuasi

Soal proses evakuasi, Bambang mengatakan pihaknya akan mengupayakan pelaksanaan <link type="page"><caption> pemindahan para jenazah korban pesawat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150818_indonesia_trigana_korbanditemukan" platform="highweb"/></link> jatuh hari ini.

”Tapi jika tidak bisa, kami akan lanjutkan besok. Sebab hambatan cuma satu di sini, cuacanya tidak bersahabat,” ujarnya.

Sebelumnya, Bambang mengaku memiliki tiga opsi cara mengevakuasi jenazah korban dari lokasi jatuhnya pesawat.

Opsi pertama ialah memindahkan para jenazah menggunakan jaring yang akan diangkat oleh helikopter. Kedua ialah melalui jalan darat. Terakhir, membangun helipad agar helikopter bisa mendarat.

Dari tiga opsi tersebut, menurutnya, pilihan terbaik ialah menggunakan jaring.

”Tidak efektif lewat jalan darat, menembus hutan yang lebat dan memerlukan empat hingga lima jam. Belum lagi cuaca yang tidak bersahabat. Sedangkan kalau membangun helipad, rasanya susah, karena ini hutan lebat dan lokasinya miring," jelasnya.

Bambang sama sekali tidak menyebutkan mengenai <link type="page"><caption> uang Rp6,5 miliar yang dibawa empat petugas PT Pos Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150817_indonesia_trigana_uang" platform="highweb"/></link> untuk diserahkan kepada penduduk miskin di Oksibil. Keempat petugas tersebut turut menumpang pesawat yang jatuh itu.

Pesawat Trigana Air tipe ATR 42 mengangkut 44 orang dewasa, dua anak, tiga balita dan 5 kru pesawat., antara lain Kapten Pilot Hasanudin.

Pesawat dengan rute Sentani-Oksibil itu hilang kontak pada Minggu (16/08) siang.