Lumpur Lapindo 'kesalahan manusia'

Kalangan ilmuwan menyajikan bukti baru bahwa pengeboran gas menjadi penyebab menyemburnya lumpur Sidoarjo, Jawa Timur.
Menurut kantor berita AFP, dalam sebuah makalah yang diterbitkan jurnal Marine and Petroleum Geology, sekelompok pakar yang dipimpin Universitas Durham, Inggris menyatakan petunjuk baru itu didorong kecurigaan bahwa bencana itu disebabkan kesalahan manusia.
Dalam jurnal yang sama, Lapindo Brantas menjawab bahwa lumpur "Lusi" menyembur karena gempa di Yogyakarta yang jaraknya 280 kilometer dari Sidoarjo.
Lumpur Sidoarjo ini telah menutupi tanah dan perumahan penduduk sejak bulan Mei 2006.
Sekitar 100.000 orang terkena dampaknya dan menurut perkiraan pakar Australia menyebabkan kerugian US$4,9 milyar.
Profesor Richard Davies dari Universitas Durham mengatakan, para pengebor yang mencari gas telah membuat serangkaian kesalahan.
Mereka kurang memperhitungkan tekanan dalam sumur dan tidak menempatkan tutup pelindung sekitar sumur yang terbuka.
Kemudian setelah gagal menemukan gas, mereka menarik bor ketika sumur sangat tidak stabil.
Dengan menarik bor, sumur itu terbuka dari "dorongan" sekitar bebatuan di dalamnya.
Akibatnya, aliran seperti lahar menyembur sulit dihentikan.
Pompakan lumpur
"Kami menemukan satu dari beberapa tempat pemboran menyatakan bahwa Lapindo Brantas memompakan lumpur kedalam lubang untuk menghentikan lumpur itu," kata Davies dalam rilis yang dikutip kantor berita AFP.
Dengan memompakan lumpur, para pengebor berharap membuat tekanan yang cukup di dalam sumur itu untuk menghentikan aliran lumpur meluap.

"Upaya ini cukup berhasil dan luapan lumpur panas berkurang. Bahwa dengan letupan itu berkurang menjadikan bukti bahwa lubang itu terkait dengan lubang lahar ketika terjadi letupan," katanya.
Dia menambahkan, "Ini adalah bukti sangat jelas yang terungkap sejauh ini bahwa lumpur panas Lusi dipicu oleh pengeboran. Kami memiliki data yang rinci yang dikumpulkan selama dua tahun yang menunjukkan kejadian yang menyebabkan terjadinya lumpur Lusi."
Penulis lain makalah itu, Michael Manga dari Universitas California di Berkeley menambahkan gempa Yogyakarta terlalu kecil dan jauh untuk menyebabkan lumpur di Sidoarjo.
"Tekanan yang disebabkan gempa hanya satu menit, lebih kecil dari yang disebabkan gelombang dan cuaca," katanya.
Argumentasi mengenai penyebab menyemburnya lumpur apakah disebabkan kesalahan manusia atau karena alam telah menjadi bahan perdebatan di Indonesia.
Pakar Australia Mark Tingay dari Curtin University of Technology tahun lalu mengatakan, luapan lumpur itu setara dengan pengisian 50 kolam renang standar Olimpiade setiap hari dan bisa berlanjut sampai 30 tahun mendatang.









