Kasus WNI hilang, aparat 'harus' awasi permohonan paspor

Kota Kobane yang bergolak, wilayah Suriah di perbatasan Turki yang digempur ISIS.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Kota Kobane yang bergolak, wilayah Suriah di perbatasan Turki yang digempur ISIS.
    • Penulis, Ging Ginanjar
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Indonesia sudah mengirim sejumlah petugas keamanan ke Turki untuk membantu mencari 16 WNI yang dicemaskan bergabung dengan ISIS, setelah memisahkan diri dari suatu perjalanan wisata ke Turki.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Armanatha Nasir, mengatakan kini pemerintah Indonesia menunggu hasil penyelidikan lebih jauh.

"Kami meminta otoritas Turki untuk memprioritaskan kasus ini dan polisi antara lain sudah memeriksa kamera-kemera pengawas di bandara dan di tempat-tempat lain untuk menjajaki ke mana kemungkinannya mereka pergi, " ungkap Arrmanatha Nasir.

<link type="page"><caption> 16 warga Indonesia lenyap di Istanbul, Turki</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/03/150309_turki_wni_solo" platform="highweb"/></link>, setelah memisahkan diri dari rombongan wisatawan yang seluruhnya berjumlah 25 orang.

Hanya sembilan orang yang tanggal 4 Maret lalu tiba kembali ke Indonesia. Sementara 16 lainnya hilang sejak 26 Februari. Enam orang berasal dari Surakarta yang berasal dari satu keluarga, dan 10 orang dari Surabaya.

Sejumlah pejabat, termasuk Presiden Jokowi mengkhawatirkan, ke-16 orang itu sudah merancang kejadian itu untuk bergabung dengan ISIS di Suriah melalui perbatasan Turki.

Bisnis keluarga Fauzi Umar di Solo, yang hilang di Turki.
Keterangan gambar, Bisnis keluarga Fauzi Umar di Solo, yang hilang di Turki.

Ini menggusarkan sejumlah anggota keluarga.

Muhamad Arif adalah kakak dari dua bersaudara warga Surakarta, Hafid Umar Babher dan adiknya Fauzi Umar, yang berangkat bersama isteri dan tiga anaknya.<link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/03/150309_isis_wni_turki" platform="highweb"/></link>

<link type="page"><caption> Ia menyesalkan bahwa para pejabat terburu-buru mengaitkan mereka dengan ISIS</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/03/150309_isis_wni_turki" platform="highweb"/></link>.

"Saya menyayangkan. Harusnya pernyataan yang disampaikan pejabat itu memperhatikan perasaan keluarga. Kami sudah ditinggalkan, sudah berat. Ditambah dengan diarahkan pada (opini) seperti itu," kata Arif.

Menurut Arif, kedua adiknya tak menunjukkan kecenderungan radikal, bahkan setahun terakhir sudah tak ikut dalam pengajian rutin.

Bisa dimanfaatkan

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Asnawi Bahar, mengatakan paket-paket memang wisata bisa dimanfaatkan oleh kaum radikal yang ingin bergabung dengan ISIS.

Masalahnya, kata Asnawi, biro-biro perjalanan tidak punya kewenangan untuk menghambat atau menolak siapa pun yang memiliki dokumen lengkap dan membayar biaya, untuk ikut dalam paket wisata ke luar negeri.

Karena itu, lembaga-lembaga pemerintah harus menerapkan mekanisme pengawasan ekstra.

isis sulteng

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Terduga pendukung ISIS di Sulteng ditangkap polisi beberapa waktu lalu.

"Kami sering curiga juga, kalau ada orang yang kelihatan dari keluarga tidak mampu, tapi kok (ikut paket wisata) ke luar negeri," kata Asnawi.

"Tidak bisa kami menanyai mereka. Karena dokumennya lengkap dan apalagi mereka membayar tanpa menawar-nawar."

"Kami menyarankan agar pemerintah, dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM yang membawahi imigrasi, untuk mengawasi ketat para pemohon paspor. Menyelidiki yang mencurigakan."

"Para petugas di kelurahan dan kecamatan juga, mereka harus segera memberi peringatan, kalaua da permohonan rekomendasi pembuatan paspor yang mencurigakan," tegas Asnawi.

Kerap terjadi

Turki-Suriah
Keterangan gambar, Pejabat Indonesia khawatir WNI yang hilang bergabung ke ISIS melalui perbatasan Turki-Suriah.

Asnawi juga menambahkan, asosiasinya akan memperketat pengawasan terhadap 7.000 peruahaan yang menjadi anggota, yang 3.000 di antaranya merupakan perusahaan yang mengirim wisatawan ke tujuan luar negeri.

Namun banyak juga perusahaan yang bukan anggota ASITA, yang lebih sukar lagi diawasi, yang bahkan bisa dimanfaatkan oleh pihak yang beritikad buruk.

Hal lain, kata Asnawi, sebetulnya kejadian peserta paket perjalanan yang memisahkan diri, sudah kerap terjadi, namun selama ini yang dilaporkan adalah satu dua orang para peserta paket umrah menjelang ibadah haji, yang memisahkan diri tak ikut pulang agar bisa mengikuti ibadah haji di luar kuota dan program resmi.

Namun kejadian 16 orang yang memisahkan diri di Turki dan dicurigai <link type="page"><caption> bermaksud bergabung dengan kelompok yang menamakan diri negara Islam atau ISIS</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/03/150308_16wni_gabung_isis_turki" platform="highweb"/></link>, membuka kemungkinan-kemungkinan baru.

Menurut pemerintah Indonesia, sudah sekitar 500 orang Indonesia bergabung dengan kaum radikal di Suriah dan Irak, namun mereka sudah berada di wilayah yang hampir di luar jangkauan, sehingga sulit untuk mengusahakan pengembaliannya.

Dukungan-dukungan terhadap ISIS berulang kali muncul dalam berbagai bentuk di beberapa daerah di Indonesia dan polisi telah melakukan beberapa kali penangkapan.