Depresiasi yuan, pemerintah diminta beri insentif

Yuan

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Cina menurunkan nilai tukar yuan terhadap dollar AS tiga hari berturut-turut.

Penurunan mata uang Yuan oleh Bank Sentral Cina mempengaruhi industri ekspor Indonesia terutama manufaktur yang masih mengandalkan bahan baku impor. Pemerintah pun diminta untuk memberikan stimulus kepada para pengusaha.

Ekonom dari Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan, "stimulus harus diberikan oleh pemerintah seperti insentif pajak bagi perusahaan yang ekspor oriented itu sangat dibutuhkan karena dia lagi kesusahan juga".

Selain solusi jangka pendek, pemerintah, menurut Andry, juga harus menjalankan rencana yang sudah dibuat terutama di sektor infrastuktur, dan juga menjaga daya beli masyarakat.

"Kalau ada industri yang bisa mengalihkan ke domestik, saya rasa kalau daya beli masyarakat membaik industri tersebut akan diuntungkan juga," kata dia.

Menurut Andry, dalam jangka panjang, penguatan ekonomi Cina akan memberikan keuntungan bagi Indonesia, terutama di sektor ekspor komoditas yang selama menjadi langganan Cina.

Penurunan nilai mata uang yuan, sempat membuat rupiah kembali melemah terhadap dolar AS, pada Rabu (12/08) lalu, meski kemudian menguat 0,23% ke posisi Rp. 13.760 per dolar AS.

Analis memperkirakan kebijakan Cina untuk mendevaluasi mata uangnya masih akan dilakukan. Untuk itu, menurut Andry pemerintah harus dapat menjaga naik turunnya nilai tukar rupiah agar tidak menekan sektor industri.

Dorong ekspor

Kebijakan Bank Sentral Cina untuk melakukan penurunan mata uang yuan terhadap dolar AS terus berlanjut pada Kamis (12/08) sebesar 1%.

Penurunan <link type="page"><caption> hari ketiga lebih kecil</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150813_majalah_yuan_turun_lagi" platform="highweb"/></link> dibandingkan dengan pemangkasan nilai tukar di pertama yang hampir mencapai 2%, pada Selasa (11/08) lalu yang merupakan titik terendah selama hampir tiga tahun belakangan.

Dengan melakukan pelemahan nilai tukar yuan, pemerintah Cina berharap hal itu akan mendongrak kinerja ekspor dan membuat produk-produk negara itu lebih murah dan kompetitif di pasar dunia.

Data ekonomi terbaru menunjukkan ekspor Cina merosot, sehingga menambah kekhawatiran berlanjutnya pelambatan ekonomi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Dampak di Cina

Pertumbuhan ekonomi Cina mengalami pelambatan, ditandai salah satunya dengan menurunnya daya beli di sektor properti, seperti disampaikan oleh Xu Liping, warga Beijing.

Penurunan ekspor di Cina dapat mempengaruhi tenaga kerja

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Penurunan ekspor di Cina dapat mempengaruhi tenaga kerja

Dia menilai wajar jika pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan nilai mata uang yuan dalam upaya memperbaiki pertumbuhan ekonomi. Kebijakan penurunan mata uang yuan diharapkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Menurut para analis, devaluasi yuan akan mendongkrak ekspor Cina yang mengalami penurunan tajam selama bulan Juli.

Di dalam negeri Cina, dampak penurunan nilai tukar yuan tidak terlalu dirasakan oleh sebagian besar warga, tetapi Xu Liping mengatakan lemahnya nilai tukar yuan terhadap dolar berimbas langsung terhadap warga yang menyekolahkan anaknya ke luar negeri dan mereka yang membutuhkan dolar.

"Sekarang banyak orang yang menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri," katanya Liping.

Tetapi sebagian besar warga di Cina tak terkena dampak, karena menurut Xu Liping, harga-harga barang di dalam negeri tidak terpengaruh oleh kebijakan devaluasi yuan oleh pemerintah.

Sebaliknya, di luar negeri harga produk Cina akan menjadi lebih murah, termasuk di Indonesia.

Meski diperkirakan produk asal Cina akan membanjiri pasar Indonesia, pengamat mengatakan pemerintah tidak perlu memperketat impor karena justru kurangnya ketersediaan barang akan membuat harga menjadi naik dan dikhawatirkan dapat memicu inflasi.