Pasca bom Solo, pengamanan siaga satu

Sumber gambar, AP
Status siaga satu antara lain diberlakukan di Kepolisian Jawa Tengah, Jawa Timur Timur dan DKI Jakarta, setelah serangan bom di Gereja GBIS Jebres Solo hari Minggu (25/9).
Serangan itu hanya menewaskan pelaku yang diduga membawa bahan peledak berdaya rendah, namun menyebarkan kekhawatiran ke seluruh Indonesia terutama setelah muncul dugaan bom rakitan juga diletakkan di sebuah lokasi seberang gereja Maranatha, Jalan Pattimura Ambon, pagi tadi.
Korban tewas yang sempat disebut oleh Menkopolhukam Djoko Suyanto sebanyak dua orang belakangan kembali diralat menjadi satu orang.
Di Jawa Timur status siaga satu diberlakukan sejak Senin dini hari berdasar instruksi Kapolda setempat setelah sebuah rapat koordinasi dengan pimpinan pemerintah daerah, kata Humas Polda Jatim Kombes Pol Rahmat Mulyana kepada BBC.
"Mengantisipasi kejadian di Solo, Kapolda perintahkan seluruh jajaran meningkatkan pengawasan terhadap lokasi ibadah terutama gereja yang umatnya banyak,"kata Rahmat.
Polisi Jatim menargetkan dilakukan patroli setiap jam atau bahkan mengirim personel untuk tetap di lokasi bila dinilai rawan sampai situasi dianggap kondusif.
"Kapolda melihat situasi kerawanan di Jatim, jangan sampai kejadian di Solo merembet," tambahnya.
Seruan siaga satu juga disampaikan oleh Kapolda Metro Jaya, meski menurut humas Polda Metro Kombes Pol Baharuddin Djafar, masih lebih bersifat personil saja.
"Jadi seruan dari Pak Kapolda tingkatkan kewaspadaan tapi tidak secara khusus menyebut subyek pengamanan maupun bentuknya karena situasi Jakarta masih dinilai kondusif,"kata Baharuddin pada BBC Indonesia.
Polda Metro jaya menurutnya menyerahkan seleksi pengamanan pada 13 Polres yang ada di ibu kota untuk menentukan mana yang perlu pengmanan khusus, namun sudah ada instruksi agar 31 ribu lebih pasukan sekitar Jakarta siaga.
Kerawanan JAT
Kekhawatiran akan adanya gangguan keamanan di Jatim antara lain menurut Rahmat didukung pula oleh fakta dugaan tingginya pengikut Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), organisasi yang didirikan oleh terpidana kasus teror, Abubakar Ba'asyir di wilayah tersebut.
Polisi belum pernah secara resmi menyebut JAT sebagai pelaku serangan, namun mengaitkan organisasi ini dengan sejumlah orang yang diduga akan berangkat ke Ambon dengan tujuan berjihad setelah kerusuhan bernuansa SARA terakhir meletus pekan lalu.
"Kita sudah razia ke pelabuhan dan yang mengarah ke Ambon sudah cukup banyak yang ditangkap dengan membawa senjata tajam. Kita antisipasi sebelum ini nanti jadi sumber kerawanan di wilayah," tambah Rahmat.
Identifikasi pelaku bom Solo saat ini masih dilakukan oleh aparat dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokes) Mabes Polri, meski sejumlah spekulasi sebelumnya termasuk pernyataan Presiden Susilo bambang Yudhoyono menyebut pelaku berasal dari kelompok peledak bom di Polres Cirebon beberapa waktu lalu.
Terkait peledakan bom Solo siang ini pukul 1400, Komisi I DPR juga dijadwalkan mendengar penjelasan Kepala Badan Intelejen Negara Sutanto.









