Pilpres 2014: Apa yang dipertaruhkan?

Ekonomi Indonesia diharapkan terus bergulung naik menuju 'lingkaran baik'.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Ekonomi Indonesia diharapkan terus bergulung naik menuju 'lingkaran baik'.
    • Penulis, Linda Yueh
    • Peranan, Kepala Koresponden Bisnis BBC

Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, akan memilih presiden baru pada 9 Juli mendatang.

Pemilihan presiden itu dapat menentukan apakah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia ini akan terus tumbuh dalam "lingkaran baik" atau berakhir turun ke bawah dalam "lingkaran buruk".

"Lingkaran baik" terjadi ketika negara tumbuh dan bisa mengumpulkan dana untuk investasi sehingga akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi berarti lebih banyak pendapatan dan tabungan, yang artinya akan semakin banyak 'amunisi' untuk memicu pertumbuhan lebih lanjut.

Kebalikan dari ini adalah "lingkaran buruk". Lingkaran itu terjadi ketika Indonesia terjebak, tidak mampu menghasilkan banyak uang untuk ditabung sehingga mengurangi kesempatan berinvestasi.

Dalam lingkaran buruk, pertumbuhan akan terus terhambat sehingga mengurangi kesempatan kerja dan akhirnya menambah kemiskinan.

Arah Indonesia ke depan akan dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah untuk melakukan transformasi.

Dulu, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan harga komoditas.

Tetapi kini ketika tren kenaikan harga komoditas berakhir, Indonesia harus mempertahankan tingkat perekonomian dengan melakukan ekspansi yang lebih berkelanjutan.

Seperti dikatakan Menteri Keuangan Muhamad Chatib Basri, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi 7% untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Namun ini membutuhkan investasi 37% dari total pertumbuhan domestik bruto (PBD). Anggaran negara ini sekitar 32% dari PDB, jadi selisihnya harus dicari dari investasi asing.

Masalahnya adalah untuk menarik minat investor asing, pemerintah membutuhkan pembenahan di sektor infrastruktur.

Potong subsidi

Salah satu solusi nyata untuk memacu pembangunan infrastruktur adalah memotong subsidi bahan bakar.

Subsidi bahan bakar pada 2014 mencapai 27% dari total anggaran atau setara dengan Rp210,7 triliun. Jumlah itu lebih besar jika dibandingkan dengan belanja modal termasuk pengeluaran untuk meningkatkan infrastuktur.

Ini adalah hal yang sulit karena pengurangan subsidi merupakan komoditas politik. Menaikkan harga bahan bakar minyak bisa memicu inflasi dan mengurangi pendapatan masyarakat yang didominasi oleh kelas menengah.

Namun dua kandidat presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, tampaknya sudah berjanji untuk mengurangi subsidi.

Masalah lain adalah korupsi dan tantangan untuk menciptakan lingkungan bisnis yang tepat.

Jokowi dan Prabowo sama-sama berkomitmen untuk mengurangi subsidi bbm.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Jokowi dan Prabowo sama-sama berkomitmen untuk mengurangi subsidi bbm.

Jika Indonesia bisa mengatasi hal-hal dasar ini ada potensi besar bagi pasar domestik yang kini mencapai 240 juta penduduk.

Jumlah ini menyamai populasi Amerika Serikat pada tahun 1980 yang saat itu telah menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi global.

Bagi Indonesia, memang cukup sulit untuk bisa mendorong ekonomi global seperti yang sudah AS lakukan.

Namun, negara ini bisa menuju "lingkaran baik" di masa depan dan dengan ekonomi yang terus tumbuh.

Karena itu, menciptakan kebijakan yang tepat untuk lingkungan bisnis sangat krusial bagi negara ini. Ada banyak pertaruhan dalam pemilu presiden kali ini.