Pembekuan sel telur melonjak sejak pandemi, cara perempuan lajang 'membeli waktu' untuk punya anak
BBC Worklife

Sumber gambar, Getty Images
Pandemi mendorong lebih banyak perempuan membekukan sel telur mereka, tetapi upaya mengawetkan kesuburan ternyata tidak hanya dipicu oleh Covid.
Ketika Shara Seigel putus cinta pada musim panas 2020, dia tidak hanya merasa patah hati.
Seigel menjadi lajang pada usia 35 tahun, di tengah puncak pandemi Covid-19.
Perempuan yang tinggal di New York itu juga khawatir apakah kandasnya hubungan itu berarti akan menutup kesempatannya untuk menjadi seorang ibu.
“Mengingat waktu itu masih puncak pandemi, saya merasa akan sulit untuk bertemu dengan orang baru dalam waktu dekat,” kata Seigel.
“Bahkan kalau pun saya bertemu seseorang, saya tidak mau merasa tertekan atau tergesa-gesa untuk hamil karena usia saya.”
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Seigel kemudian melihat seorang pemengaruh yang dia ikuti di Instagram mendokumentasikan pengalamannya membekukan sel telur.
Dia lalu melihat unggahan-unggahan yang membahas proses pembekuan sel telur.
Sesuatu yang dulunya terdengar menakutkan dan tak terjangkau itu kini seketika terasa memungkinkan.
“Saya merasa ini adalah cara untuk mengulur waktu dan menyiapkan rencana cadangan,” tuturnya.
Baca juga:
Sebulan setelahnya, Seigel memulai siklus pembekuan sel telur perdananya.
Dia mengulangi proses itu pada Desember 2020 demi menambah peluangnya mendapatkan sel telur yang bagus.
Meskipun belum mengambil langkah pembuahan dan implantasi, Seigel mengatakan sekarang merasa lebih tenang soal kesuburannya: “Pikiran saya menjadi tenang.”
Selama pandemi, banyak klinik kesuburan mengalami lonjakan minat untuk pembekuan sel telur.
Sejumlah data menunjukkan pembekuan sel telur di AS meningkat sebesar 39% dibandingkan sebelum pandemi.
Sedangkan di Inggris, permintaannya meningkat 50% pada musim panas 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Bagi para perempuan yang merasa pandemi mengganggu target mereka untuk berkeluarga, atau bagi pasangan yang memutuskan menunda memiliki anak di tengah ketidakpastian ekonomi, pembekuan sel telur terasa bagaikan jalan keluar.
Tetapi bagaimana pun, prosedur itu bukan berarti tanpa kendala: kehamilan yang dibantu oleh teknologi juga memiliki tantangan dan tanpa jaminan.
Namun dengan semakin diterimanya prosedur semacam itu, bisa mengubah cara berpikir para perempuan tentang otonomi mereka dan bagaimana merencanakan keluarga mereka.
Prosedur bagi orang-orang yang mampu

Sumber gambar, Getty Images
Kriopreservasi oosit, atau yang lebih dikenal sebagai pembekuan telur, dikembangkan pada 1980-an.
Prosedur itu mulanya dirancang untuk membantu perempuan dengan kondisi medis serius yang memerlukan perawatan karena dapat membahayakan kesuburan mereka.
Dengan demikian, mereka tetap berpeluang memiliki anak setelah menjalani perawatan medis.
Serangkaian prosedurnya dilakukan dengan mengumpulkan sel telur perempuan, membekukannya, dan kemudian mencairkannya kembali untuk proses pembuahan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pengawetan sel telur telah berubah menjadi sebuah pilihan.
Saat ini, perempuan dapat memilih untuk membekukan sel telur mereka guna meningkatkan peluang memiliki anak di kemudian hari.
Bat-Sheva Maslow adalah ahli endokrinologi reproduksi yang telah melakukan lebih dari 2.000 prosedur pembekuan sel telur.
Ia mengatakan cara ini memberi kesempatan bagi perempuan yang posisinya belum memungkinkan untuk memiliki anak agar bisa menjadi ibu di kemudian hari, ketika kesuburan mereka secara alami mungkin telah menurun.

Sumber gambar, Getty Images
Sebagai perempuan lajang berusia 30-an, berpendidikan tinggi dan berkarir bagus, Seigel adalah gambaran umum dari perempuan-perempuan yang mampu melakukan prosedur pembekuan telur ini.
Penelitian sejak 2021 menunjukkan, mereka yang menjalani pembekuan telur elektif umumnya adalah perempuan lajang, berusia antara 36 hingga 40 tahun, berasal dari ras Kaukasia, berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan.
Banyak dari mereka yang dapat melakukan prosedur ini juga memiliki beragam keistimewaan.
“Sayangnya, pembekuan sel telur itu tidak murah,” kata Elizabeth King, pelatih kesuburan bersertifikat yang berbasis di Los Angeles dan banyak mendampingi perempuan menangani infertilitas, keguguran, serta kehamilan.
Biaya proses pembekuan rata-rata dari Rp119 juta hingga Rp136 juta di Inggris, dan Rp150 juta hingga Rp300 juta di AS.
Prosedur ini hanya bisa diakses oleh orang-orang bergaji tinggi atau orang-orang yang bekerja di industri tertentu.
Contohnya, beberapa perempuan yang bisa mengaksesnya juga bekerja di perusahaan yang menyediakan layanan pembekuan sel telur, namun biasanya para pekerja ini memiliki jabatan tinggi dan umumnya bekerja di sektor teknologi.
“Ada beberapa perusahaan rintisan dan teknologi yang menawarkan pembekuan telur sebagai salah satu fasilitas menarik bagi generasi muda dan membuat mereka bekerja lebih keras, tanpa gangguan untuk membangun keluarga,” jelas King.
"Ini berarti bahwa sebagian besar perempuan yang membekukan sel telur mereka termasuk dalam kelompok berpenghasilan tinggi."

Sumber gambar, Getty Images
Kini, Elizabeth King menambahkan, kategori orang-orang yang mencari tahu soal pembekuan sel telur kini telah meluas.
Krisis global yang meningkatnya biaya hidup, lonjakan pekerja yang berganti profesi, hingga kekhawatiran dampak panjang pandemi, kata King, membuat orang-orang yang menjalin hubungan serius pun menunda kehamilan.
Melalui pendampingan yang dia berikan, King juga mengamati bahwa lebih banyak perempuan berusia 30-an akhir dan awal 40-an mencari tahu panduan pembekuan sel telur, termasuk perempuan berkulit hitam dan Latin, selama beberapa tahun belakangan.
Minat terhadap pembekuan sel telur ini muncul di tengah meningkatnya tren memiliki anak di usia tua dan kehamilan yang dibantu teknologi.
Di Inggris, usia rata-rata perempuan menjadi seorang ibu untuk pertama kalinya telah meningkat sejak tahun 1970-an, bahkan saat ini mencapai rekor di usia 30,7.
Sementara di AS, jumlah perempuan yang melahirkan di atas usia 40 tahun mencapai titik tertinggi sepanjang masa.
Ada alasan-alasan yang kompleks di balik situasi ini.
Kontrasepsi yang semakin efektif hingga meningkatnya pendidikan dan partisipasi perempuan di dunia kerja membuat mereka memiliki lebih banyak kesempatan dan pilihan.
Di sisi lain, kebijakan terkait keluarga yang buruk seperti minimnya tempat pengasuhan anak yang didanai negara, harga rumah yang tidak terjangkau, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi membuat banyak perempuan merasa tidak dapat memiliki anak, walau mereka telah siap menjadi ibu.
'Membeli waktu'

Sumber gambar, Getty Images
Di tengah tren yang meluas ini, para ahli menilai ada sejumlah alasan mengapa pandemi memicu melonjaknya minat untuk membekukan sel telur.
Data dari studi Pew Research Center pada April 2022 menunjukkan, tiga perempat pelaku kencan di AS melaporkan bahwa mereka lebih sulit bertemu seseorang dibandingkan sebelum pandemi.
Banyak di antaranya, seperti Seigel, khawatir akan sulit menemukan pasangan.
Di sisi lain, fleksibilitas kerja jarak jauh juga membuat proses pembekuan sel telur menjadi lebih mudah bagi perempuan.
Seigel mengatakan, dia bisa memenuhi sejumlah pertemuan untuk mengambil sel telur di tengah jam kerjanya yang fleksibel.
Ini membuat upaya mengawetkan kesuburan menjadi lebih realistis.
Anisha Patel-Dunn, psikiater sekaligus kepala medis di LifeStance Health, perusahaan pelayanan kesehatan berperilaku berbasis di AS, mengatakan bahwa pandemi menjadi momen refleksi banyak orang untuk mempertimbangkan kembali pilihan hidup mereka secara serius.
“Pandemi memicu krisis eksistensial bagi banyak orang yang menimbulkan pertanyaan seperti ‘apa nilai hidup saya? Apakah pekerjaan saya berarti? Apakah pasangan saya adalah orang yang benar-benar tepat?‘“ kata Patel-Dunn.
“Entah Anda ingin mencapai tujuan hidup atau karier lebih dulu, atau Anda mempertimbangkan kembali hubungan Anda, semua introspeksi yang muncul itu membuat semakin banyak orang merasa tidak siap memiliki anak saat ini.“
King juga setuju bahwa ketidakpastian dan ketidakstabilan akibat pandemi menjadi faktor utama yang memicu lonjakan tren tersebut.
“Orang-orang memiliki banyak waktu untuk memikirkan masa depan mereka ketika dalam isolasi,“ kata King.
“Perempuan lajang menyadari bahwa pembekuan telur adalah peluang yang baik untuk ‘membeli waktu‘ ketika mereka tidak menemukan pasangan. Banyak pasangan juga telah membekukan embrio dengan niat akan membangun keluarga ketika situasi global lebih stabil atau situasi keuangan mereka lebih baik.“
Faktor-faktor itu juga yang memengaruhi Laura Pommer sehingga memilih membekukan sel telurnya.
Pommer, yang menetap di Texas, bercerai dengan mantan suaminya sebulan sebelum pandemi dimulai.
Dia hidup sendiri untuk pertama kalinya dan ketika masa karantina berlangsung, Pommer berkesempatan mempertimbangkan apa yang dia inginkan dari kehidupan lajangnya yang baru.
“Saya punya banyak waktu untuk memikirkan apa yang penting dalam hidup,” kata Pommer, yang orang tuanya membantu membiayai biaya pembekuan sel telurnya.
“Saya memanfaatkan waktu ini untuk benar-benar mempertimbangkan apa itu pengalaman hidup, bagaimana saya ingin menjalaninya, dan bagaimana masa depan yang saya inginkan. Saat itulah saya memutuskan bahwa saya menginginkan anak, terutama anak biologis, dan bahwa saya akan membekukan sel telur saya.”
Realita yang sesungguhnya

Sumber gambar, Getty Images
Pengembangan dari pembekuan sel telur memiliki sisi positif. Namun, prosedurnya yang rumit harus dipertimbangkan oleh orang yang akan melakukannya.
Pommer dan Seigel sama-sama merasakan betapa melelahkannya proses pembekuan telur secara fisik dan emosional.
Minggu-minggu menjelang prosedur, Seigel mengatakan pasien menerima bermacam suntikan obat-obatan dan tidak boleh berolahraga, sehingga kesehatan fisik dan mentalnya terpengaruh.
Sedangkan Pommer berjuang melalui satu bulan pertemuan dan suntikan hormon. Dia juga ingat betapa “menegangkan” suntikan terakhir yang harus dilakukan pada tengah malam, beberapa hari sebelum ekstrasi folikel.
“Beberapa hari kemudian saya memasuki periode memanen telur. Prosesnya berjalan lancar, namun saya merasa tidak nyaman beberapa hari setelahnya dan hormon-hormon itu memengaruhi saya,” kenangnya.

Sumber gambar, Getty Images
Penting untuk dicatat, proses itu pun tidak memberi jaminan.
Sejumlah ahli khawatir bahwa peluang keberhasilan kehamilan menggunakan sel telur beku dilebih-lebihkan oleh beberapa klinik.
Mereka juga mengingatkan bahwa perempuan tidak boleh memandang metode pengawetan kesuburan ini layaknya jaminan asuransi.
Di Inggris misalnya, penelitian berdasarkan data tahun 2016 oleh Otoritas Fertilisasi dan Embriologi Manusia menemukan bahwa dari seluruh telur beku yang dicairkan, terdapat 15% yang dibuahi dan dipindahkan.
Dari jumlah itu, hanya 13% yang berhasil hamil – total 22 kehamilan dari 1.204 telur yang dicairkan.
Usia ketika perempuan membekukan sel telurnya menjadi salah satu kunci keberhasilan: Perempuan yang berusia di bawah 35 tahun memiliki peluang 18% untuk memiliki bayi ketika lima sel telur mereka dibekukan.
Peluang itu menurun menjadi 7% apabila perempuan itu telah berusia di atas 35 tahun saat pembekuan dilakukan.
Hasil itu juga dipengaruhi oleh seberapa banyak sel telur pasien yang dibekukan untuk benar-benar mendapatkan peluang terbaik.

Sumber gambar, Getty Images
Pada umumnya, dokter merekomendasikan agar pasien mengikuti beberapa siklus pembekuan telur (jumlah telur yang diambil dalam setiap siklus berbeda-beda, dengan rata-rata 15 sel telur untuk perempuan di bawah 35 tahun, dan enam sel telur untuk perempuan berusia di atas 42 tahun).
Namun, proses itu tentu menambah biaya sehingga tidak terjangkau bagi banyak orang. (BBC memiliki rincian lebih detil mengenai tingkat pembekuan telur di sini).
Dengan biaya pembekuan sel telur yang mahal dan tingkat keberhasilan yang rendah, itu berarti bahwa sejumlah perempuan membayar harga yang signifikan demi meningkatkan peluang mereka untuk menjadi ibu.
Ada kekhawatiran bahwa beberapa klinik mengambil keuntungan dari perempuan-perempuan yang mengkhawatirkan kesuburan mereka, tanpa menjelaskan secara utuh soal peluang kehamilan yang realistis setelah pembekuan sel telur.
“Ada rasa aman yang salah bahwa perempuan yang membekukan sel telurnya akan mendapatkan embrio yang sehat dan kelahiran hidup,” kata King.
“Saya pikir klinik-klinik harus menjelaskan secara lebih baik realita dari prosesnya, tidak hanya dari sudut pandang fisik, namun juga secara emosional.”
'Saya bisa membiarkan hidup lebih mengalir'

Sumber gambar, Getty Images
Namun berdasarkan tren saat ini serta laporan anekdot, minat pada prosedur pembekuan sel telur masih tinggi meski situasi pandemi telah mereda.
Ini adalah sesuatu yang dalam jangka panjang dapat mengubah cara orang-orang merencanakan berkeluarga.
“Faktor kapan, berapa banyak, dengan siapa kita memiliki anak berdampak signifikan pada hampir seluruh aspek kehidupan dewasa kita – di mana kita tinggal, bekerja, bagaimana membelanjakan dan menyimpan uang, serta kesejahteraan fisik dan emosional kita,” kata Maslow dari Asosiasi Dokter Reproduksi di New Jersey, AS.
“Perencanaan reproduksi adalah bagian dari perencanaan hidup kita,” lanjut dia.
Maslow mengatakan ada kecenderungan lebih banyak perempuan baru menjadi ibu pada usia akhir 30-an dan awal 40-an.
King juga menambahkan, sejumlah perempuan merasa ada kebebasan yang tumbuh di lingkup karir serta bagaimana mereka merencanakan masa depan mereka.
Sebab, katanya, para perempuan itu merasa bahwa mereka memiliki kontrol atas kesuburan mereka, sesuatu yang tidak dirasakan oleh generasi sebelumnya.
Namun, King mengingatkan bahwa perasaan untuk bisa mengontrol itu kemungkinan besar dialami oleh individu kelas menengah ke atas, yang lebih mampu membayar untuk prosedur itu.
Selain itu, tentu saja, bahwa tidak semua orang yang membekukan sel telur akan berhasil dan rencana mereka bisa berjalan sesuai harapan.
Dalam kasus Pommer, pembekuan sel telur membuatnya tidak terlalu tertekan untuk mencari pasangan baru atau mendorong kariernya ke arah tertentu.
Saat ini dia bisa fokus pada bisnisnya yang sedang berkembang dengan tujuan untuk memiliki anak setelah situasinya lebih “tenang”.
“Saya bisa fleksibel di tempat saya tinggal sekarang dan saya bisa membiarkan hidup mengalir, alih-alih mencoba mengendalikannya untuk target tertentu,” ujar Pommer.
Versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudulThe sharp rise in egg freezingdapat Anda baca di BBC Worklife.









