#TrenSosial: Kisah traumatis di balik kerusuhan Mei 1998

Sumber gambar, AP
Kerusuhan Mei 1998 yang menelan banyak korban meninggalkan pengalaman menyedihkan bagi banyak orang dan seorang psikolog mengatakan kisah-kisah seperti ini dapat kembali membangkitkan trauma.
BBC Indonesia menanyakan keberadaan pembaca pada saat <link type="page"><caption> kerusuhan Mei 1998</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150511_trensosial_mei_1998_dimana_anda" platform="highweb"/></link> melalui media sosial dan mendapatkan banyak kisah menyedihkan.
Tyo Rocker, melalui <link type="page"><caption> Facebook BBC Indonesia</caption><url href="https://www.facebook.com/bbc.indonesia/posts/10155553759810434" platform="highweb"/></link>, antara lain menulis, "Ketika kejadian ini saya masih berumur 9 tahun . . tapi di umur segitu saya sudah terlalu dini melihat orang terbakar secara tidak sengaja di tengah gedung swalayan yang mereka jarah, orang kaum etnis minoritas yang diperkosa bergilir di pinggir jalan, rumah dan mobil yang dibakar dan pemiliknya kabur ketakutan."
"Masa kecil saya sudah ternodai ingatan saya dengan kekejaman di masa itu. Sekarang hanya jadi pelajaran. Dan semoga kejadian ini tidak terjadi lagi. Walau saya bagian kaum mayoritas tapi dalam agama saling menyayangi dan menghormati itu satu bagian dari iman," kata Tyo.
'Tragedi bangsa'
Sementara Gunawan Yoeh menulis, "Saya melihat, merasakan, mendengar dan tidak akan saya lupakan kejadian ini sampai kapan pun .... tragedi Mei tragedi bangsa dan tragedi buat suku minoritas kami."

Sumber gambar, AP
Pengalaman menyedihkan seperti ini dapat kembali mengangkat trauma, terutama bagi korban, kata psikolog Winarini Dahlan.
"Bagi sebagian orang peristiwa dijadikan pelajaran dengan melihat kembali sisi baik peristiwa itu, namun bagi korban justru akan mengangkat trauma ini kembali," kata Winarini.
Pengguna lain yang menulis pengalamannya, Martha Liem, mengatakan, "Di Solo, sangat kaos, di situlah nampak sifat asli banyak orang, orang yang tak takut akan Tuhan...Penjarahan, penghinaan, pelecehan, hanya bisa berkata "mata Tuhan melihat apa yang kau perbuat."

Sumber gambar, AP
Lusyana Dea menulis sampai sekarang tidak akan melupakan, "begitu banyak temanku dijarah hartanya...saya tidak mengerti mengapa orang Cina yang harus jadi sasaran."
Melalui Twitter BBC Indonesia, susilo @ekslo mengatakan, "Cerita kelam masa lalu, wayang tak kan bisa menari di atas batang pisang tanpa seorang dalang."













