#TrenSosial: 'Perang pendapat' di media sosial menuntut PM Malaysia mundur

Sumber gambar, Reuters

'Perang pendapat' terjadi di media sosial di Malaysia antara para pendukung Perdana Menteri Najib Razak dan orang-orang yang meminta pengunduran dirinya.

Tagar #RespectMyPM mulai menjadi tren di Twitter pada Minggu (06/03) dan kini telah menjadi topik paling populer di Malaysia.

Tidak jelas apakah tagar ini dimulai sebagai kampanye resmi yang dilakukan pemerintah.

Tetapi politisi Johor, Azalina Othman Said, memicu kemarahan netizen setelah dia berkicau tentang dukungannya kepada Najib dengan mengikutsertakan gambar bendera negara bagiannya.

"Saya dari #Johor, dan saya #MenghormatiPMSaya," katanya dalam sebuah tweet.

Figur politik yang lain, termasuk Tan Keng Liang, juga membela Najib. "Kritik itu tidak masalah, tetapi jangan rusak negara kita," kicaunya. "Kita ini orang Malaysia. Ini negara kita!"

Seteru ini dilatarbelakangi oleh <link type="page"><caption> tuduhan korupsi yang menjerat Najib Razak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160304_dunia_malaysia_razak" platform="highweb"/></link>, sesudah uang sebesar US$700 juta atau sekitar Rp9,1 triliun ditemukan dalam rekening bank pribadinya.

Ia membantah semua tuduhan dan telah resmi dinyatakan tidak bersalah. Namun desakan pengunduran dirinya terus menguat, terutama di komunitas netizen Malaysia yang vokal.

Najib sejak itu telah mengeluarkan peringatan keras kepada pengguna internet, mendesak mereka untuk menahan diri karena "menyebabkan ketidakharmonisan" di negeri itu.

Tapi itu tidak menghentikan ribuan orang untuk terus menyuarakan kemarahan mereka, dan membuat tagar itu sebagai alat untuk melawan perdana menteri.

"Mengapa kita haris menghormati pemimpin kita ketika dia menghancurkan citra dan status Malaysia?" kata mahasiswa bernama Leong Jia Meng.

Desakan meminta Najib Razak mundur juga berlanjut dan malah lebih kuat, dengan tagar #RespectMalaysia.

Pengguna dengan nama Syed Saddiq mengatakan, "Hormat tidak bisa dipaksakan. Itu harus didapat. Hormati Malaysia, bukan perdana menterinya."