Kenaikan harga BBM dikritik, IHSG naik

Sumber gambar, Reuters
Sejumlah pihak mengkritik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang diumumkan Presiden Joko Widodo Senin malam tapi pasar saham bereaksi positif dengan kenaikan hampir 1%.
Pada Selasa sore (18/11) IHSG ditutup dengan kenaikan sebesar 48.53 poin karena akhirnya ada kepastian, ungkap pengamat ekonomi dan pasar modal Budi Frensidy.
"Sebelumnya kita semua tahu tidak ada kepastian besaran pembatasan atau pun pengurangannya," kata Budi Frensidy kepada Rizki Washarti dari BBC Indonesia.
Meski demikian, pengamat ekonomi dari lembaga Centre of Reform on Economics, Hendri Saparini berpendapat kenaikan BBM memiliki sejumlah dampak negatif.
Salah satunya, pemerintah tidak punya kebijakan mengontrol harga pangan akibat <link type="page"><caption> kenaikan BBM</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/11/141117_bbm_subsidi" platform="highweb"/></link> sehingga inflasi akan sulit dielakkan.
Daya saing menurun
Selain itu, Hendri juga memperkirakan daya saing pengusaha kecil yang berjumlah sekitar 58 juta orang akan menurun.
"Jadi kalau misalnya semula omzetnya 100, setelah BBM naik omzetnya bisa turun 50% atau 70%," ungkap Hendri.
"Usaha kecil dan mikro itu bisa hari ini jualan kopi, besok dia jualan pisang goreng, besok dia ganti lagi. Kalau sudah tidak bisa jualan ya mereka bisa bekerja menjadi Pak Ogah," jelas Hendri.
Oleh karena itu, Hendri Saparini berharap pemerintah segera mengendalikan harga, terutama harga pangan.









